Buku yang Tak Terbeli, Nyawa yang Tak Terganti
Radio Tangerang Heartline FM – Sebuah kabar duka dari Ngada, Nusa Tenggara Timur, menyentak kesadaran kita semua. Seorang anak sekolah dasar memilih untuk mengakhiri hidupnya, diduga karena beban mental akibat ketidakmampuan membeli buku sekolah. Peristiwa ini bukan sekadar berita tragis; ia adalah sebuah cermin retak yang menunjukkan betapa beratnya beban psikologis yang mungkin dipikul oleh anak-anak kita di tengah keterbatasan ekonomi.
Dalam program Cemilan Sore di Radio terbesar dan terpopuler di Tangerang Raya, Heartline 100.6 FM, fenomena ini dibedah bersama narasumber Ibu Monica Sulistiawati, Psikolog Klinis Anak dan Remaja di Bravely Brave Alam Sutera (www. bravelybrave.com) dan dipandu oleh Versiana Dewi dan Eva Kristine. Diskusi ini mengajak kita untuk melihat lebih jauh ke dalam “ruang gelap” pemikiran seorang anak yang merasa tidak memiliki jalan keluar.
Luka yang Tak Kasat Mata
Kemiskinan seringkali hanya dilihat sebagai masalah angka dan materi. Namun, bagi seorang anak, kemiskinan bisa bertransformasi menjadi rasa malu, perasaan tidak berharga, dan ketakutan akan masa depan. Ketika seorang anak merasa “berbeda” atau “kurang” dibandingkan teman-temannya karena tidak memiliki buku, sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar bisa berubah menjadi tempat yang penuh tekanan.
Ibu Monica memberikan pandangan yang sangat dalam mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam kesehatan mental anak-anak yang mengalami tekanan serupa.
“Anak-anak pada usia sekolah sedang membangun identitas dan rasa keberhargaan diri. Ketika mereka tidak mampu memenuhi tuntutan sekolah—meski itu hanya selembar buku—mereka bisa merasa gagal secara total sebagai seorang manusia.” Tutur Ibu Monica Sulistiawati, salah satu lulusan terbaik S1 Psikologi dan S2 Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat.
Dari pendapat bu Monica, kitab bisa menyimpulkan bawah masalah-masalah yang tampaknya kecil di mata orang dewasa, bisa jadi hal tersebut adalah masalah yang sangat besar bagi anak-anak. “Anak-anak belum memiliki mekanisme koping (cara mengatasi masalah) yang matang, sehingga rasa putus asa bisa datang dengan sangat cepat.” Tambah ibu Monica Sulistiawati, psikolog klinis anak dan remaja yang sudah berpraktek sejak tahun 2013 ini.
Karena itu, disarakankan oleh narasumber bahwa orang dewasa perlu menciptakan ruang di mana anak merasa aman untuk bicara tentang kesulitannya tanpa merasa akan dihakimi atau menambah beban orang tua. “Kehadiran emosional orang tua jauh lebih berharga daripada benda materi apa pun.” Imbuh Psikolog yang mendirikan lembaga konseling psikologis “Bravely Brave” ini. Bravely Brave dirancang khusus untuk kenyamanan anak, remaja, dan keluarga untuk mendapatkan konseling yang profesional.
Pentingnya Komunikasi
Dalam perbincangan di program Cemilan Sore di Radio Heartline, Radio terkenal di Tangerang Raya, narasumber mengatakan kalau anak perlu diajarkan bahwa nilai diri mereka tidak ditentukan oleh apa yang mereka miliki, namun ini hanya bisa terwujud jika lingkungan (keluarga dan masyarakat) memberikan dukungan moral yang kuat. Karena itu, komunikasi adalah kunci. Orang tua perlu membuka jalur komunikasi yang hangat agar anak berani mengungkapkan kegelisahannya, termasuk rasa malu atau takut yang berkaitan dengan kondisi ekonomi.
Tragedi di Ngada adalah pengingat keras bahwa nyawa seorang anak tidak boleh kalah harganya dari sebuah buku sekolah. Buku yang tak terbeli adalah kegagalan sistem, namun nyawa yang tak terganti adalah duka kemanusiaan.
Mari kita lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Terkadang, satu pelukan atau kata-kata penguatan, “Kamu lebih berharga dari apapun,” bisa menjadi cahaya kecil yang menghalau niat gelap di hati seorang anak.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
