Virus Nipah: Apa Itu, Gejalanya dan Langkah Pencegahan
Radio Tangerang Heartline FM – Virus Nipah kembali mencuat dan menjadi perbincangan di berbagai media. Banyak masyarakat bertanya-tanya: seberapa berbahayakah virus ini? Apakah Indonesia berisiko? Dan apa yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya?
Dalam sebuah talkshow kesehatan Radio Heartline bersama dr. Anita Nur Karisma,Sp.P, AIFO-K (Dokter Spesialis Paru), dijelaskan secara lengkap mengenai virus Nipah, mulai dari asal-usul, cara penularan, hingga langkah pencegahannya.
Asal-usul Virus Nipah
Pada masa itu Virus Nipah bukanlah virus baru. Virus ini pertama kali ditemukan pada tahun 1998–1999 di Malaysia, tepatnya di sekitar Sungai Nipah. Dari situlah nama “Nipah” berasal. Pada masa itu, virus Nipah sempat menyebabkan outbreak di Malaysia, lalu kasusnya menurun dan seolah menghilang. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, virus ini kembali terdeteksi di beberapa negara Asia seperti India, Malaysia, dan Singapura. Hingga saat ini, Indonesia belum melaporkan adanya kasus penularan pada manusia. Meski demikian, penelitian menunjukkan bahwa antibodi virus Nipah telah ditemukan pada hewan reservoir, terutama kelelawar buah, yang juga hidup di wilayah Indonesia.
Cara Penularan Virus Nipah
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, artinya dapat menular dari hewan ke manusia, bahkan antarmanusia. Penularannya dapat terjadi melalui:
- Konsumsi buah yang sudah terbuka atau tergigit kelelawar, terutama buah yang jatuh atau tidak terlindungi.
- Produk aren atau gula aren mentah yang terkontaminasi oleh air liur kelelawar.
- Kontak langsung dengan cairan tubuh hewan seperti air liur, darah, atau urin dari hewan yang terinfeksi (kelelawar, babi, kuda, sapi, domba).
- Kontak dengan manusia yang terinfeksi, melalui droplet atau cairan tubuh.
Karena itu, masyarakat sangat dianjurkan tidak mengonsumsi buah yang sudah terbuka, meskipun buah tersebut direbus atau dimasak terlebih dahulu.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
