13 August 2026
Pendeta Sukirno Tarjadi saat memberikan pemaparan materi rohani mengenai cara membaca tanda zaman tanpa ketakutan dalam program Let Us Reason Together di Radio Heartline FM

Membaca Tanda Zaman: Berjaga-jaga Tanpa Ketakutan

Radio Tangerang Heartline FM — Pembahasan mengenai akhir zaman selalu menarik perhatian umat Kristen. Di satu sisi, Alkitab berbicara tentang berbagai tanda yang akan menyertai zaman menjelang kedatangan Kristus. Namun di sisi lain, pembicaraan tentang akhir zaman juga dapat menimbulkan ketakutan, spekulasi, bahkan ramalan-ramalan mengenai tanggal kedatangan Tuhan.

Dalam program Let Us Reason Together, Pendeta Sukirno Tarjadi mengajak umat Kristen untuk melihat tema akhir zaman secara lebih bijaksana. Menurutnya, fokus orang percaya seharusnya bukan pada rasa takut terhadap berbagai peristiwa dunia, melainkan pada bagaimana tetap setia kepada Kristus sambil membaca zaman dengan benar.

Akhir zaman dan zaman akhir

Salah satu pertanyaan awal yang muncul adalah mengenai istilah “akhir zaman” dan “zaman akhir”.

Dalam pemaparannya, Pendeta Sukirno menjelaskan bahwa dalam perspektif Alkitab, “hari-hari terakhir” bukan hanya menunjuk pada masa yang sangat dekat dengan kiamat. Periode tersebut telah dimulai sejak zaman gereja mula-mula. Ia mengaitkannya antara lain dengan peristiwa pencurahan Roh Kudus yang dijelaskan Rasul Petrus dalam Kisah Para Rasul 2.

Dengan demikian, orang percaya saat ini tidak sedang menunggu dimulainya akhir zaman, melainkan hidup di dalam periode yang oleh Perjanjian Baru disebut sebagai hari-hari terakhir.

Pertanyaannya kemudian bukan semata-mata, “Kapan dunia berakhir?” tetapi, “Bagaimana kita harus hidup di tengah zaman seperti ini?”

Membaca tanda-tanda zaman

Yesus sendiri pernah menegur orang-orang Farisi dan Saduki karena mereka mampu membaca tanda-tanda alam, tetapi tidak mampu membaca tanda-tanda zaman.

Dalam Matius 16:1–3, Yesus berkata bahwa mereka dapat mengetahui keadaan cuaca dengan memperhatikan langit, tetapi tidak memahami tanda-tanda zaman.

Menurut Pendeta Sukirno, teguran tersebut relevan bagi gereja masa kini. Orang Kristen dipanggil bukan untuk menjadi peramal masa depan, melainkan menjadi orang yang peka terhadap keadaan zaman dan mampu meresponsnya berdasarkan firman Tuhan.

Ia kemudian menguraikan empat bidang yang menurutnya perlu diperhatikan ketika membicarakan tanda-tanda akhir zaman.

  1. Bencana dan pergolakan dunia

Matius 24:4–8 menyebut perang, kelaparan, dan gempa bumi sebagai bagian dari berbagai peristiwa yang akan terjadi.

Karena itu, perang dan berbagai krisis kemanusiaan di dunia perlu menjadi perhatian. Namun, Yesus juga memberikan peringatan penting: semua itu “barulah permulaan penderitaan.”

Artinya, orang percaya tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa setiap perang, gempa bumi, atau bencana tertentu merupakan bukti bahwa kiamat akan terjadi dalam waktu dekat.

Peristiwa-peristiwa tersebut seharusnya mendorong umat percaya untuk semakin berjaga-jaga, bukan semakin panik.

  1. Kegerakan sekaligus tantangan di dalam gereja

Matius 24:9–14 menggambarkan berbagai hal yang akan terjadi di tengah kehidupan umat percaya: penganiayaan, kemurtadan, nabi-nabi palsu, kasih yang menjadi dingin, tetapi juga pemberitaan Injil kepada seluruh dunia.

Menariknya, gambaran tersebut memperlihatkan dua sisi sekaligus.

Di satu sisi, gereja menghadapi tekanan, penyesatan dan kemurtadan. Di sisi lain, Injil terus diberitakan dan mengalami pertumbuhan di berbagai tempat.

Karena itu, pertumbuhan jumlah orang yang mengaku Kristen tidak otomatis berarti seluruh orang tersebut memiliki iman yang sama kuat. Tekanan dan tantangan justru dapat memperlihatkan kualitas iman seseorang.

Pesannya jelas, gereja harus bertumbuh secara kuantitatif sekaligus semakin dewasa secara rohani.

  1. Perhatian terhadap Timur Tengah

Bagian berikutnya adalah Timur Tengah. Pendeta Sukirno mengaitkannya dengan Matius 24:15–28 yang berbicara tentang “pembinasa keji”, kesengsaraan besar, serta munculnya mesias-mesias dan nabi-nabi palsu.

Karena itu, menurutnya, perkembangan di Timur Tengah merupakan salah satu kawasan yang patut diperhatikan ketika membahas nubuatan Alkitab.

Namun, perhatian terhadap Timur Tengah tidak berarti setiap konflik politik di kawasan tersebut dapat langsung disebut sebagai penggenapan nubuatan tertentu. Pembacaan nubuatan membutuhkan kehati-hatian, konteks Alkitab yang menyeluruh, serta sikap rendah hati terhadap hal-hal yang belum dinyatakan secara pasti.

  1. Tanda-tanda di langit

Matius 24:29–31 juga menggambarkan tanda-tanda kosmis sebelum kedatangan Anak Manusia.

Matahari menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, dan kuasa-kuasa langit digoncangkan. Kemudian Anak Manusia datang dengan kuasa dan kemuliaan.

Bagi Pendeta Sukirno, bagian ini mengingatkan bahwa puncak pembicaraan tentang akhir zaman bukanlah kehancuran dunia, melainkan kedatangan Kristus kembali.

Inilah yang seharusnya menjadi pusat pengharapan orang percaya.

Jangan takut, tetapi berjaga-jaga

Salah satu pesan terpenting dalam pembahasan tersebut adalah bahwa berita tentang akhir zaman tidak seharusnya membuat orang Kristen hidup dalam ketakutan.

Ada beberapa respons yang keliru terhadap isu akhir zaman. Pertama, tidak peduli sama sekali. Ada orang yang memilih tidak memikirkan akhir zaman karena menganggap topik tersebut terlalu rumit atau tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Kedua, mengejek dan tidak percaya. 2 Petrus 3:3–4 menggambarkan orang-orang yang mempertanyakan janji kedatangan Tuhan karena merasa segala sesuatu berjalan seperti biasa. Ketiga, terlalu terobsesi.

Ini terjadi ketika seseorang begitu terfokus pada tanda-tanda akhir zaman sampai melakukan prediksi tanggal kedatangan Kristus, menyebarkan kepanikan, atau bahkan menghentikan tanggung jawab sehari-hari.

Padahal Yesus tidak memberikan tanggal kedatangan-Nya kepada manusia. Karena itu, respons yang benar adalah berjaga-jaga dan tetap sadar tanpa menjadi takut.

Lima hal yang perlu dijaga

Jika orang percaya memahami bahwa zaman ini menuntut kewaspadaan, lalu apa yang harus dilakukan?

Pendeta Sukirno memberikan lima hal praktis.

  1. Menjaga iman

Matius 24:13 mengatakan bahwa orang yang bertahan sampai kesudahannya akan diselamatkan.

Karena itu, iman harus terus dipelihara. Iman bukan sekadar sesuatu yang diakui secara lisan, tetapi harus menjadi dasar kehidupan.

Ketekunan dalam firman, doa, dan persekutuan menjadi bagian penting dalam membangun iman yang kuat.

  1. Menjaga pelayanan

Perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25 mengingatkan bahwa setiap orang menerima sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.

Talenta, pengetahuan, harta, kesempatan, relasi, jabatan, dan kemampuan yang kita miliki tidak semata-mata diberikan untuk kepentingan pribadi.

Pertanyaannya adalah: Apa yang Tuhan ingin kita lakukan dengan semua yang telah dipercayakan kepada kita?

Menunggu kedatangan Kristus bukan berarti berhenti bekerja. Justru selama masih memiliki kesempatan, orang percaya dipanggil untuk tetap berkarya dan melayani.

  1. Menjaga kekudusan

1 Yohanes 3:2–3 menghubungkan pengharapan akan kedatangan Kristus dengan kehidupan yang semakin kudus.

Menanti Kristus bukan alasan untuk hidup sembarangan. Sebaliknya, pengharapan tersebut seharusnya mendorong orang percaya untuk semakin serius meninggalkan dosa.

Musa dalam Ibrani 11 digambarkan memilih menderita bersama umat Allah daripada menikmati kesenangan dosa untuk sementara.

Dengan demikian, kekudusan sering kali menuntut pilihan yang tidak mudah.

  1. Menjaga persekutuan

Ibrani 10:25 mengingatkan orang percaya untuk tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah dan terus saling menasihati, terlebih ketika hari Tuhan semakin dekat.

Menurut Pendeta Sukirno, salah satu bahaya kehidupan Kristen modern adalah menjadi “Kristen single fighter”—merasa mampu menjalani kehidupan iman seorang diri.

Teknologi digital memang memungkinkan seseorang mengikuti berbagai khotbah dan ibadah secara daring. Namun, persekutuan dengan orang lain tetap penting.

Manusia membutuhkan komunitas untuk saling menguatkan, menegur, mendoakan, dan berjalan bersama.

  1. Menjaga penginjilan

Matius 24:14 menyatakan bahwa Injil kerajaan akan diberitakan ke seluruh dunia sebagai kesaksian bagi semua bangsa, dan sesudah itu barulah tiba kesudahannya.

Karena itu, gereja tidak boleh hanya sibuk berkumpul di dalam komunitas sendiri.

Persekutuan harus menghasilkan pengutusan.

Orang percaya dipanggil untuk datang kepada Kristus, diperlengkapi, lalu pergi menjangkau orang lain.

Jangan menjadi Kristen yang hanya hidup dalam “zona nyaman”

Persekutuan memang penting, tetapi persekutuan juga tidak boleh berubah menjadi zona nyaman.

Jika seseorang hanya bergaul dengan orang-orang yang memiliki pemikiran, keyakinan, dan latar belakang yang sama, ia dapat kehilangan kesempatan untuk memahami dan menjangkau mereka yang belum mengenal Kristus.

Karena itu, kehidupan Kristen membutuhkan keseimbangan: ke dalam dan ke luar. Ke dalam untuk dikuatkan. Ke luar untuk melayani dan memberitakan Injil.

Dengan demikian, gereja bukan tempat untuk bersembunyi dari dunia, melainkan tempat umat Tuhan diperlengkapi untuk hadir dan menjadi kesaksian di tengah dunia.

Mengapa Tuhan belum datang?

Pertanyaan lain yang muncul adalah: jika Tuhan sudah mengetahui kapan akhir zaman akan tiba, mengapa tanggalnya tidak diberitahukan kepada manusia?

Salah satu alasannya dapat dipahami dari sifat manusia. Jika tanggal kedatangan Kristus diketahui secara pasti, manusia bisa saja menunda pertobatan sampai saat-saat terakhir.

Namun, 2 Petrus 3:9 memberikan penjelasan yang jauh lebih mendalam: Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, melainkan sabar karena Ia menghendaki agar manusia tidak binasa, tetapi berbalik dan bertobat. Dengan demikian, penundaan bukan berarti Tuhan lupa atau tidak berkuasa.

Kesabaran Tuhan adalah kesempatan bagi manusia untuk bertobat. Karena itu, gereja seharusnya tidak hanya bertanya, “Kapan Tuhan datang?” tetapi juga bertanya, “Siapa yang masih perlu mendengar Injil sebelum hari itu tiba?”

Mempersiapkan diri sekaligus menjangkau dunia

Ketika ditanya apakah orang Kristen sebaiknya fokus mempersiapkan diri atau berusaha mengubah dunia, jawabannya bukan memilih salah satu.

Keduanya harus berjalan bersama.

Orang percaya perlu membereskan kehidupannya sendiri—menjaga iman, kekudusan, pelayanan, dan persekutuan. Namun pada saat yang sama, ia juga dipanggil untuk memperhatikan orang-orang yang belum mengenal Kristus.

Dengan kata lain, persiapan diri dan misi tidak boleh dipisahkan. Semakin sadar bahwa waktu terbatas, semakin serius pula kita menggunakan waktu untuk melakukan kehendak Tuhan.

Akhir zaman bukan alasan untuk berhenti hidup

Pembicaraan tentang akhir zaman terkadang membuat orang bertanya: apakah semua usaha di dunia ini masih berarti jika suatu hari semuanya akan berakhir?Justru sebaliknya. Karena waktu terbatas, kehidupan menjadi semakin berharga :

  1. Kita tetap bekerja
  2. Tetap melayani.
  3. Tetap membangun keluarga.
  4. Tetap mengasihi sesama.
  5. Tetap memberitakan Injil.
  6. Tetap menjaga kekudusan.
  7. Dan tetap melakukan apa yang Tuhan percayakan.

Orang Kristen tidak dipanggil untuk menebak tanggal kedatangan Kristus. Orang Kristen dipanggil untuk setia ketika Kristus datang.

Hidup serius, bukan hidup dalam ketakutan

Membaca tanda zaman bukanlah usaha untuk menemukan tanggal kiamat. Membaca tanda zaman berarti menyadari bahwa kehidupan ini memiliki arah dan tujuan di bawah kedaulatan Tuhan.

Perang, krisis, bencana, penyesatan, perubahan sosial, dan berbagai pergumulan dunia dapat menjadi pengingat bahwa manusia tidak memiliki kendali penuh atas masa depan. Namun, bagi orang percaya, akhir zaman bukan terutama berita tentang kehancuran. Itu adalah berita tentang pengharapan, Kristus akan datang kembali.

Karena itu, respons terbaik bukanlah ketakutan, bukan pula ketidakpedulian dan bukan obsesi terhadap ramalan. Respons terbaik adalah berjaga-jaga, tetap setia, hidup kudus, bersekutu, melayani, dan memberitakan Injil.

Seperti pesan yang disampaikan dalam pembahasan tersebut: jangan menjalani hidup seolah-olah dunia akan berlangsung selamanya. Hiduplah sungguh-sungguh. Hiduplah dengan sadar. Hiduplah dengan melihat zaman. Dan terutama, hiduplah setia kepada Kristus sampai kesudahannya.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=cCsawGHVs1s

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: