20 August 2026

Sanjungan Itu Bukan Untukmu, Belajarlah Tetap Rendah Hati

Radio Tangerang Heartline FM — Sanjungan dan pujian kerap membuat seseorang merasa dihargai dan diakui. Namun, ketika diterima secara berlebihan, sanjungan justru dapat membuat seseorang lupa bahwa jabatan, kekuasaan, prestasi, maupun perhatian dari orang lain pada dasarnya bersifat sementara.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Wisdom of the Day bersama Pak Sus Bandono dan Eva Kristine di 100,6 Heartline Radio, Senin (19/1/2026). Mengangkat tema “Sanjungan Itu Bukan Untukmu”, keduanya mengajak pendengar untuk melihat pujian secara lebih bijaksana dan tidak mudah terlena oleh perlakuan istimewa.

Dalam perbincangan tersebut, Pak Sus Bandono menceritakan sebuah kisah tentang seorang mantan Wakil Menteri Pertahanan Amerika Serikat yang kembali menghadiri konferensi setelah tidak lagi menjabat. Ketika masih menduduki jabatan, ia mendapatkan berbagai fasilitas istimewa, mulai dari penerbangan kelas satu, penjemputan di bandara, hingga fasilitas khusus di tempat acara.

Namun, ketika kembali hadir setelah tidak menjabat, perlakuan yang diterimanya berubah drastis. Ia harus menggunakan penerbangan kelas ekonomi, tidak dijemput di bandara, menggunakan taksi sendiri menuju hotel, serta mendapatkan fasilitas yang jauh lebih sederhana.

Meski orangnya sama dan acara yang dihadirinya kurang lebih serupa, perlakuan yang diterima ternyata berbeda. Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa berbagai keistimewaan yang pernah diterimanya bukan semata-mata ditujukan kepada dirinya sebagai pribadi, melainkan kepada jabatan dan posisi yang saat itu disandangnya.

Jabatan dan sanjungan tidak bersifat abadi

Pak Sus menekankan bahwa kehidupan terus berubah. Seseorang tidak akan selamanya berada dalam posisi yang sama dan menikmati perhatian yang sama.

“Tidak ada yang abadi di dunia ini,” menjadi salah satu pesan penting dalam pembahasan tersebut. Karena itu, ketika seseorang sedang memperoleh jabatan, prestasi, pujian, atau sanjungan, ia tidak seharusnya terburu-buru merasa hebat.

Sebaliknya, pujian sebaiknya diterima dengan rendah hati, rasa syukur, dan kesabaran. Sebab, bisa saja sanjungan muncul bukan semata-mata karena kualitas pribadi seseorang, tetapi karena pengaruh atau kekuasaan yang sedang dimilikinya. Ketika pengaruh tersebut hilang, sanjungan dan perlakuan istimewa yang menyertainya pun dapat ikut menghilang.

Menurut Pak Sus, kondisi tersebut tidak hanya berlaku bagi pejabat atau pemimpin. Setiap orang berpotensi mengalaminya dalam lingkungan pekerjaan, organisasi, maupun kehidupan sosial.

Ia bahkan membagikan pengalamannya ketika pernah berhenti dari pekerjaan. Saat masih menjadi atasan, ia mendapatkan perlakuan berbeda dari timnya. Namun, setelah tidak lagi memegang jabatan, sikap orang-orang yang sebelumnya berada di bawah kepemimpinannya pun berubah.

Sanjungan berlebihan dapat membuat seseorang “mabuk”

Dalam pembahasan tersebut, Eva Kristin juga menyoroti fenomena ketika seseorang terlalu mudah memuji atau menyanjung tokoh tertentu. Menurut Pak Sus, sanjungan tidak selalu lahir dari ketulusan.

Ada sanjungan yang diberikan karena kekaguman terhadap prestasi seseorang, tetapi ada pula yang muncul karena kepentingan tertentu. Salah satunya dikenal dengan istilah ABS atau “Asal Bapak Senang”, yang dalam praktiknya dapat mengarah pada perilaku menjilat atau mencari muka.

Masalahnya, seseorang yang terlalu terbiasa menerima sanjungan dapat kesulitan membedakan mana pujian yang tulus dan mana yang memiliki kepentingan tertentu.

Ketika seseorang sudah “mabuk” sanjungan, ia dapat dengan mudah menganggap dirinya hebat tanpa melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri.

“Semua yang berlebihan itu membuat orang mabuk,” jelas Pak Sus dalam perbincangan tersebut.

Karena itu, baik orang yang memberikan pujian maupun orang yang menerimanya sama-sama perlu menjaga batas. Pujian terhadap sebuah prestasi tetap penting sebagai bentuk penghargaan atau recognition, tetapi hendaknya tidak diberikan secara berlebihan.

Pujian yang tepat tetap diperlukan

Meski mengingatkan bahaya sanjungan berlebihan, pembahasan tersebut tidak berarti bahwa setiap pujian harus dihindari. Pujian yang diberikan secara tepat dan berdasarkan fakta justru dapat menjadi bentuk penghargaan yang positif.

Seorang atasan, misalnya, dapat memberikan apresiasi kepada bawahannya yang berhasil mencapai prestasi tertentu. Pujian tersebut dapat menjadi motivasi agar seseorang mempertahankan atau meningkatkan kinerjanya.

Yang perlu dihindari adalah ketika pujian berubah menjadi sanjungan yang berlebihan dan tidak lagi sesuai dengan kenyataan.

Karena itu, prinsip “sak madyo”, yang dalam bahasa Jawa berarti secukupnya atau sewajarnya, menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan Pak Sus. Baik dalam memuji maupun ketika menerima pujian, semuanya perlu dilakukan dengan sewajarnya.

Jangan terlena dengan kekuasaan

Sebagai penutup, Pak Sus Bandono menyampaikan sebuah pepatah Jawa yang mengingatkan manusia agar tidak menyalahgunakan kekuasaan.

“Ojo dumeh kuoso,” yang berarti jangan mentang-mentang berkuasa kemudian bertindak semena-mena terhadap sesama.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi siapa saja, bukan hanya mereka yang sedang menduduki jabatan. Kekuasaan, popularitas, prestasi, maupun penghargaan dari orang lain tidak akan berlangsung selamanya.

Karena itu, ketika sedang berada di atas, seseorang perlu tetap rendah hati dan menyadari bahwa suatu saat keadaan dapat berubah. Begitu pula ketika memberikan pujian, hendaknya dilakukan dengan tulus dan proporsional.

Pada akhirnya, sanjungan bukanlah sesuatu yang harus dikejar atau dijadikan ukuran harga diri. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang tetap mampu menjaga sikap, melakukan introspeksi, bersyukur, dan menggunakan setiap kesempatan yang dimiliki dengan bijaksana.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=Vwo-mbr6PNs

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: