Bukan Sekadar Pikun, Kenali Gejala dan Cara Menjaganya Sejak Dini
Radio Tangerang Heartline FM — Lupa menaruh barang, lupa janji, atau sesekali lupa tujuan ketika masuk ke sebuah ruangan sering dianggap sebagai hal yang wajar. Namun, ketika penurunan daya ingat mulai mengganggu kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih serius. Dalam sebuah talkshow radio Heartline pada selasa (15/09), dr. Profitasari Kusumaningrum, Sp.KJ, Subsp.Ger.(K) menjelaskan bahwa demensia tidak sama dengan pikun biasa. Demensia merupakan penurunan kemampuan otak yang melibatkan lebih dari satu aspek kognitif dan sudah berdampak terhadap aktivitas sehari-hari.
“Demensia itu bukan cuma sekadar lupa-lupa saja, tetapi juga menurunnya kemampuan otak yang lain,” jelas dr. Profitasari dalam wawancara tersebut.
Demensia kerap disamakan dengan Alzheimer. Padahal, keduanya memiliki pengertian berbeda. Alzheimer merupakan salah satu penyebab demensia yang paling sering ditemukan. Selain Alzheimer, demensia juga dapat disebabkan oleh kondisi lain, termasuk gangguan pembuluh darah di otak akibat stroke yang dikenal sebagai demensia vaskular.
Demensia juga memiliki beberapa tahapan. Penurunan kemampuan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berkembang secara bertahap, mulai dari perubahan ringan hingga kondisi yang menyebabkan seseorang sangat bergantung pada orang lain dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kapan Lupa Mulai Perlu Diwaspadai?
Tidak semua lupa merupakan tanda demensia. Lupa sesekali, kemudian mampu mengingat kembali informasi tersebut, masih dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang mulai berulang kali menanyakan hal yang sama, mudah tersesat di tempat yang sebenarnya sudah familiar, atau mengalami kesulitan mengikuti resep dan instruksi yang sebelumnya dapat dilakukan.
Menurutnya, salah satu pembeda penting adalah kemampuan yang sebelumnya dimiliki mulai menurun dan akhirnya mengganggu aktivitas sehari-hari. Untuk itu, keluarga perlu memperhatikan perubahan perilaku dan kemampuan orang tua atau anggota keluarga lanjut usia, bukan sekadar menganggapnya sebagai konsekuensi normal dari pertambahan usia.
Demensia Tidak Hanya Terjadi pada Lansia
Demensia memang lebih banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut, terutama mereka yang berusia 60 tahun ke atas. Namun, kondisi ini tidak sepenuhnya terbatas pada lansia. Dalam kasus tertentu, demensia dapat muncul pada usia yang lebih muda. Faktor genetik, misalnya, dapat berperan pada sebagian kasus Alzheimer. Meski demikian, memiliki anggota keluarga dengan demensia tidak berarti seseorang pasti akan mengalami kondisi yang sama.
Sebagian besar kasus disebut bersifat multifaktorial, sehingga faktor genetik dapat berinteraksi dengan berbagai faktor lainnya, termasuk gaya hidup.
Polusi Udara hingga Rokok Jadi Perhatian
Pencegahan demensia tidak hanya berkaitan dengan aktivitas otak. Gaya hidup juga menjadi bagian penting. Ia menyoroti paparan polusi udara, terutama partikel PM2,5, sebagai salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Paparan polusi disebut bersifat kumulatif dan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko demensia.
“ Rokok juga menjadi perhatian karena mengandung berbagai zat beracun yang dapat meningkatkan radikal bebas dan berdampak terhadap kondisi kognitif,” ujarnya.
Selain itu, pola makan juga perlu diperhatikan. Konsumsi makanan olahan atau ultra-proses secara berlebihan disebut sebagai salah satu hal yang perlu diwaspadai dalam upaya menjaga kesehatan otak.
Kesepian dan Kurangnya Aktivitas Sosial Juga Perlu Diperhatikan
Menjaga kesehatan otak ternyata tidak hanya dilakukan dengan membaca atau mengerjakan aktivitas yang dianggap “melatih otak”. Kesepian dan isolasi sosial juga disebut dapat menjadi faktor risiko. Kondisi tersebut terlebih perlu diperhatikan apabila berkembang menjadi depresi.
Oleh karena itu, lansia sebaiknya tetap memiliki aktivitas yang disukai. Membaca dapat menjadi salah satu pilihan, tetapi bukan satu-satunya. Bersosialisasi, berolahraga, mengikuti kegiatan sosial, maupun melakukan hobi yang disukai juga dapat membantu menjaga aktivitas dan cadangan kognitif.
Yang terpenting, kegiatan tersebut tidak perlu dipaksakan. Lansia justru dianjurkan tetap aktif melalui kegiatan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Jangan Menunggu Tua untuk Mulai Mencegah
Salah satu pesan penting dalam wawancara tersebut adalah pencegahan sebaiknya dilakukan sejak lebih muda. Proses penyakit Alzheimer disebut dapat berlangsung selama sekitar 15 hingga 20 tahun sebelum gejala berkembang semakin berat. Karena itu, usia 30-an atau 40-an sudah dapat menjadi momentum untuk mulai memperhatikan faktor risiko dan menerapkan gaya hidup yang lebih sehat.
Artinya, menjaga kesehatan otak bukan hanya tugas orang yang sudah lanjut usia. Kebiasaan hidup yang dibangun sejak usia produktif juga menjadi bagian dari upaya menjaga fungsi otak dalam jangka panjang.
Untuk Alzheimer yang sudah menyebabkan penurunan fungsi, pengobatan selama ini lebih banyak ditujukan untuk memperlambat perjalanan penyakit dan mempertahankan fungsi yang masih dimiliki pasien.
Profitasari menjelasakan bahwa sejumlah obat baru yang ditujukan untuk menghambat progresivitas penyakit sedang dikembangkan, meski pada saat wawancara obat tersebut disebut masih dalam tahap penelitian, berbiaya tinggi, dan belum tersedia di Indonesia. Sementara itu, penanganan juga dapat mencakup pengobatan terhadap gejala penyerta seperti depresi, kecemasan, kegelisahan, atau halusinasi sesuai kondisi pasien.
Pemeriksaan Penting Dilakukan Sejak Gejala Muncul
Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami demensia, pemeriksaan dapat mencakup evaluasi fungsi kognitif. Pemeriksaan yang lebih lengkap juga dapat dilakukan melalui tes fungsi luhur.
Ia menyebut pemeriksaan dapat dilengkapi dengan pemeriksaan pencitraan seperti CT scan atau MRI, serta pemeriksaan lain sesuai kebutuhan. Pemeriksaan darah terkait beta amiloid juga disebut mulai tersedia sebagai bagian dari perkembangan pemeriksaan Alzheimer. Dengan pemeriksaan, dokter dapat melihat kondisi dan tingkat gangguan yang dialami pasien sehingga penanganan dapat disesuaikan.
Ketika seseorang telah didiagnosis mengalami demensia, keluarga tidak dianjurkan langsung mengambil alih seluruh aktivitasnya. Sebaliknya, kemampuan yang masih dimiliki pasien perlu dipertahankan. Jika masih mampu membaca, bermain catur, menonton televisi, bersosialisasi, mengikuti kegiatan keagamaan atau bermain bersama cucu, aktivitas tersebut tetap dapat dilakukan. Prinsipnya, keluarga membantu ketika memang dibutuhkan, tetapi tidak mengambil alih aktivitas yang sebenarnya masih mampu dilakukan pasien.
Caregiver Juga Perlu Dijaga
Merawat anggota keluarga dengan demensia bukan pekerjaan ringan. Pada kondisi yang sudah berat, caregiver dapat harus memberikan perhatian hampir sepanjang waktu.
Karena itu, caregiver dianjurkan mencari informasi sebanyak mungkin dan tidak menjalankan tanggung jawab seorang diri. Berbagi peran dengan anggota keluarga lain dapat membantu mengurangi risiko kelelahan dan burnout.
Pertemuan keluarga atau caregiver juga dapat menjadi ruang untuk bertukar pengalaman dan informasi mengenai cara menghadapi berbagai kondisi yang muncul selama proses perawatan.
Jangan Mengurung Lansia yang Sering Ingin Keluar
Salah satu perilaku yang dapat muncul pada demensia adalah keinginan berjalan atau keluar rumah tanpa tujuan yang jelas.
Mengurung lansia bukan satu-satunya solusi. Dokter menyarankan keluarga dapat membuat rutinitas aktivitas, seperti berjalan pagi, bepergian dengan kendaraan dalam jarak tertentu, atau melakukan aktivitas fisik sederhana di rumah.
Jika pasien memiliki kecenderungan tersesat, keluarga juga dapat memberikan identitas berupa gelang atau kalung yang mencantumkan nama dan nomor kontak keluarga. Identitas tersebut bahkan dapat dijahit pada pakaian apabila pasien tidak terbiasa menggunakan aksesori.
Demensia Bukan Bagian yang Pasti dari Proses Menua
Pertambahan usia memang dapat disertai penurunan fungsi tubuh, termasuk fungsi otak. Namun, tidak semua lansia akan mengalami demensia.
Pada penuaan normal, penurunan kemampuan cenderung berlangsung lebih perlahan dan tidak sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Sementara pada demensia, penurunan kemampuan dapat berlangsung lebih signifikan hingga menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan yang sebelumnya dimiliki.
Karena itu, perubahan daya ingat yang semakin sering, berulang, dan mulai mengganggu aktivitas sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai “pikun karena sudah tua”.
Mengenali gejala lebih awal, memeriksakan kondisi kepada tenaga medis, menjaga aktivitas fisik dan kognitif, mempertahankan hubungan sosial, serta mengendalikan faktor risiko menjadi langkah penting dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi seseorang selama mungkin.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
