Pengudusan dalam Kristus: Sudah Kudus, tetapi Terus Bertumbuh
Radio Tangerang Heartline FM — Pengudusan dalam Kristus menjadi salah satu pembahasan penting dalam rangkaian topik mengenai aplikasi karya pemilihan dan penebusan dalam Kristus. Dalam program Let Us Reason Together, Pendeta Dr. Christian J. Lasut menjelaskan bahwa pengudusan bukan sekadar tuntutan untuk menjadi orang baik, melainkan karya anugerah Allah yang nyata dalam kehidupan orang percaya.
Pengudusan memiliki hubungan erat dengan karya keselamatan. Setelah seseorang bertobat, percaya kepada Kristus, dan dipersatukan dengan-Nya, ia mengalami pembenaran sekaligus pengudusan. Jika pembenaran berbicara mengenai status orang percaya yang dinyatakan benar di hadapan Allah, maka pengudusan berbicara mengenai kehidupan yang semakin dipisahkan dari dosa dan semakin diarahkan kepada Allah.
Apa Arti Pengudusan?
Secara sederhana, pengudusan berarti dipisahkan untuk menjadi milik Allah dan digunakan bagi tujuan Allah. Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa istilah kudus memiliki pengertian sebagai sesuatu yang dipisahkan dari yang biasa dan diperuntukkan bagi Allah.
Dalam konteks kehidupan orang percaya, pengudusan berarti seseorang yang dahulu berada dalam dosa dipindahkan ke dalam Kristus. Ia tidak lagi hidup berdasarkan identitas lamanya dalam Adam, tetapi dipersatukan dengan Kristus dan kebenaran-Nya.
Dengan demikian, pengudusan bukan hanya berbicara mengenai perubahan perilaku dari buruk menjadi baik. Pengudusan pertama-tama menyangkut perubahan status dan identitas seseorang di dalam Kristus.
Sudah Kudus Secara Status
Salah satu hal penting yang disampaikan dalam pembahasan tersebut adalah adanya dua aspek pengudusan, yaitu pengudusan secara objektif atau definitif dan pengudusan secara subjektif atau progresif.
Pengudusan secara objektif berarti orang percaya telah ditetapkan kudus di dalam Kristus. Status tersebut merupakan karya Allah, bukan hasil usaha manusia. Ketika seseorang berada di dalam Kristus, kekudusan Kristus diperhitungkan baginya.
Hal ini juga digambarkan melalui sejumlah ayat Alkitab, antara lain 1 Korintus 1:2 yang menyebut orang percaya sebagai mereka yang telah dikuduskan dalam Kristus Yesus dan dipanggil menjadi orang-orang kudus.
Dengan kata lain, kekudusan bukan hanya gelar bagi orang-orang tertentu. Dalam perspektif yang dijelaskan dalam pembahasan tersebut, setiap orang yang berada di dalam Kristus memiliki status sebagai orang kudus.
Ibrani 10:10 juga digunakan untuk menegaskan bahwa orang percaya telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya melalui persembahan tubuh Yesus Kristus. Ini menunjukkan bahwa pengudusan secara status merupakan karya Allah yang bersifat definitif.
Namun, Kekudusan Juga Merupakan Proses
Meskipun seseorang telah memiliki status kudus di dalam Kristus, bukan berarti kehidupannya langsung sempurna dan bebas dari pergumulan.
Di sinilah aspek kedua dari pengudusan menjadi penting, yaitu pengudusan secara subjektif, progresif, dan eksperiensial. Artinya, kekudusan tersebut terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang percaya terus diproses, diubah, dan diperbarui sehingga semakin menyerupai Kristus.
Proses ini berlangsung sepanjang kehidupan. Orang percaya dipanggil untuk semakin mati terhadap dosa dan semakin hidup bagi Allah. Karena itu, perjalanan kekristenan bukanlah perjalanan yang selalu berjalan tanpa pergumulan. Ada proses pertumbuhan, pembelajaran, pertobatan, dan pembaruan.
Yesus sendiri berdoa dalam Yohanes 17:17, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; Firman-Mu adalah kebenaran.” Firman Tuhan menjadi salah satu sarana penting yang membentuk kehidupan orang percaya dalam proses pengudusan.
Kekudusan Bukan Syarat untuk Mendapatkan Keselamatan
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa seseorang harus hidup kudus terlebih dahulu agar dapat diselamatkan.
Materi pembahasan justru menekankan bahwa kekudusan bukanlah usaha untuk mendapatkan keselamatan. Kekudusan merupakan buah dari keselamatan yang telah diterima di dalam Kristus.
Karena seseorang telah diterima Allah di dalam Kristus, ia kemudian dipanggil untuk hidup dalam kekudusan. Jadi urutannya bukan “hidup kudus supaya diselamatkan”, melainkan “karena telah diselamatkan, maka hidup dalam kekudusan”.
Perbedaan ini penting agar kehidupan kekristenan tidak berubah menjadi usaha manusia untuk memperoleh penerimaan Allah.
Roh Kudus Menolong Orang Percaya Hidup Kudus
Pengudusan juga bukan sesuatu yang dapat dilakukan hanya dengan kekuatan manusia.
Dalam pembahasan tersebut dijelaskan bahwa Allah Tritunggal terlibat dalam karya pengudusan. Allah Bapa menjadi sumber dalam rencana keselamatan, Yesus Kristus menjadi dasar karya keselamatan dan pengudusan, sementara Roh Kudus mengaplikasikan karya tersebut dalam kehidupan orang percaya.
Karena itu, orang percaya perlu bergantung kepada pertolongan Roh Kudus. Firman Tuhan dan Roh Kudus tidak dapat dipisahkan. Firman memberikan kebenaran, sedangkan Roh Kudus menolong orang percaya memahami dan menerapkan kebenaran tersebut dalam kehidupan.
Hidup kudus bukan berarti mengandalkan kemampuan diri sendiri. Sebaliknya, orang percaya dipanggil untuk hidup dalam ketergantungan kepada Allah.
Bagaimana Menerapkan Pengudusan dalam Kehidupan?
Pengudusan harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu langkah yang ditekankan adalah memiliki kesadaran bahwa kekudusan merupakan karya Allah dalam Kristus.
Orang percaya juga dipanggil untuk tidak kembali diperbudak oleh dosa. Roma 6:11 menjadi salah satu dasar untuk menyadari bahwa dosa tidak seharusnya kembali berkuasa dalam kehidupan seseorang yang telah berada di dalam Kristus.
Selain itu, kehidupan orang percaya perlu diarahkan kepada pembaruan pikiran dan penyerahan diri kepada Allah. Roma 12:1-2 menggambarkan kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah serta pikiran yang terus diperbarui.
Ada pula beberapa sarana yang dapat digunakan dalam proses pengudusan, seperti membaca dan mempraktikkan firman Tuhan, bergantung kepada Roh Kudus, berdoa, hidup dalam persekutuan dengan sesama orang percaya, serta memiliki keberanian untuk menolak dosa.
Persekutuan dengan sesama orang percaya juga menjadi bagian penting. Amsal 27:17 menggambarkan bagaimana seseorang dapat menajamkan kehidupan orang lain, sebagaimana besi menajamkan besi.
Menyangkal Diri dan Mematikan Dosa
Hidup kudus juga membutuhkan keputusan yang nyata untuk menolak dosa.
Dalam pembahasan tersebut, istilah “mematikan” dosa digambarkan sebagai keputusan yang sadar, tegas, dan terus-menerus untuk tidak memberikan ruang bagi dosa. Orang percaya dipanggil untuk menyangkal diri dan memikul salib dalam mengikut Kristus.
Ini berarti kekudusan bukan sekadar keinginan atau perasaan. Ada tindakan nyata untuk meninggalkan sesuatu yang bertentangan dengan firman Tuhan.
Namun, proses tersebut tidak berarti seseorang tidak pernah jatuh. Justru perjalanan pengudusan berlangsung di tengah pergumulan kehidupan.
Ketika Jatuh, Kembali kepada Tuhan
Salah satu pertanyaan penting dalam pembahasan adalah apa yang harus dilakukan ketika seseorang kembali jatuh ke dalam dosa setelah berusaha hidup kudus.
Jawabannya adalah bertobat dan kembali kepada Tuhan.
Gambaran anak bungsu yang kembali kepada bapanya digunakan untuk menjelaskan bagaimana seseorang yang telah jauh dapat kembali kepada Bapa. Pertobatan menjadi bagian penting dalam perjalanan pengudusan.
Kegagalan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mengejar kekudusan. Sebaliknya, ketika jatuh, orang percaya dipanggil untuk bangkit, bertobat, dan kembali membangun kehidupan yang berkenan kepada Tuhan.
Kekudusan yang Bertumbuh
Kehidupan kudus bukanlah kesempurnaan instan. Pengudusan merupakan pertumbuhan seumur hidup. Orang percaya telah memiliki status kudus di dalam Kristus, tetapi pada saat yang sama masih terus diproses untuk semakin menyerupai Kristus.
Karena itu, perjalanan iman dapat memiliki pergumulan. Yang menjadi perhatian bukan sekadar apakah seseorang pernah jatuh, tetapi apakah ia terus kembali kepada Tuhan dan bertumbuh dalam kekudusan.
Dalam pembahasan tersebut bahkan digunakan gambaran seorang anak yang semakin hari semakin menyerupai orang tuanya. Demikian pula orang yang telah menjadi anak-anak Allah seharusnya semakin mencerminkan karakter Allah dalam kehidupannya.
Kekudusan Membawa Kita Menikmati Allah
Pengudusan pada akhirnya bukan hanya tentang menghindari dosa, tetapi juga tentang menikmati hubungan dengan Allah.
Ketika orang percaya bertumbuh dalam kekudusan, ia semakin menikmati firman Tuhan, pertolongan Tuhan, dan karya Roh Kudus dalam hidupnya. Karena itu, kehidupan kudus bukan beban yang harus dijalani demi mendapatkan keselamatan, melainkan respons syukur karena telah menerima keselamatan di dalam Kristus.
Seperti seorang anak yang hidup karena mendapat makanan dan minuman dari orang tuanya, orang percaya juga digambarkan memiliki “lapar dan haus” terhadap Tuhan dan firman-Nya. Firman Tuhan dan Roh Kudus menjadi bagian penting dalam pertumbuhan kehidupan rohaninya.
Pada akhirnya, pengudusan mengingatkan orang percaya bahwa ia sudah dikuduskan di dalam Kristus sekaligus sedang terus dikuduskan dalam perjalanan hidupnya.
Kekudusan bukan jalan untuk mendapatkan keselamatan, melainkan buah dari keselamatan. Bukan usaha untuk mendapatkan kasih Allah, melainkan respons karena telah menerima kasih dan anugerah-Nya.
Karena itu, ketika jatuh, jangan berhenti. Ketika gagal, bertobatlah. Ketika lemah, bergantunglah kepada Roh Kudus. Dan ketika bertumbuh, teruslah mengejar kekudusan.
Sebab panggilan orang percaya bukan hanya untuk mengetahui bahwa dirinya telah berada di dalam Kristus, tetapi juga untuk menjalani kehidupan yang semakin hari semakin menyerupai Kristus.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
