02 October 2026
Psikoedukator Rinda Ambarita membahas tips mengatasi stres pengasuhan dan parenting burnout di program Sketsa Keluarga Indonesia

Orang Tua Bahagia, Anak Bahagia: Kenali dan Atasi Parenting Burnout

Radio Tangerang Heartline FM – Menjadi orang tua merupakan peran yang penuh tanggung jawab. Di tengah tuntutan mengasuh, mendidik, bekerja, dan mengurus keluarga, orang tua dapat mengalami kelelahan yang bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga mental dan emosional.

Kondisi tersebut dikenal sebagai parenting burnout, yakni kelelahan yang muncul akibat stres pengasuhan yang berlangsung dalam waktu lama dan tidak dikelola dengan baik.

Psikoedukator dan konselor Rinda Ambarita, S.E.,M.Si, menjelaskan parenting burnout berbeda dengan kelelahan fisik biasa. Jika kelelahan fisik dapat berkurang setelah seseorang mendapatkan istirahat yang cukup, burnout dapat tetap terasa meskipun tubuh sudah beristirahat.

“Parenting burnout itu bukan cuma kelelahan fisik biasa, tapi sudah stres kronis, gabungan dari kelelahan fisik, mental, dan emosional yang sudah terakumulasi,” ujar Rinda dalam perbincangan di program Sketsa Keluarga Indonesia.

Menurutnya, beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain mudah tersinggung, gampang marah terhadap persoalan sederhana, serta mulai mengalami hambatan dalam berkomunikasi dengan pasangan maupun anak.

Kelelahan mental juga dapat ditandai dengan perasaan tetap lelah meskipun sudah cukup beristirahat. Dalam kondisi tertentu, orang tua dapat merasa hampa atau putus asa karena tidak mampu menemukan cara untuk melepaskan beban emosional yang menumpuk.

Tidak Hanya Dialami Orang Tua dengan Anak Kecil

Rinda menegaskan, parenting burnout tidak hanya dialami orang tua yang memiliki bayi atau anak kecil. Setiap tahapan perkembangan anak dapat menghadirkan tantangan tersendiri, mulai dari bayi, remaja, hingga ketika anak sudah dewasa.

Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa menjalankan peran sebagai ayah dan ibu tidak harus dilakukan secara sempurna.

Menurut Rinda, orang tua perlu menjalani perannya secara realistis dan tidak membebani diri dengan tuntutan untuk selalu memberikan yang terbaik dalam segala hal.

“Anak-anak enggak butuh orang tua yang sempurna. Anak-anak butuh orang tua yang sehat, mental dan fisik,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama antara pasangan. Ketika salah satu pihak mengalami kelelahan, pasangan perlu mengomunikasikan kondisi tersebut sehingga tanggung jawab dalam keluarga dapat dibagi secara lebih seimbang.

Hal ini menjadi semakin penting bagi orang tua yang harus menjalani pola pengasuhan dengan keterbatasan dukungan, misalnya ketika pasangan bekerja di luar kota, luar pulau, atau luar negeri.

Media Sosial Bisa Memicu Perbandingan

Di era digital, tantangan orang tua juga bertambah dengan banyaknya informasi mengenai pola asuh di media sosial.

Rinda mengatakan, informasi tentang parenting sebenarnya dapat memberikan manfaat karena orang tua memiliki lebih banyak sumber untuk belajar. Namun, informasi tersebut dapat menjadi tekanan ketika orang tua mulai membandingkan dirinya dengan keluarga lain.

“Jangan membandingkan standar parenting kita dengan standar parenting yang kelihatan sempurna di media sosial. Itu tantangan yang paling berat di era digital ini,” ujarnya.

Konten di media sosial, menurutnya, sering kali hanya menampilkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Karena itu, orang tua tidak dapat menjadikan kehidupan keluarga lain sebagai standar mutlak dalam menjalankan pengasuhan.

Alih-alih membandingkan diri, orang tua dapat mengambil informasi yang dianggap bermanfaat dan menyesuaikannya dengan kondisi keluarga masing-masing.

Pentingnya Me Time bagi Orang Tua

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kondisi emosional adalah menyediakan waktu untuk diri sendiri atau me time.

Rinda menjelaskan, me time tidak selalu berarti harus bepergian atau mengeluarkan banyak uang. Bentuknya dapat sederhana, seperti beristirahat tanpa gangguan, berolahraga, menikmati hobi, atau melakukan aktivitas yang membuat tubuh dan pikiran kembali segar.

Menurutnya, orang tua tidak perlu merasa bersalah ketika menyediakan waktu untuk dirinya sendiri selama kebutuhan anak tetap diperhatikan.

“Ketika emosi kita terpenuhi, kita lebih bisa merawat anak kita dengan baik, lebih happy,” jelasnya.

Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti seseorang yang tidak dapat menuangkan sesuatu dari wadah yang kosong. Orang tua yang terus-menerus mengabaikan kebutuhan emosionalnya berisiko mengalami kelelahan yang semakin menumpuk.

Karena itu, pelepasan stres sebaiknya dilakukan secara rutin dan tidak menunggu sampai seseorang benar-benar mengalami burnout.

Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan?

Rinda mengatakan, orang tua perlu mempertimbangkan bantuan profesional ketika kondisi burnout semakin berat. Salah satu tandanya adalah hubungan dengan pasangan semakin berjarak dan anak mulai dipandang sebagai beban.

“Kalau sudah mulai makin parah, sudah makin jauh kita sama pasangan, sudah merasa anak ini menjadi beban, sudah sampai tidak ada kerelaan hati lagi untuk mengasuh atau merawat anak, itu perlu mencari pertolongan ke konselor atau mungkin ke psikolog,” katanya.

Parenting burnout juga tidak hanya berdampak pada kehidupan keluarga. Kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas pekerjaan dan hubungan sosial karena emosi yang terbawa dari rumah dapat memengaruhi seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain.

Orang Tua Tidak Harus Sempurna

Dalam menjalankan peran sebagai orang tua, Rinda mengingatkan agar ayah dan ibu tidak terus-menerus merasa gagal hanya karena tidak mampu memenuhi standar pengasuhan yang terlihat sempurna.

“Tidak ada orang tua yang sempurna, tapi kita mengupayakan menjadi orang tua yang sehat dan bahagia sehingga kita bisa merawat anak-anak kita dengan baik,” tuturnya.

Ia menambahkan, rumah idealnya menjadi tempat yang aman bagi anak, tempat mereka merasa diterima, didengarkan, disayangi, dan dikasihi.

Karena itu, menjaga kesehatan mental orang tua bukan hanya berkaitan dengan kepentingan ayah dan ibu, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan keluarga yang sehat bagi anak.

“Orang tua yang bahagia pasti akan menghasilkan anak yang bahagia,” kata Rinda. Ia menekankan bahwa orang tua dan anak sama-sama berada dalam proses belajar dan bertumbuh.

Pada akhirnya, menjadi orang tua bukan tentang mencapai kesempurnaan, melainkan terus belajar mengenali diri, mengelola emosi, berkomunikasi dengan pasangan, serta memberikan kasih sayang kepada anak dengan kondisi mental dan fisik yang sehat.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=T5ka86c36Xk

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: