02 October 2026
Para pakar psikologi berdiskusi mengenai pentingnya peran komunikasi keluarga dalam menjaga kesehatan mental pada program Sketsa Keluarga Indonesia

Kesehatan Mental Dimulai dari Diri Sendiri, Komunikasi Keluarga Jadi Kunci

Radio Tangerang Heartline FM – Kesehatan mental menjadi isu yang semakin banyak dibicarakan di tengah masyarakat. Kesadaran untuk menjaga kesehatan mental kini tidak hanya muncul ketika seseorang mengalami gangguan psikologis, tetapi juga mulai diarahkan pada upaya pencegahan dan pemeliharaan kesehatan mental sejak dini.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam program Sketsa Keluarga Indonesia yang menghadirkan sejumlah psikolog dan pemerhati kesehatan mental. Para narasumber menekankan bahwa kesehatan mental berkaitan erat dengan kemampuan seseorang menghadapi tekanan hidup, menjalankan fungsi sehari-hari, beradaptasi dengan lingkungan, serta membangun relasi yang sehat.

Psikolog Robert O. Rajagukguk menjelaskan, seseorang yang sehat secara mental bukan berarti terbebas sepenuhnya dari tekanan atau persoalan hidup. Menurutnya, tekanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehingga yang penting adalah kemampuan seseorang dalam menghadapinya.

Selain mampu menangani tekanan, kesehatan mental juga terlihat dari kemampuan seseorang menyesuaikan diri dengan lingkungan, menjalankan tanggung jawab sehari-hari, tetap produktif, serta memberikan kontribusi kepada lingkungan sekitarnya.

Kesadaran Kesehatan Mental Semakin Terbuka

PSIKOLOG – Assistant Professor, DR. YUSAK NOVANTO, S.PSI., M.PSI.  menilai, pembicaraan mengenai kesehatan mental saat ini semakin terbuka dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Jika dahulu persoalan kesehatan mental sering dikaitkan hanya dengan gangguan jiwa dan masih dianggap tabu, kini masyarakat semakin berani mencari bantuan profesional.

Menurutnya, perkembangan tersebut juga terlihat dari meningkatnya kebutuhan terhadap layanan psikologi. Ia menyebut jumlah program studi psikologi di Indonesia telah berkembang pesat, sementara layanan psikologi juga semakin hadir di berbagai fasilitas, termasuk rumah sakit dan puskesmas.

Sementara itu Psikolog anak,  Tasya menambahkan, keterbukaan masyarakat menjadi perkembangan penting dalam upaya menjaga kesehatan mental. Menurutnya, bantuan psikologis tidak harus selalu dicari ketika seseorang sudah berada dalam kondisi berat.

Pendekatan preventif, kata dia, dapat dilakukan untuk membantu seseorang menjaga kesehatan mental sebelum persoalan berkembang menjadi lebih serius. Ia juga menekankan pentingnya kemampuan menyesuaikan ekspektasi dengan kondisi kehidupan yang dihadapi.

Era Digital Berpengaruh pada Kesehatan Mental Anak

Sebagai psikolog klinis anak, Tasya melihat perkembangan teknologi digital turut membawa pengaruh terhadap kesehatan mental anak dan remaja. Media sosial, permainan daring, serta berbagai tontonan digital menjadi bagian dari lingkungan yang dapat memengaruhi perkembangan mereka.

Di sisi lain, era digital juga membuat anak dan remaja memiliki akses komunikasi yang jauh lebih luas. Karena itu, orang tua perlu memahami lingkungan digital yang dihadapi anak, termasuk pergaulan daring yang tidak selalu dapat dipantau secara langsung.

Tasya menilai keterbukaan masyarakat untuk mencari bantuan psikologis saat ini sudah jauh berkembang. Jika pada era 1990-an hingga awal 2000-an pergi ke psikolog atau psikiater masih sering dianggap tabu, kini bantuan profesional semakin terbuka bahkan untuk kebutuhan preventif.

Data Lokal Menunjukkan Perlunya Perhatian pada Remaja

Psikolog Gaif Nurahman, M.Psi., Ketua IPK Indonesia Wilayah Banten, membagikan hasil survei yang pernah dilakukannya pada 2025 terhadap remaja usia 15 hingga 18 tahun.

Dalam survei terhadap sekitar 300 responden tersebut, ia menemukan sejumlah responden yang melaporkan pengalaman menyakiti diri sendiri maupun pemikiran untuk mengakhiri hidup. Ia juga menemukan responden yang mengalami gangguan terhadap aktivitas sehari-hari.

Gaif menegaskan bahwa hasil survei tersebut tidak dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi seluruh remaja di Banten karena jumlah respondennya terbatas. Namun, temuan tersebut menurutnya dapat menjadi gambaran mengenai perlunya perhatian lebih terhadap kesehatan mental remaja.

Dalam pembahasannya, Gaif menyebut ketidakharmonisan keluarga sebagai salah satu persoalan yang ditemukan ketika data tersebut didalami bersama guru bimbingan dan konseling. Kondisi keluarga yang tidak harmonis, termasuk perceraian maupun situasi pengasuhan yang kompleks, disebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

Orang Tua Memegang Peran Penting

Psikolog Robert menekankan bahwa orang tua memiliki peran utama dalam perkembangan kesehatan mental anak. Sejak bayi, anak tidak hanya mengalami pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan mental dan emosional yang sangat dipengaruhi lingkungan terdekat.

Orang tua berperan dalam membantu anak mengenali dan mengekspresikan emosi, membangun hubungan dengan orang lain, serta memahami nilai-nilai yang akan menjadi bekal dalam mengambil keputusan ketika dewasa.

Meski demikian, tanggung jawab terhadap kesehatan mental anak tidak hanya berada pada keluarga. Sekolah, keluarga besar, komunitas, dan lingkungan sosial juga dapat menjadi sistem pendukung bagi perkembangan anak.

Robert mengingatkan bahwa niat baik orang tua belum tentu selalu dimaknai dengan cara yang sama oleh anak. Orang tua mungkin merasa tindakan tertentu merupakan bentuk kasih sayang, tetapi anak bisa saja merasakannya sebagai tekanan.

Karena itu, menurutnya, orang tua perlu melihat bukan hanya apa yang ingin mereka sampaikan, tetapi juga bagaimana anak menerima dan memaknai perlakuan tersebut.

Komunikasi dengan Remaja Harus Tanpa Menghakimi

Memasuki usia remaja, komunikasi antara anak dan orang tua dapat menghadapi tantangan tersendiri. Remaja mulai memiliki lingkungan pertemanan yang lebih luas dan mendapatkan banyak pengaruh dari teman maupun komunitas, termasuk melalui internet.

Tasya menyarankan orang tua menerapkan prinsip “we listen, we don’t judge” ketika berbicara dengan anak. Artinya, orang tua perlu mendengarkan terlebih dahulu tanpa langsung memberikan penilaian atau penghakiman.

Menurutnya, ketika anak merasa takut dihakimi, mereka dapat memilih untuk menyimpan persoalan yang dihadapi atau mencari tempat bercerita di luar keluarga. Padahal, tidak semua informasi atau nasihat yang diperoleh dari lingkungan pertemanan dapat menjadi solusi yang tepat.

Ia juga menyarankan keluarga membangun kebiasaan sederhana untuk menciptakan ruang komunikasi. Salah satunya melalui waktu makan bersama, baik saat sarapan maupun makan malam.

Dalam momen tersebut, orang tua dapat menciptakan suasana seperti “konferensi meja bundar”, yakni ruang bagi anggota keluarga untuk saling mendengarkan dan berbicara tanpa langsung menghakimi.

Kesehatan Mental Bukan Berarti Selalu Bahagia

Para narasumber juga mengingatkan bahwa kondisi mental yang sehat bukan berarti seseorang harus selalu merasa bahagia dan tidak mengalami kesedihan.

Tasya mengatakan, kehidupan tetap akan menghadirkan persoalan sehingga seseorang perlu belajar mengatur ekspektasi dan menerima bahwa tidak semua hal berjalan sesuai dengan harapan.

Sementara itu, Gaif mengingatkan pentingnya menghargai apa yang dimiliki dan tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Menurutnya, kesenjangan antara ekspektasi dan kenyataan perlu dikelola agar tidak semakin membebani kondisi psikologis.

Robert menambahkan bahwa menjaga kesehatan mental dapat dimulai dari kemampuan mengurus diri sendiri. Namun, ketika seseorang mengalami kesulitan menghadapi persoalan hidup, dukungan dari orang-orang terdekat juga penting.

Jika persoalan tetap sulit dihadapi, ia mengingatkan masyarakat agar tidak malu mencari bantuan profesional. Psikolog maupun tenaga profesional lainnya hadir untuk membantu seseorang menjaga dan memulihkan kesehatan mental.

Pada akhirnya, kesehatan mental bukan hanya persoalan individu. Keluarga, sekolah, komunitas, dan lingkungan sosial memiliki peran dalam menciptakan ruang yang aman bagi seseorang untuk berbicara, didengarkan, dan mendapatkan dukungan.

Merawat kesehatan mental pun dapat dimulai dari langkah sederhana: mengenali kondisi diri, membangun komunikasi yang sehat, mengelola ekspektasi, serta tidak ragu mencari bantuan ketika diperlukan.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=_ZnG8UpAyrA

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: