23 October 2026
Grace Putri Chango memaparkan cara mengembangkan minat dan bakat seni menggambar anak di Radio Tangerang Heartline FM

Anak Jago Menggambar, Bisakah Menjadi Masa Depan? Orang Tua Perlu Mengenali Minat dan Bakat Seni Anak

Radio Tangerang Heartline FM – Kegemaran anak menggambar sering kali dianggap sebagai aktivitas bermain untuk mengisi waktu luang. Padahal, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana anak mengekspresikan diri, mengembangkan kreativitas, serta melatih berbagai kemampuan yang bermanfaat bagi masa depannya.

Grace Putri Chango, pengampu subjek seni di komunitas Pendar Makna sekaligus pendiri Satelit Art Club mengajak orang tua untuk lebih memahami minat dan potensi seni anak tanpa terburu-buru menentukan masa depannya.

Menurut Grace, menggambar merupakan salah satu bentuk komunikasi awal anak sebelum mereka mampu menyampaikan pikiran dan perasaannya melalui kata-kata maupun tulisan. Coretan yang dibuat anak di atas kertas merupakan bagian dari proses mereka mengenali dan memahami lingkungan sekitar.

Ia mengacu pada filosofi pendidikan Charlotte Mason yang memandang bahwa potensi seni telah ada dalam diri anak dan perlu ditemukan melalui pendampingan serta kesempatan bereksplorasi.

“Ketika anak menggambar, membuat garis, ataupun apa pun itu di kertas, itu adalah bagian cara dia berkomunikasi sebelum nantinya dia bisa berkomunikasi dengan cara yang lain melalui kata-kata maupun tulisan,” ujar Grace.

Mengenali Bakat Anak Membutuhkan Proses

Grace menjelaskan, orang tua perlu membedakan antara kesenangan anak terhadap suatu aktivitas, minat yang ingin dikembangkan, dan bakat yang terus diasah melalui proses latihan.

Ia merujuk pada buku Bakat Bukan Takdir karya Bukik Setiawan yang membahas tahapan perkembangan bakat anak. Pada usia 0–7 tahun, anak berada dalam tahap eksplorasi dan perlu diperkenalkan dengan beragam aktivitas. Selanjutnya, pada usia 7–13 tahun, minat yang lebih spesifik mulai terlihat ketika anak menunjukkan inisiatif untuk mempelajari bidang tertentu secara lebih mendalam.

Sementara itu, ketika memasuki usia sekitar 13 tahun, ketertarikan anak dapat semakin terlihat melalui karya yang dihasilkan atau keinginannya mengikuti kegiatan seperti pameran.

Meski demikian, Grace mengingatkan agar orang tua tidak menjadikan tahapan usia tersebut sebagai patokan mutlak. Setiap anak memiliki proses perkembangan yang berbeda sehingga kesempatan untuk mencoba berbagai aktivitas tetap perlu diberikan.

“Bakat itu sebenarnya adalah potensi yang terus dilatih dengan proses panjang sampai akhirnya nanti anak bisa menghasilkan karya nyata,” jelasnya.

Ia menambahkan, anak yang memiliki kecerdasan imaji biasanya lebih peka terhadap unsur visual, warna, bentuk, dan objek. Namun, anak yang tidak menunjukkan kecenderungan tersebut bukan berarti tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan seni.

Jangan Membebani Anak dengan Ekspektasi Orang Tua

Ketika melihat anak gemar menggambar, sebagian orang tua mungkin langsung ingin memasukkannya ke tempat kursus agar kemampuannya berkembang lebih cepat. Menurut Grace, keputusan tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak dan tujuan keluarga.

Pada usia dini, menggambar sebaiknya tetap menjadi aktivitas yang menyenangkan. Anak perlu diberi ruang untuk mencoba, membuat kesalahan, mengulang gambar, dan menemukan gaya mereka sendiri tanpa tekanan untuk selalu menghasilkan karya yang bagus.

Orang tua juga perlu berhati-hati agar keinginan anak untuk belajar seni tidak berubah menjadi tuntutan untuk memenangkan perlombaan atau memenuhi standar tertentu.

Grace menilai, kursus seni dapat menjadi pilihan apabila memang dibutuhkan. Namun, orang tua perlu memastikan lingkungan belajar tersebut mendukung kreativitas dan perkembangan anak, bukan hanya berorientasi pada prestasi.

Ia juga menekankan bahwa minat anak tidak selalu sama dengan minat orang tuanya. Anak yang tumbuh di keluarga seniman belum tentu akan memilih profesi serupa. Sebaliknya, anak dari keluarga dengan latar belakang profesi berbeda juga dapat mengembangkan ketertarikan terhadap seni.

Karena itu, orang tua perlu memberikan dukungan tanpa memaksakan cita-cita mereka kepada anak.

Menggambar Melatih Kreativitas hingga Kemampuan Berpikir Kritis

Selain menjadi sarana berekspresi, menggambar memiliki beragam manfaat bagi perkembangan anak. Grace menjelaskan bahwa aktivitas ini melibatkan koordinasi mata dan tangan, kemampuan motorik halus, pengamatan, serta proses berpikir untuk menuangkan gagasan ke dalam bentuk visual.

Ketika menggambar, anak mengamati objek, mengenali warna dan bentuk, lalu mengolah informasi tersebut menjadi sebuah karya. Jika hasilnya tidak sesuai dengan keinginan, anak juga belajar mencari solusi, memperbaiki gambar, atau mencoba cara lain.

Proses tersebut dapat membantu mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan berpikir kritis.

Grace juga mengingatkan bahwa orang tua sebaiknya tidak langsung menilai gambar anak berdasarkan bagus atau tidaknya hasil akhir. Gambar yang tampak abstrak atau berbeda dari contoh belum tentu menunjukkan bahwa anak tidak memiliki kemampuan seni.

Sebaliknya, orang tua dapat mengajukan pertanyaan yang mendorong anak bercerita tentang proses kreatifnya, seperti apa yang mereka pikirkan ketika memilih warna atau bagaimana perasaan mereka saat membuat gambar tersebut.

Pendekatan ini membantu anak merasa dihargai sekaligus membangun kepercayaan diri untuk terus berkarya.

Menggambar Manual Tetap Penting di Era Digital

Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), kemampuan menggambar secara manual tetap dinilai penting sebagai fondasi pembelajaran seni anak.

Grace menyarankan agar anak mendapatkan pengalaman menggambar menggunakan pensil dan kertas sebelum atau bersamaan dengan eksplorasi perangkat digital.

Menurutnya, menggambar secara manual memberikan pengalaman langsung ketika anak membuat garis, menghapus bagian yang keliru, dan mengulang gambar. Proses tersebut mengajarkan fokus, ketelitian, kehati-hatian, serta kesediaan untuk mencoba kembali.

Berbeda dengan perangkat digital yang menawarkan fitur seperti undo dan penggunaan lapisan gambar atau layer, media manual membuat anak berhadapan langsung dengan proses dan konsekuensi dari setiap goresan.

Meski demikian, Grace tidak menolak penggunaan teknologi. Perangkat digital tetap dapat dimanfaatkan sebagai sarana eksplorasi setelah anak memperoleh dasar yang cukup kuat.

Peluang Karier Seni Tetap Terbuka di Tengah Perkembangan AI

Kekhawatiran mengenai masa depan profesi seni semakin relevan ketika teknologi AI mampu menghasilkan gambar dalam waktu singkat. Namun, Grace memandang perkembangan teknologi tidak serta-merta menghilangkan nilai karya manusia.

Ia mencontohkan perubahan besar dalam sejarah seni ketika fotografi mulai berkembang. Kehadiran kamera mengubah cara manusia menghasilkan dan menilai gambar, tetapi seni kemudian berkembang melalui berbagai pendekatan dan aliran baru.

Menurut Grace, nilai sebuah karya tidak hanya terletak pada kemiripan visual, tetapi juga pada makna, proses kreatif, pengalaman, dan pesan yang ingin disampaikan senimannya.

Peluang di bidang seni pun tidak terbatas pada profesi pelukis. Anak yang memiliki minat dan kemampuan visual dapat mengeksplorasi berbagai bidang, seperti ilustrasi, komik, animasi, hingga desain komunikasi visual (DKV) yang berkaitan dengan kebutuhan periklanan dan komunikasi.

Karena itu, orang tua tidak perlu langsung menutup peluang anak di bidang seni hanya karena khawatir terhadap persaingan dengan teknologi. Hal yang penting adalah membantu anak mengembangkan keterampilan, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi.

Bangun Kepercayaan Diri Anak, Bukan Menuntut Kesempurnaan

Dalam perbincangan tersebut, Grace turut menyoroti persoalan yang sering dialami anak ketika belajar menggambar, yaitu rasa takut melakukan kesalahan. Sebagian anak merasa minder karena hasil gambarnya tidak mirip dengan contoh atau karena membandingkan karyanya dengan teman sebaya.

Untuk mengatasinya, ia menyarankan orang tua membangun kedekatan melalui komunikasi dan pendampingan. Ketika anak merasa frustrasi, orang tua dapat mengajaknya beristirahat sejenak, kemudian mencari tahu hal yang sebenarnya membuat anak kehilangan kepercayaan diri.

Alih-alih bertanya, “Mengapa gambarnya seperti itu?” orang tua dapat mengajukan pertanyaan yang lebih terbuka, seperti “Apa yang kamu rasakan ketika membuat gambar ini?” atau “Bagian mana yang paling kamu sukai?”

Pendekatan tersebut membantu anak memahami bahwa proses belajar tidak harus selalu menghasilkan sesuatu yang sempurna.

Grace menegaskan bahwa seni tetap bermanfaat bagi anak, terlepas dari profesi yang kelak mereka pilih. Melalui seni, anak dapat belajar mengamati, berempati, berkonsentrasi, dan mengembangkan ketelitian.

“Dengan seni, anak juga dilatih kemampuan berempati, kemampuan mengamati, kemampuan untuk fokus terhadap sesuatu dan lebih teliti juga hati-hati,” tuturnya.

Pada akhirnya, tugas orang tua bukan sekadar menentukan apakah anak berbakat menjadi seniman, melainkan memberikan kesempatan untuk bereksplorasi, mengenali minatnya, dan mengembangkan potensi tanpa tekanan berlebihan. Dengan dukungan yang tepat, menggambar dapat menjadi keterampilan sekaligus bekal karakter yang berguna bagi perjalanan hidup anak.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=ElJIsdpVp4U