Dampak Emosi Orang Tua pada Anak: Ketika Pengasuhan Membentuk Masa Depan Anak
Radio Tangerang Heartline FM – Emosi orang tua tidak hanya memengaruhi suasana di dalam rumah, tetapi juga berperan besar dalam membentuk karakter, kepribadian, hingga kesehatan mental anak di masa depan. Hal ini disampaikan Konselor Yayasan Busur Mas, Gerna Situmorang dalam program Parenting with Heart di Heartline FM.
Menurut Gerna, banyak orang menganggap emosi hanya identik dengan kemarahan. Padahal, emosi mencakup seluruh bentuk perasaan, baik yang bersifat positif seperti bahagia maupun negatif seperti marah, sedih, atau kecewa. Yang menjadi persoalan bukanlah emosi itu sendiri, melainkan bagaimana orang tua mengelola emosinya dalam proses pengasuhan.
“Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri. Namun ketika orang tua hadir hanya secara fisik, tetapi tidak hadir secara emosional, anak akan merasa tidak dipahami, tidak diterima, bahkan mengalami kesepian emosional,” ujar Gerna.
Ia menjelaskan, ketidakmatangan emosional orang tua dapat memengaruhi cara anak membangun hubungan dengan orang lain hingga dewasa. Anak cenderung tumbuh dengan rasa tidak aman, sulit mengenali kebutuhan dirinya, bahkan berusaha terus-menerus menyenangkan orang lain demi mendapatkan penerimaan.
Empat Tipe Orang Tua yang Belum Matang Secara Emosional
Gerna mengidentifikasi sedikitnya empat tipe orang tua yang menunjukkan ketidakmatangan emosional:
-
Orang tua yang emosional
Tipe ini mudah marah, suasana hatinya berubah-ubah, dan sering melibatkan anak dalam gejolak emosinya. Akibatnya, anak merasa bertanggung jawab atas perasaan orang tua sehingga kehilangan kebebasan untuk mengekspresikan dirinya.
-
Orang tua yang penuntut
Mereka tampak peduli terhadap perkembangan anak, tetapi lebih berorientasi pada pencapaian dan prestasi demi kepuasan diri sendiri. Anak akhirnya tumbuh mengikuti keinginan orang tua dan kehilangan identitas serta motivasi yang berasal dari dirinya sendiri.
-
Orang tua yang pasif
Mereka cenderung menghindari konflik dan menyerahkan seluruh pengasuhan kepada pasangan yang lebih dominan. Sikap ini membuat anak merasa tidak memiliki pelindung ketika menghadapi tekanan di dalam keluarga.
-
Orang tua yang menolak anak secara emosional
Mereka menjaga jarak, sulit membangun kedekatan, dan hanya berinteraksi melalui perintah atau kemarahan. Anak yang tumbuh dalam situasi seperti ini sering kesulitan mengenali kebutuhan serta menyampaikan perasaannya kepada orang lain.
Dampaknya Terbawa hingga Dewasa
Gerna menegaskan bahwa luka emosional masa kecil dapat terbawa hingga dewasa jika tidak disadari dan dipulihkan.
Sebagian anak mengarahkan luka tersebut ke dalam dirinya sendiri. Mereka menjadi terlalu kritis terhadap diri sendiri, sulit berkata “tidak”, selalu mengutamakan kebutuhan orang lain, dan rentan mengalami kelelahan emosional (burnout). Sebaliknya, ada pula anak yang melampiaskan luka itu ke luar dengan mudah menyalahkan situasi maupun orang lain atas setiap persoalan yang dihadapi.
“Anak yang tumbuh tanpa rasa aman juga berpotensi mencari pasangan yang memiliki pola hubungan serupa dengan yang dialaminya di masa kecil. Siklus ini dapat terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya jika tidak diputus,” jelasnya.
Orang Tua Masih Bisa Berubah
Meski demikian, Gerna menegaskan bahwa ketidakmatangan emosional bukan kondisi yang tidak dapat diperbaiki. Perubahan dapat dimulai ketika orang tua memiliki kesadaran bahwa pola pengasuhan yang dijalankan selama ini berdampak pada perkembangan anak.
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah:
-
Mengenali pola pengasuhan yang selama ini diterapkan.
-
Memahami pengalaman masa kecil yang memengaruhi perilaku saat ini.
-
Belajar mengelola stres agar tidak dilampiaskan kepada anak.
-
Membangun komunikasi yang lebih sehat dengan hadir secara emosional, mendengarkan perasaan anak tanpa menghakimi, serta memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat dan emosinya.
Pemulihan Dimulai dari Kesadaran
Gerna juga mengingatkan bahwa proses pemulihan tidak hanya berlaku bagi orang tua, tetapi juga bagi anak yang telah mengalami luka emosional.
Anak perlu memahami bahwa perilaku orang tua bukan merupakan kesalahannya, melainkan akibat keterbatasan emosional yang dimiliki orang tua. Dengan pemahaman tersebut, anak dapat mulai membangun batasan yang sehat, belajar menghargai dirinya sendiri, serta mencari dukungan melalui konseling atau lingkungan yang suportif apabila diperlukan.
“Orang tua seharusnya menjadi sumber kesejahteraan emosional bagi anak, bukan sebaliknya. Ketika orang tua mampu hadir secara emosional, anak akan merasa aman, diterima, dan bertumbuh menjadi pribadi yang percaya diri serta mampu membangun hubungan yang sehat,” pungkas Gerna.
Foto : Ilustrasi
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
