Lewat Survei Terbesar JWST, Astronom Berhasil Petakan Kerangka Kosmik dan Pemicu Kematian Galaksi
Radio Tangerang Heartline FM – Tim astronom internasional yang dipimpin oleh para peneliti dari University of California, Riverside (UCR), berhasil merekonstruksi peta struktur skeletal atau kerangka alam semesta dengan tingkat ketajaman yang belum pernah dicapai sebelumnya. Memanfaatkan survei terbesar dari Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), peta ini berhasil mengurai bagaimana galaksi berevolusi di dalam jaringan raksasa yang dikenal sebagai jaring kosmik (cosmic web) sejak 13 miliar tahun lalu.
Jaring kosmik merupakan struktur makro terbesar di alam semesta yang menjadi perancah bagi gugusan galaksi. Struktur ini tersusun atas kombinasi filamen gas, materi gelap (dark matter), jutaan bintang, serta ruang hampa (void). Laporan riset yang mendasari pemetaan ini telah resmi dipublikasikan di The Astrophysical Journal.
Lompatan Teknologi: Dari Hubble ke COSMOS-Web
Keberhasilan visualisasi kerangka alam semesta ini dicapai melalui program COSMOS-Web, sebuah proyek survei masif JWST yang menghabiskan waktu pengamatan hingga 255 jam. Jaringan data mutakhir ini membawa lompatan besar jika dibandingkan dengan survei COSMOS2020 yang sebelumnya digawangi oleh Teleskop Hubble.
Perbandingan Kapabilitas Data Observasi:
- Akurasi Jarak: JWST memiliki presisi redshift (pengukuran jarak kosmik) yang jauh lebih akurat.
- Sensitivitas Cahaya: Mampu menangkap objek galaksi yang jauh lebih redup dan bermassa kecil.
- Jangkauan Waktu: Sanggup mendeteksi kondisi jaring kosmik saat alam semesta baru berusia beberapa ratus juta tahun—sebuah era yang sebelumnya tidak terjangkau oleh teknologi manusia.
Dua Faktor Utama Penghenti Kelahiran Bintang
Salah satu temuan paling krusial dalam studi ini adalah pemetaan faktor-faktor intrinsik dan ekstrinsik yang menyebabkan galaksi kehilangan kemampuan melahirkan bintang baru, atau memasuki fase sekarat (quiescent).
Para peneliti mengidentifikasi adanya pergeseran mekanisme “pembunuhan” bintang berdasarkan kronologi usia alam semesta:
- Faktor Internal Massa (Dominan hingga 7 Miliar Tahun Lalu): Pada era alam semesta purba, galaksi yang tumbuh terlalu masif akan memicu pembengkakan halo materi gelap hingga mencapai skala 1 triliun massa Matahari. Kondisi ini memanaskan gas di sekitarnya secara ekstrem dan menggagalkan pembentukan bintang. Proses ini diperparah oleh semburan jet berkecepatan tinggi dari lubang hitam supermasif yang aktif.
- Faktor Lingkungan Eksplisit (Dominan di Era Modern): Pada fase alam semesta yang lebih muda, penghentian pembentukan bintang lebih sering dipicu oleh interaksi antargalaksi. Lingkungan yang padat cenderung merampas material pembentuk bintang serta memblokir akumulasi gas dingin yang diperlukan untuk menciptakan bintang baru.
“Pada masa-masa awal, wilayah yang padat tampaknya menjadi tempat pertumbuhan galaksi yang cepat, sementara pada masa-masa berikutnya, lingkungan yang padat justru dikaitkan dengan penghentian pembentukan bintang,” jelas Hossein Hatamnia, astronom UCR sekaligus salah satu penulis studi tersebut.
Keterbukaan Data untuk Publik
Transformasi teknologi yang dihadirkan oleh JWST sukses mengubah objek kuno yang sebelumnya hanya terlihat sebagai gumpalan buram di lensa teleskop lama menjadi struktur galaksi yang detail dan terukur.
Guna mendukung perkembangan ilmu pengetahuan global, tim peneliti saat ini telah membuka akses publik untuk katalog berisi 164.000 galaksi yang digunakan sebagai basis penyusunan peta jaring kosmik tersebut. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat riset-riset lanjutan mengenai asal-usul dan akhir dari evolusi tata surya di masa depan.
ditulis ulang oleh redaksi
FOTO : Sebuah “potongan” dari jaring kosmik, seperti yang direkonstruksi melalui data COSMOS-Web. Titik sudut di sebelah kiri mewakili masa kini, sementara tepi yang berlawanannya menjangkau kembali ke masa ketika alam semesta berusia kurang dari 1 miliar tahun.(UCR/Hossein Hatamnia)
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
