29 September 2026
Ishak Tjahjadi membagikan kesaksian perjalanan hidup dan imannya saat berjuang melawan komplikasi penyakit di Heartline FM

Tubuhku Lemah Melawan Penyakit, tetapi Anugerah Tuhan Cukuplah

Radio Tangerang Heartline FM – Perjalanan hidup tidak selalu berjalan seperti yang direncanakan. Ada masa ketika seseorang merasa sehat, aktif, memiliki pekerjaan, keluarga, serta berbagai harapan untuk masa depan. Namun, dalam sekejap, kehidupan dapat berubah ketika penyakit datang silih berganti.

Hal itulah yang dialami Ishak Tjahjadi. Sejak kecil, Ishak dikenal sebagai pribadi yang gemar berolahraga. Bulu tangkis, tenis meja, renang, basket, voli hingga sepak bola menjadi bagian dari kesehariannya. Bahkan ketika telah bekerja dan berkeluarga, aktivitas olahraga tetap dijalaninya.

Saat mengikuti pertandingan sepak bola persahabatan, Ishak mengalami cedera pada kakinya. Cedera tersebut membuatnya tidak dapat berjalan selama beberapa hari. Atas permintaan sang istri, ia kemudian berhenti berolahraga.

Keputusan itu ternyata menjadi awal dari perjalanan panjang menghadapi berbagai persoalan kesehatan. Setelah aktivitas olahraga berhenti, pola makan Ishak tidak langsung berubah. Aktivitas fisik berkurang, sementara kebiasaan makan masih sama. Dalam perjalanan berikutnya, berat badannya sempat turun hingga sekitar 10 kilogram.

Awalnya, kondisi tersebut tidak dianggap sebagai sesuatu yang serius. Sampai suatu ketika muncul luka di kakinya yang tidak kunjung sembuh selama sekitar satu bulan. Setelah diperiksa di klinik, diketahui bahwa Ishak mengalami diabetes.

Sejak saat itu, masalah kesehatan datang satu demi satu. Diabetes kemudian berdampak pada penglihatannya. Kondisi mata yang semakin memburuk membuatnya kesulitan melihat wajah orang dengan jelas, bahkan untuk mengenali seseorang yang sedang menyapanya. Situasi tersebut menjadi salah satu titik terberat dalam hidupnya.

Ishak yang sebelumnya senang mengemudi dan bepergian harus menghadapi kenyataan bahwa penglihatannya tidak lagi memungkinkan dirinya berkendara dengan aman. Ia juga harus menjalani pemeriksaan dan pengobatan di rumah sakit yang jaraknya cukup jauh.

Tak jarang, ia harus menunggu sejak pagi hingga sore, bahkan pernah pulang hingga dini hari.

Ketika penyakit datang silih berganti

Perjalanan pengobatan Ishak tidak berhenti pada diabetes dan gangguan mata. Ia kemudian mengalami sesak napas dan harus menjalani pemeriksaan jantung. Dalam perjalanan berikutnya, ia menjalani pemasangan ring pada jantung.

Masalah kesehatan juga muncul pada ginjal. Fungsi ginjalnya menurun dan dokter menyarankan agar ia menjalani cuci darah. Saat pertama kali mendengar anjuran tersebut, Ishak merasa terpukul.

Ada pandangan yang selama ini melekat dalam pikirannya bahwa ketika seseorang sudah harus menjalani cuci darah, berarti hidupnya tinggal menunggu waktu. Karena itu, ia sempat menolak.

Namun, dokter tidak langsung memaksanya. Ishak justru mendapatkan pilihan untuk menjalani perawatan dan mempersiapkan diri terlebih dahulu. Dukungan keluarga, percakapan dengan kerabat yang juga seorang dokter, serta dorongan dari orang-orang di sekitarnya akhirnya membuatnya mengambil keputusan untuk mencoba. Kini, ia telah menjalani cuci darah selama sekitar empat tahun, dua kali dalam seminggu. Bagi Ishak, keputusan untuk terus menjalani pengobatan menjadi salah satu bentuk pengharapan.

Di balik larangan seorang istri, ada kasih

Penyakit bukan hanya mengubah kehidupan Ishak. Kondisi tersebut juga berdampak pada seluruh keluarga, terutama sang istri.

Ketika Ishak harus menjalani berbagai pengobatan, sang istri turut mendampinginya. Ia menyiapkan makanan, mengantar anak-anak sekolah, menemani Ishak ke rumah sakit, kemudian kembali menjemput anak-anak.

Kehidupan keluarga pun harus menyesuaikan dengan kondisi kesehatan Ishak.

Pola makan menjadi salah satu tantangan. Karena berbagai pembatasan dari dokter, Ishak harus mengurangi gula, garam, serta makanan tertentu. Pada awalnya, ia mengaku sempat merasa jengkel.

Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai memahami alasan di balik semua larangan tersebut.

“Bukannya dia sengaja mau cepat kamu mati. Artinya dia sayang sama kamu.”

Kalimat dari orang lain itu kemudian membuat Ishak melihat sikap istrinya dari sudut pandang berbeda.

Larangan yang awalnya terasa menyebalkan ternyata merupakan bentuk kasih sayang.

Berserah bukan berarti menyerah

Setelah bertahun-tahun menghadapi penyakit, rumah sakit, obat-obatan, operasi, cuci darah, serta berbagai keterbatasan, Ishak pernah berada di titik lelah.Namun, ia kemudian menyadari bahwa terus-menerus memikirkan kesulitan tidak akan membuat keadaan menjadi lebih ringan.

Ia memilih untuk tetap menjalani hidup dengan sukacita. Saat berada di rumah sakit, misalnya, ia sering bercanda dan berbincang dengan sesama pasien. Bahkan ketika menjalani cuci darah, ia dan pasien lain berusaha menciptakan suasana yang menyenangkan dengan bercanda dan bernyanyi bersama.

Bagi Ishak, sukacita bukan berarti penyakitnya hilang atau tubuhnya tidak merasakan sakit. Sukacita adalah keputusan untuk tetap menjalani hari dengan semangat di tengah keadaan yang tidak mudah.

Ia juga membedakan antara berserah kepada Tuhan dan menyerah pada keadaan. Menurutnya, menyerah pada keadaan hanya membuat seseorang semakin kehilangan semangat. Sebaliknya, berserah kepada Tuhan berarti tetap berdoa sambil melakukan apa yang masih dapat dilakukan.

“Bukan artinya sok kuat,” ujarnya. Ketika tubuh sudah lelah, seseorang tetap perlu beristirahat. Tetapi ketika masih memiliki kekuatan, ia memilih untuk tetap berkarya.

Menemukan berkat di tengah perjalanan yang sulit

Salah satu hal yang semakin menguatkan iman Ishak adalah pengalaman melihat pertolongan Tuhan melalui berbagai jalan.

Ia pernah mengalami persoalan dengan perusahaan tempatnya bekerja. Namun, justru melalui pimpinan perusahaan yang sebelumnya tidak terlalu ia sukai, sebuah jalan terbuka.

Ishak kemudian diarahkan untuk mengikuti BPJS. Dengan dukungan tersebut, ia dapat menjalani berbagai perawatan, mulai dari operasi mata, pemasangan ring hingga cuci darah, tanpa harus menanggung seluruh biaya pengobatan secara pribadi.

Bagi Ishak, pengalaman itu membuatnya melihat bahwa pertolongan Tuhan dapat datang melalui cara yang tidak selalu ia duga.

Ia juga merasakan dukungan yang besar dari keluarga dan teman-temannya. Sejak masa pandemi COVID-19, keluarga besarnya bahkan rutin melakukan doa bersama secara daring setiap minggu. Doa-doa tersebut menjadi sumber kekuatan baginya.

“Semua itu karena anugerah Tuhan,” katanya.

Tetap berkarya dengan apa yang dimiliki

Meski telah pensiun, Ishak masih diberi kesempatan untuk tetap berkarya di perusahaan. Ia memilih menjalani pekerjaan sesuai dengan kemampuan tubuhnya. Ketika lelah, ia beristirahat. Ketika masih mampu beraktivitas, ia melakukannya.

Selain bekerja, Ishak juga menemukan sukacita melalui pelayanan. Ia bermain musik di gereja, khususnya untuk anak-anak sekolah minggu.

Ia menyadari bahwa dirinya mungkin tidak pandai menjelaskan ayat Alkitab atau berkhotbah kepada orang lain. Namun, ia memiliki kemampuan bermusik yang dapat digunakan untuk melayani. Melihat anak-anak bernyanyi dan menikmati musik menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.

Bagi Ishak, melayani tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang sama. Apa pun kemampuan yang dimiliki seseorang dapat menjadi jalan untuk memberikan sesuatu kepada orang lain.

“Tuhan itu baik”

Setelah melewati perjalanan panjang sejak 2007, Ishak melihat kembali kehidupannya dengan perspektif yang berbeda. Ia tidak mengatakan bahwa semua perjalanan tersebut mudah. Tubuhnya telah mengalami berbagai persoalan kesehatan. Ia harus menjalani pengobatan dalam waktu panjang, berulang kali datang ke rumah sakit, menjalani operasi dan hingga kini masih menjalani cuci darah. Namun, di tengah semuanya itu, ia menemukan banyak alasan untuk bersyukur.

Keluarga yang mendukung. Teman-teman yang mendoakan. Dokter yang memberikan alternatif pengobatan. Pekerjaan yang masih memberinya kesempatan untuk berkarya. Kesempatan untuk melayani. Dan terutama, keyakinan bahwa Tuhan tetap menyertainya.

“Tuhan itu enggak pernah ingkar janji,” ungkap Ishak.

Menurutnya, manusia dapat memiliki rancangan sendiri tentang bagaimana kehidupan seharusnya berjalan. Tetapi perjalanan yang terjadi bisa saja berbeda dari rencana tersebut.

Dan dalam perjalanannya, Ishak belajar melihat bahwa rancangan Tuhan tetap dapat menghadirkan kebaikan, bahkan melalui masa-masa yang tidak mudah dipahami. Karena itu, ketika diminta merangkum seluruh perjalanan hidupnya dalam satu pesan, Ishak memberikan sebuah ajakan sederhana:

Tetap semangat menghadapi segala tantangan. Ketika merasa lemah, lelah, dan tidak kuat, datanglah kepada Tuhan, berdoa, dan berserah kepada-Nya. Berserah bukan berarti berhenti berusaha.

Selama masih diberi kesempatan dan kekuatan, lakukan apa yang masih bisa dilakukan. Sebab bagi Ishak, tubuh boleh lemah melawan penyakit, tetapi anugerah Tuhan tetap cukup untuk menjalani hari demi hari.

Editor : MA

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=PfFA4RZJrHg

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: