Memahami Autentisitas Injil Kristus agar Tidak Terjebak Injil Palsu
Radio Tangerang Heartline FM – Maraknya berbagai pengajaran yang beredar melalui media sosial hingga mimbar gereja membuat umat Kristen perlu semakin memahami autentisitas Injil Kristus. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Let Us Reason Together yang diselenggarakan Yayasan Pengembangan Apologetika Indonesia (YPAI) bersama Heartline Radio.
Dalam kesempatan itu, Pendeta Tommy Lengkong, M.Th., menegaskan bahwa Rasul Paulus memberikan peringatan keras terhadap pemberitaan Injil yang menyimpang dari kebenaran. Ia mengutip Galatia 1:6-8 sebagai dasar pembahasan.
“Paulus sangat tegas. Bahkan sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga memberitakan Injil yang berbeda dengan Injil yang telah diberitakan, terkutuklah dia. Ini menunjukkan bahwa Injil yang dipalsukan sama sekali tidak bisa ditoleransi,” ujar Pendeta Tommy.
Menurutnya, Paulus membedakan antara pemberita Injil yang memiliki motif kurang tepat dengan mereka yang benar-benar memutarbalikkan isi Injil. Dalam Filipi 1:15-18, Paulus masih dapat menerima pemberitaan Injil meski motif pemberitanya beragam, selama Kristus tetap diberitakan. Namun, sikap berbeda ditunjukkan terhadap Injil palsu yang mengubah substansi kabar keselamatan.
Injil yang Otentik Selalu Berpusat pada Kristus
Pendeta Tommy menjelaskan bahwa otentisitas Injil dapat dikenali dari beberapa ciri utama. Pertama, Injil selalu memberitakan Yesus Kristus sebagai pusatnya.
“Injil yang asli selalu berbicara tentang Yesus Kristus. Kalau pemberitaannya bukan lagi tentang Kristus, maka kita perlu berhati-hati,” katanya.
Ia mengutip Roma 16:25 yang menegaskan bahwa Injil adalah pemberitaan mengenai Yesus Kristus. Selain itu, Injil juga memuliakan Kristus, sebagaimana tertulis dalam 2 Korintus 4:4.
Menurutnya, Injil juga merupakan kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Roma 1:16). Keselamatan itu dinyatakan melalui karya Kristus di kayu salib, meliputi pengorbanan-Nya, penebusan dosa, pendamaian manusia dengan Allah, pembenaran orang berdosa, hingga pengangkatan orang percaya menjadi anak-anak Allah.
“Kalau membaca Alkitab, temukanlah Yesus di dalamnya. Itu inti dari Injil,” ujarnya.
Selain menyelamatkan, Injil juga menimbulkan iman, sebagaimana dijelaskan dalam Roma 10:17 bahwa iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus.
Empat Bentuk Penyimpangan Injil
Pendeta Tommy kemudian menguraikan bentuk-bentuk Injil palsu yang digambarkan Paulus dalam Galatia. Pertama, Injil yang lain, yaitu ajaran yang benar-benar berbeda dengan Injil Kristus. Kedua, bukan Injil, yakni Injil yang ditambah dengan ajaran lain sehingga menyimpang dari kabar keselamatan. Ketiga, Injil yang diputarbalikkan, yaitu ketika isi Alkitab ditafsirkan secara keliru sehingga menghasilkan ajaran yang menyesatkan. Keempat, Injil yang berbeda, yakni pemberitaan yang bertentangan dengan ajaran para rasul.
“Injil boleh diberitakan oleh siapa saja, tetapi jangan sampai isinya diputarbalikkan. Yang dipalsukan bukan lagi motifnya, melainkan substansi Injil itu sendiri,” tegasnya.
Sebagai contoh, ia menyinggung sejumlah bentuk pengajaran yang berkembang saat ini, seperti teologi kemakmuran (prosperity theology) yang menjadikan kekayaan sebagai ukuran berkat, moralistic gospel yang menitikberatkan keselamatan pada usaha manusia, self gospel yang mengandalkan kemampuan diri, hingga ajaran yang mengabaikan pentingnya gereja dan persekutuan orang percaya. Menurutnya, semua pengajaran tersebut perlu diuji berdasarkan Alkitab.
Pentingnya Bertumbuh dalam Firman
Dalam sesi tanya jawab, Pendeta Tommy menekankan bahwa cara terbaik agar tidak terjebak dalam Injil palsu adalah memiliki hubungan yang benar dengan Kristus.
“Pertama, menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kedua, terus membaca Alkitab, berdoa, dan bersekutu. Ketiga, bertumbuh melalui pemuridan agar memiliki dasar iman yang kuat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa orang percaya tidak cukup hanya mengaku sebagai Kristen secara status, melainkan harus mengalami kelahiran baru dan terus mengerjakan keselamatan melalui kehidupan yang bertumbuh dalam firman Tuhan.
Selain itu, ia mengimbau jemaat untuk tidak hanya mengandalkan media sosial sebagai sumber pembelajaran rohani. “Hati-hati dengan pengajaran yang beredar di media sosial. Semua harus diuji dengan Alkitab. Cari pembimbing rohani, ikuti pemuridan, dan tetap bersekutu di gereja,” katanya.
Menutup pembahasan, Pendeta Tommy mengajak seluruh orang percaya untuk terus menjaga kemurnian iman dengan menjadikan Yesus Kristus sebagai pusat kehidupan. “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Tetaplah hidup dalam Injil yang sejati, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya,” pungkasnya.
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=xM3nEnKqiBc&list=PLq3TKKy-o2QE3dBwzhQlPZsDq0ck96xTl&index=3
Foto : SS Youtube Heartline Network
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
