Waspada Campak pada Anak: Kenali Gejala, Penularan, dan Cara Pencegahannya
Radio Tangerang Heartline FM – Penyakit campak disebabkan oleh virus morbili dikenal sangat mudah menular dan dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan baik. Dalam sebuah talk show kesehatan, dr. Drey, Sp.A – Dokter Spesialis Anak RS Hermina Periuk Tangerang, menjelaskan bahwa masyarakat perlu lebih waspada terhadap penyakit ini karena jumlah kasus yang ditemui di rumah sakit meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Campak ditandai dengan gejala utama berupa demam, batuk, pilek, mata merah, serta ruam kemerahan pada kulit. Berbeda dengan cacar, ruam pada campak memiliki pola penyebaran yang khas. Ruam biasanya muncul pertama kali di area wajah, terutama di belakang telinga, kemudian menyebar ke leher, badan, tangan, hingga kaki secara bertahap.
Pada tahap awal, gejala campak sering kali menyerupai flu biasa sehingga banyak orang tua tidak menyadari bahwa anaknya sedang terinfeksi. Selama satu hingga tiga hari pertama, anak biasanya hanya mengalami demam, batuk, pilek, dan mata merah. Ruam baru muncul pada hari keempat atau kelima, sehingga diagnosis sering terlambat dilakukan.
Campak Sangat Mudah Menular
Salah satu hal yang membuat campak berbahaya adalah tingkat penularannya yang sangat tinggi. Virus campak dapat menyebar melalui percikan batuk atau bersin (droplet), melalui udara (airborne), maupun melalui benda yang terkontaminasi virus. Bahkan, virus mampu bertahan di udara hingga sekitar dua jam setelah penderita meninggalkan ruangan, terutama di ruangan tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk.
Yang perlu diwaspadai, penderita campak sudah dapat menularkan virus sejak empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelah ruam pertama terlihat. Artinya, anak yang tampak hanya mengalami batuk pilek ringan pun sebenarnya sudah dapat menularkan virus kepada orang lain. Kondisi inilah yang menyebabkan penyebaran campak berlangsung sangat cepat, terutama di sekolah, tempat bermain, atau lokasi dengan banyak orang berkumpul. Menurut dr. Drey, satu penderita campak bahkan dapat menularkan penyakit ini kepada 9 hingga 18 orang lainnya.
Siapa yang Paling Berisiko?
Campak dapat menyerang semua kelompok usia, baik anak-anak maupun orang dewasa. Namun, anak berusia di bawah lima tahun yang belum mendapatkan imunisasi merupakan kelompok yang paling rentan mengalami infeksi dan komplikasi. Risiko juga meningkat pada anak dengan gizi kurang, penderita gangguan sistem kekebalan tubuh, atau pasien yang sedang menjalani terapi yang menurunkan daya tahan tubuh.
Banyak orang menganggap campak hanya menyebabkan demam dan ruam. Padahal, penyakit ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius. Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah infeksi telinga tengah dan diare. Pada kasus yang lebih berat, campak dapat menyebabkan pneumonia atau radang paru, yang menjadi penyebab utama kematian akibat campak. Selain itu, meskipun lebih jarang terjadi, campak juga dapat menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak yang berpotensi mengancam jiwa.
Untuk itu, orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi, kejang, sesak napas, penurunan kesadaran, tidak mau makan atau minum, maupun tanda-tanda dehidrasi. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
Imunisasi Menjadi Perlindungan Terbaik
Menurut dr. Drey, imunisasi merupakan cara paling efektif untuk mencegah campak berat dan berbagai komplikasinya. Selain melindungi individu, imunisasi juga membentuk kekebalan kelompok (herd immunity), sehingga membantu melindungi anak-anak yang tidak dapat menerima vaksin karena kondisi medis tertentu.
Jadwal imunisasi campak diberikan pada usia 9 bulan, 18 bulan, serta usia 5–7 tahun melalui program imunisasi pemerintah. Apabila seorang anak belum pernah mendapatkan vaksin sesuai jadwal, imunisasi tetap dapat diberikan sebagai imunisasi kejar (catch-up), sehingga tidak ada kata terlambat untuk memperoleh perlindungan.
Langkah Pencegahan di Rumah
Selain imunisasi, orang tua dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk mengurangi risiko penularan campak :
- Hindari membawa anak ke tempat yang ramai apabila tidak diperlukan,
- Gunakan masker saat berada di kerumunan,
- Biasakan mencuci tangan,
- Hindari menyentuh mata, hidung, atau mulut dengan tangan yang belum bersih. Orang tua yang baru pulang dari luar rumah juga dianjurkan mandi dan berganti pakaian sebelum berinteraksi dengan anak.
Apabila anak telah terdiagnosis campak, berikan istirahat yang cukup, pastikan kebutuhan cairan dan nutrisi terpenuhi, serta segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan. Salah satu terapi penting yang diberikan pada penderita campak adalah vitamin A, yang membantu mengurangi risiko komplikasi.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
