23 July 2026
Suasana diskusi interaktif workshop Lets Children Talk yang digelar Radio Heartline memperingati Hari Anak Nasional 2026

Hari Anak Nasional 2026, Radio Heartline Ajak Orang Tua Belajar Mendengarkan Lewat Workshop “Let’s Children Talk”

Radio Tangerang Heartline FM – Memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Radio Heartline menggelar workshop bertajuk “Let’s Children Talk” sebagai ruang dialog yang mempertemukan orang tua, pendidik, psikolog, dan anak-anak untuk membangun komunikasi yang lebih sehat di dalam keluarga.

Kegiatan yang berlangsung hangat ini menghadirkan empat narasumber ahli:

  • Claudia Inkiriwang – Owner Sekolah Surya Bangsa

  • Indra Charismiadji – Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Universitas Harkat Negeri

  • Monica Sulistiawati, M.Psi., Psikolog – Psikolog Klinis sekaligus Founder Bravely Brave

  • Charlotte Priyatna, M.Pd. – Pakar Parenting dan Pendiri Sekolah Athalia

Melalui tema “Let’s Children Talk”, workshop mengajak para orang tua menyadari bahwa setiap anak memiliki suara yang layak didengar. Komunikasi yang sehat dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan yang kuat antara orang tua dan anak.

Pakar parenting Charlotte Priyatna

Pakar parenting Charlotte Priyatna menekankan bahwa komunikasi dalam keluarga tidak hanya berbicara, tetapi juga kemampuan untuk mendengarkan.

“Komunikasi itu dua arah,” ujarnya.

Menurut Charlotte, momen makan bersama dan menjelang waktu tidur merupakan waktu terbaik bagi keluarga untuk saling berbagi cerita. Pada saat-saat tersebut, anak cenderung lebih rileks sehingga lebih mudah mengungkapkan pengalaman maupun perasaannya. Ia juga mengungkapkan bahwa keterbukaan harus dimulai dari orang tua.

“Kalau kita ingin orang lain terbuka kepada kita, maka kita juga harus lebih dulu terbuka,” katanya.

Psikolog Klinis Monica Sulistiawati

Sementara itu, Psikolog Klinis Monica Sulistiawati menjelaskan bahwa ketika seorang anak berbicara tetapi tidak didengarkan, terdapat dua kemungkinan yang terjadi:

  1. Anak merasa tidak memiliki koneksi emosional maupun penerimaan dari orang tuanya.

  2. Anak kehilangan ruang yang aman dan nyaman untuk mengekspresikan dirinya.

Kondisi tersebut, menurut Monica, dapat berdampak pada perubahan perilaku maupun suasana hati anak.

“Ketika anak tidak didengarkan maka perilaku yang ditampilkan adalah perilaku yang mencari-cari perhatian,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa perilaku yang sering dianggap sebagai kenakalan atau pembangkangan sebenarnya dapat menjadi sinyal bahwa anak sedang membutuhkan perhatian dan ingin didengar oleh orang-orang terdekatnya.

Dari sudut pandang praktisi pendidikan, Indra Charismiadji menyarankan kepada orang tua untuk membiarkan anak mengambil keputusan sendiri. Ia menjelaskan bahwa dengan memberikan ruang mengambil keputusan, anak akan belajar berani menerima konsekuensinya.

Di sisi lain, Owner Sekolah Surya Bangsa Claudia Inkiriwang berpesan kepada anak-anak agar memberanikan diri saat ingin didengarkan.

“Jangan takut untuk ditolak, jangan takut untuk diabaikan,” katanya.

Workshop ini juga menghadirkan peserta dari berbagai sekolah swasta di Tangerang. Dalam sesi dialog, anak-anak diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangan mereka mengenai komunikasi di rumah:

Peserta Lets Children Talk 2026 - Aurorameu Chemistry Jovire

  • Aurorameu Chemistry Jovire (Siswa Sekolah Surya Bangsa): Mengaku bersyukur karena orang tuanya selalu menyediakan waktu ketika dirinya ingin berbagi cerita.

    “Kalau saya punya masalah di sekolah atau sekadar ingin bercerita, orang tua selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan,” ungkapnya.

  • Nathan (Siswa Kelas VI SD Athalia): Mengungkapkan bahwa dirinya biasanya melihat kondisi orang tuanya terlebih dahulu sebelum memulai percakapan.

    “Saya biasanya melihat dulu apakah orang tua sedang sibuk atau capek. Kalau mereka sudah lebih santai, baru saya mengajak bicara,” katanya.

Kesaksian para siswa tersebut menunjukkan bahwa anak-anak sebenarnya memiliki keinginan sederhana: didengarkan, dipahami, dan merasakan kehadiran orang tua dalam keseharian mereka.

Melalui workshop “Let’s Children Talk”, Radio Heartline berharap peringatan Hari Anak Nasional tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi momentum bagi setiap keluarga untuk membangun komunikasi yang lebih hangat, terbuka, dan penuh empati.

Sebab, bagi seorang anak, didengarkan bukan sekadar tentang memiliki kesempatan berbicara, melainkan tentang merasa dihargai, diterima, dan dicintai oleh orang-orang yang paling berarti dalam hidupnya.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=DKCK1U4duX4

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: