23 July 2026
Ilustrasi keluarga mengelola emosi dengan sehat

Tidak Semua Orang Harus Selalu Kuat: Belajar Menerima dan Mengelola Emosi dengan Sehat

Radio Tangerang Heartline FM – Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang sering mendengar kalimat seperti “harus kuat”, “jangan menyerah”, atau “jangan sedih”. Kalimat tersebut memang sering diberikan dengan niat baik, tetapi tanpa disadari bisa membuat seseorang merasa harus selalu terlihat baik-baik saja, bahkan ketika sebenarnya sedang mengalami kelelahan emosional.

Melalui program Sketsa Keluarga Indonesia, Ragilzi dan Dika Arwan membahas tema menarik bersama Coach Henry Bun—seorang coach, trainer, writer, dan pemerhati resiliensi—mengenai pentingnya memahami bahwa tidak semua orang harus selalu kuat.

Menurut Henry, manusia bukanlah pribadi yang harus selalu berada dalam kondisi baik sepanjang waktu. Ada saatnya seseorang merasa bahagia, tetapi ada juga waktu ketika seseorang merasa sedih, kecewa, takut, atau lelah.

“Kita tidak perlu dituntut untuk selalu kuat, selalu hebat, dan selalu bahagia. Yang penting adalah kita belajar jujur dengan kondisi kita,” ujar Henry.

Kuat Bukan Berarti Tidak Boleh Menangis

Sejak kecil, banyak orang tumbuh dengan pemahaman bahwa menangis adalah tanda kelemahan. Anak laki-laki sering diberikan pesan seperti “jangan nangis, harus kuat”. Namun, tanpa disadari, pola pikir tersebut dapat membuat seseorang belajar menekan emosinya.

Padahal, emosi adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Sedih, marah, takut, dan kecewa bukanlah sesuatu yang harus selalu disembunyikan. Henry menjelaskan bahwa seseorang yang kuat secara emosional bukan berarti tidak pernah menangis atau tidak pernah merasa sedih. Sebaliknya, kekuatan emosional terlihat dari kemampuan seseorang mengenali, menerima, dan mengekspresikan emosinya dengan cara yang sehat.

“Ibarat panci yang terus dipanaskan tetapi tidak memiliki ruang untuk mengeluarkan uap, lama-lama tekanan akan semakin besar. Begitu juga dengan emosi manusia. Jika terus ditekan, suatu saat bisa meledak,” jelasnya.

Bahaya Memendam Emosi Terlalu Lama

Memendam emosi dalam waktu yang panjang dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental maupun hubungan sosial seseorang. Seseorang yang selalu berpura-pura baik-baik saja bisa mengalami:

  • Kelelahan emosional

  • Stres berkepanjangan

  • Sulit mengendalikan amarah

  • Menurunnya produktivitas

  • Terganggunya hubungan dengan orang lain

Menurut Henry, emosi yang tidak tersalurkan dapat muncul dalam bentuk yang tidak sehat. Seseorang yang terlihat tenang dari luar belum tentu benar-benar baik-baik saja di dalam dirinya. Karena itu, penting bagi setiap orang untuk berani mengatakan: “Hari ini saya sedang tidak baik-baik saja.” Hal tersebut bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kejujuran terhadap diri sendiri.

Toxic Positivity: Ketika Nasihat Positif Justru Menyakiti

Dalam menghadapi seseorang yang sedang mengalami masalah, banyak orang memberikan kalimat seperti:

  • “Harus bersyukur.”

  • “Pasti ada hikmahnya.”

  • “Jangan terlalu dipikirkan.”

Walaupun bertujuan menghibur, terkadang kalimat tersebut justru membuat seseorang merasa tidak dipahami. Fenomena ini dikenal dengan istilah toxic positivity, yaitu kondisi ketika seseorang terlalu memaksakan pemikiran positif hingga mengabaikan emosi negatif yang sedang dirasakan.

Menurut Henry, hal yang paling dibutuhkan seseorang yang sedang mengalami kesulitan bukan hanya kata-kata motivasi, melainkan kehadiran dan empati. Terkadang seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang, tetapi hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Cara Mengekspresikan Emosi dengan Sehat

Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi emosi. Namun, penting untuk memilih cara yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Develop healthy coping mechanisms

Beberapa cara sehat untuk mengekspresikan emosi antara lain:

  1. Menangis Jika Memang Membutuhkan

    Menangis adalah respons alami tubuh terhadap emosi. Tidak hanya ketika sedih, seseorang juga bisa menangis ketika merasa sangat bahagia. Menangis bukan tanda kelemahan, melainkan salah satu cara tubuh melepaskan tekanan emosional.

  2. Bercerita kepada Orang yang Dipercaya

    Memiliki support system atau orang yang dapat dipercaya untuk berbagi cerita dapat membantu seseorang merasa lebih ringan. Terkadang beban terasa lebih kecil ketika tidak dipikul sendirian.

  3. Menulis atau Journaling

    Menulis perasaan dalam sebuah catatan dapat menjadi cara untuk mengenali emosi yang sedang dirasakan. Metode ini sering disebut sebagai writing therapy, yaitu proses mengeluarkan emosi melalui tulisan.

  4. Melakukan Aktivitas Positif

    Olahraga, menjalankan hobi, berjalan santai, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan dapat membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks. Namun, perlu diperhatikan agar tidak menggunakan cara yang justru merugikan, seperti melampiaskan kemarahan kepada orang lain atau menjadikan makanan sebagai pelarian setiap kali stres.

Kapan Seseorang Membutuhkan Bantuan Profesional?

Merasa sedih, marah, atau kecewa adalah hal yang normal. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengetahui apakah seseorang membutuhkan bantuan lebih lanjut. Menurut Henry, ada tiga hal yang dapat menjadi perhatian:

  • Durasi: Apakah emosi tersebut berlangsung sangat lama dan tidak mengalami perubahan?

  • Intensitas: Apakah emosi semakin berat dan sulit dikendalikan?

  • Dampak terhadap Kehidupan: Apakah kondisi tersebut mulai mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, kesehatan, atau aktivitas sehari-hari?

Jika ketiga hal tersebut mulai terjadi, mencari bantuan profesional seperti konselor atau psikolog dapat menjadi langkah yang bijaksana.

Belajar Menerima Bahwa Kita Adalah Manusia

Pada akhirnya, manusia tidak diciptakan untuk selalu kuat setiap saat. Ada waktu untuk berjuang, tetapi ada juga waktu untuk berhenti sejenak dan mengakui bahwa diri sedang lelah.

Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah jatuh. Menjadi kuat berarti mampu mengenali keadaan diri, menerima emosi yang hadir, dan belajar bangkit dengan cara yang sehat. Karena terkadang, keberanian terbesar bukanlah berkata “Saya kuat”, melainkan berani mengatakan:

“Saya sedang tidak baik-baik saja, dan saya membutuhkan waktu untuk pulih.”

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=cke7Q6n5mc0

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: