28 July 2026
Pak Sus Bandono saat menjadi narasumber dalam program Wisdom of the Day memberikan edukasi mengenai bahaya sifat gunggungan

Redakan Sifat Gunggungan, Jangan Terjebak Pujian Berlebihan

Radio Tangerang Heartline FM – Pujian menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi banyak orang. Namun, ketika pujian diberikan secara berlebihan dan tidak sesuai dengan kenyataan, hal tersebut dapat membawa dampak negatif karena membuat seseorang kehilangan kendali diri dan sulit melakukan introspeksi.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Wisdom of the Day bersama narasumber Pak Sus Bandono dengan topik “Redakan Sifat Gunggungan”. Pak Sus menjelaskan makna gunggungan dan bagaimana seseorang perlu menyikapi pujian agar tidak terjebak dalam rasa bangga yang berlebihan.

Pak Sus Bandono menjelaskan bahwa istilah gunggungan berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti seseorang yang mendapatkan pujian atau sanjungan secara berlebihan.

Dalam bahasa Jawa, kata tersebut juga memiliki makna yang dekat dengan istilah bombongan atau umpan. Sementara dalam bahasa Indonesia, gunggungan dapat diartikan sebagai tindakan memuji seseorang secara berlebihan hingga tidak lagi sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Menurut Pak Sus, perbedaan utama antara pujian dan gunggungan terletak pada unsur berlebihan.

“Kata kuncinya adalah berlebihan. Ketika seseorang dipuji secara berlebihan, ada risiko orang tersebut menjadi lupa diri dan merasa dirinya lebih hebat dari kenyataan,” ujar Pak Sus.

Pujian Berlebihan Dapat Membuat Seseorang Lupa Diri

Pak Sus menjelaskan bahwa seseorang yang terus menerima sanjungan berlebihan dapat mengalami perubahan sikap. Pujian yang awalnya terasa menyenangkan bisa membuat seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain dan kehilangan kemampuan untuk melihat kekurangan dirinya.

Ketika seseorang terlalu percaya dengan pujian yang diterimanya, ia dapat menjadi mabuk kepayang atau merasa dirinya selalu benar.

“Orang yang digunggung harus mampu menahan diri agar tidak menerima semua pujian secara mentah-mentah,” jelasnya.

Menurutnya, kemampuan melakukan introspeksi menjadi hal penting agar seseorang tetap rendah hati meskipun mendapatkan penghargaan atau pengakuan dari orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua pujian harus ditolak. Pujian yang diberikan secara tulus dan berdasarkan fakta justru dapat menjadi motivasi untuk berkembang.

Pak Sus memberikan contoh seorang pemimpin yang memberikan apresiasi kepada bawahannya karena berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Pujian tersebut diberikan berdasarkan hasil nyata sehingga dapat membangun semangat dan meningkatkan kualitas diri.

Namun, berbeda jika pujian diberikan tanpa dasar yang jelas atau hanya bertujuan untuk mencari perhatian.

“Kita tidak bisa menolak semua pujian karena datang dari luar diri kita, tetapi kita harus mampu menyeleksi setiap pujian yang diterima,” kata Pak Sus.

Perbedaan Antara Memuji dan Menggunggung

Pak Sus menegaskan bahwa memuji dan menggunggung merupakan dua hal yang berbeda.

Memuji adalah bentuk apresiasi yang diberikan secara wajar dan sesuai kenyataan. Sementara menggunggung lebih mengarah kepada sanjungan berlebihan yang terkadang memiliki tujuan tertentu.

“Memuji itu baik, tetapi menggunggung dapat membuat hubungan menjadi tidak sehat karena bisa menjadi bentuk mencari muka atau menjilat,” ungkapnya.

Menurutnya, kebiasaan menggunggung tidak hanya merugikan orang yang menerima pujian, tetapi juga dapat merusak hubungan antara kedua pihak karena dibangun bukan berdasarkan kejujuran.

Fenomena gunggungan sering kali terjadi kepada orang-orang yang memiliki jabatan, kekuasaan, atau pengaruh besar.

Pak Sus mengatakan bahwa seorang pemimpin yang sering mendapatkan sanjungan berlebihan bisa saja merasa dirinya selalu benar. Padahal, seorang pemimpin tetap membutuhkan kritik dan masukan agar dapat mengambil keputusan yang tepat.

Ia mencontohkan bahwa dalam banyak situasi, seseorang yang sebelumnya banyak dipuji ketika memiliki jabatan bisa saja dijatuhkan ketika sudah tidak lagi berkuasa.

Karena itu, seorang pemimpin perlu tetap rendah hati dan tidak mudah terlena dengan pujian.

Pentingnya Kesadaran Diri dan Rendah Hati

Menurut Pak Sus, setiap orang memiliki potensi untuk terjebak dalam sifat gunggungan. Oleh sebab itu, seseorang harus memiliki kesadaran diri dan mampu mengukur apakah pujian yang diterimanya memang sesuai kenyataan atau hanya sekadar sanjungan.

“Biasanya orang yang senang digunggung adalah orang yang mencari pengakuan karena merasa kurang dalam dirinya,” jelasnya.

Ia mengingatkan agar setiap orang tidak menjadikan pujian sebagai ukuran utama nilai dirinya, melainkan terus berusaha memperbaiki diri melalui evaluasi dan kerja nyata.

Sebagai penutup, Pak Sus Bandono mengutip pesan dari Sri Susuhunan Pakubuwana IV melalui karya Wulang Reh yang mengingatkan agar seseorang, terutama yang memiliki kedudukan tinggi, tidak mudah terlena oleh pujian.

Pesan tersebut mengajarkan bahwa semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin penting untuk tetap rendah hati dan mampu menyaring setiap perkataan yang diterima.

“Kalau Anda menjadi orang besar, jangan gunggungan. Cerna apa yang kamu terima dari orang lain sewajarnya.”

Melalui program Wisdom of the Day, pendengar diajak untuk memahami bahwa apresiasi memang penting, tetapi kerendahan hati jauh lebih penting agar seseorang tetap memiliki pandangan yang jernih terhadap dirinya sendiri.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=w3dlTXRG5Uw

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: