Di Balik Label “Anak Nakal”, Memahami Perilaku Anak Tanpa Menghakimi
Radio Tangerang Heartline FM – Melabeli anak sebagai “anak nakal” masih menjadi kebiasaan yang sering dilakukan orang dewasa ketika melihat perilaku anak yang dianggap tidak sesuai dengan aturan. Padahal, pelabelan tersebut dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap perkembangan psikologis anak dan membentuk cara mereka memandang diri sendiri.
Masrinda Ambarita – Psikoedukator & Konselor menjelaskan bahwa istilah “anak nakal” sejatinya bukan menggambarkan identitas anak, melainkan sebuah label yang diberikan karena perilaku tertentu yang dinilai menyimpang dari norma atau harapan orang dewasa.
“Begitu anak tidak berperilaku sesuai dengan standar anak baik, kita langsung gampang menyebutnya anak nakal. Padahal kita belum melihat situasi apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Rinda dalam program Sketsa Keluarga Indonesia.
Menurut Rinda, penggunaan label negatif secara berulang dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya. Anak yang terus-menerus disebut nakal berpotensi mempercayai label tersebut hingga akhirnya benar-benar berperilaku sesuai dengan cap yang diberikan.
Ia menjelaskan kondisi tersebut dikenal sebagai self-fulfilling prophecy, yaitu ketika seseorang bertindak sesuai dengan ekspektasi atau label yang terus diterimanya.
“Kalau kita terlalu sering menyebut anak itu anak nakal, lama-lama dia berpikir, ‘Ya sudah, memang aku anak nakal.’ Akhirnya dia merasa tidak ada gunanya berubah karena tetap akan dianggap nakal,” jelasnya.
Pahami Penyebab di Balik Perilaku Anak
Rinda menilai setiap perilaku anak selalu memiliki penyebab. Karena itu, orang tua tidak seharusnya terburu-buru memberikan penilaian tanpa memahami kondisi yang sedang dialami anak.
Ia mencontohkan seorang balita yang berlari atau berteriak saat menghadiri acara orang dewasa bukan berarti sengaja membuat keributan. Bisa jadi anak merasa bosan karena harus duduk diam dalam waktu lama atau belum mampu mengungkapkan apa yang dirasakannya.
“Jangan langsung menyebut anak nakal, tetapi lihat dulu situasinya. Kadang anak hanya sedang bosan, lapar, tidak nyaman, atau sedang mencari perhatian,” katanya.
Rinda juga mengingatkan bahwa perilaku membantah sering kali muncul sesuai dengan tahap perkembangan anak. Pada masa remaja, misalnya, anak sedang berada dalam fase mencari jati diri dan mulai belajar membentuk identitasnya.
Menurutnya, apabila orang tua hanya menuntut anak untuk patuh tanpa membuka ruang diskusi, maka setiap perbedaan pendapat akan dianggap sebagai pembangkangan.
“Kita perlu memahami fase perkembangan anak. Remaja sedang belajar menjadi individu sehingga mereka perlu diajak berdiskusi, bukan hanya dituntut untuk selalu menurut,” ujarnya.
Ganti Label dengan Komunikasi
Daripada menyebut anak sebagai nakal, Rinda menyarankan orang tua membangun komunikasi yang lebih empatik. Orang tua dapat mengajak anak berbicara mengenai apa yang sedang dirasakan dan mencari penyebab di balik perilakunya.
Menurutnya, pertanyaan sederhana seperti “Kamu lagi kenapa?” atau “Perasaan apa yang sedang kamu rasakan?” jauh lebih membantu dibandingkan langsung menghakimi.
“Kita tanya sama dia, ‘Kamu lagi apa? Perasaan apa yang lagi kamu rasakan?’ Ketika kita melihat situasinya, kita bisa lebih berempati kepada anak,” ungkapnya.
Orang Tua Adalah Tempat yang Aman
Di tengah kesibukan bekerja, Rinda mengakui tidak semua orang tua dapat selalu mendampingi anak setiap saat. Namun, ia menekankan pentingnya membangun quality time dan menjaga komunikasi agar anak tetap merasa diperhatikan.
Selain membuat aturan yang konsisten di rumah, orang tua juga perlu menghadirkan suasana yang membuat anak merasa aman untuk bercerita tentang apa pun yang dialaminya.
“Anak yang kurang mendapatkan perhatian sering kali mencari perhatian melalui perilaku yang dianggap negatif. Karena itu, kehadiran emosional orang tua jauh lebih penting dibanding sekadar memenuhi kebutuhan materi,” jelasnya.
Dalam mendidik anak, Rinda membedakan antara hukuman dan disiplin. Hukuman hanya membuat anak takut mengulangi kesalahan, sedangkan disiplin membantu anak memahami alasan di balik sebuah aturan sehingga ia belajar bertanggung jawab.
Menurutnya, pendekatan disiplin akan membentuk kebiasaan yang lebih baik dibandingkan sekadar memberikan hukuman ketika anak melakukan kesalahan.
Tidak Ada Kata Terlambat untuk Berubah
Bagi orang tua yang merasa selama ini terlalu sering melabeli anak sebagai nakal, Rinda mengatakan perubahan selalu bisa dimulai dari sekarang. Langkah pertama adalah mengubah cara berkomunikasi, mengakui kesalahan jika diperlukan, dan mulai membangun hubungan yang lebih hangat dengan anak.
“Tidak ada orang tua yang sempurna. Yang terpenting adalah hadir secara emosional, menjadi tempat yang aman bagi anak, dan jangan cepat memberikan label,” tuturnya.
Di akhir perbincangan, Rinda mengajak para orang tua untuk melihat perilaku anak dengan lebih bijak. Menurutnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang mau mendengarkan, memahami, dan terus mendampingi mereka dalam setiap tahap pertumbuhan.
“Peluk mereka, sayangi mereka, dan jadilah tempat yang aman. Ketika anak merasa aman bersama orang tuanya, mereka akan lebih mudah bertumbuh menjadi pribadi yang baik.”
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
