31 July 2026
Djie Tek Huat saat membagikan kesaksian perjalanan hidup dan pemulihan keluarga lewat keputusan mengampuni

Dari Luka Menuju Pemulihan: Perjalanan Seorang Anak yang Belajar Mengampuni

Radio Tangerang Heartline FM – Ada luka yang tampak jelas, tetapi ada pula yang diam-diam menetap dalam hati selama bertahun-tahun. Luka seperti itu tidak selalu terlihat, namun mampu membentuk cara seseorang berpikir, bersikap, bahkan menentukan arah hidupnya. Itulah yang dialami Djie Tek Huat , seorang pria yang sejak kecil harus menghadapi kenyataan pahit perceraian kedua orang tuanya.

Saat itu usianya masih sangat belia. Ia masih duduk di bangku sekolah dasar ketika ayah dan ibunya berpisah. Adiknya bahkan baru berusia sekitar satu tahun. Sejak saat itu, ia tumbuh tanpa sosok ayah di rumah.

“Saya pikir semua sudah selesai. Ternyata luka itu tersimpan di alam bawah sadar saya,” kenangnya.

Kehilangan figur ayah membuat masa kecilnya dipenuhi rasa minder. Ia lebih sering menyendiri dibanding bergaul dengan teman-temannya. Setelah lulus sekolah, ia mengaku tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Keinginan untuk diakui dan dihargai justru membawanya ke arah yang salah.

“Saya ingin menjadi yang terbaik, tetapi dalam hal yang negatif. Saya melakukan banyak kenakalan hanya supaya dianggap dan dihargai orang.”

Tanpa disadari, luka masa kecil itu perlahan menjelma menjadi kemarahan, ego yang tinggi, dan karakter pendendam. Di dalam keluarganya sendiri, ia mudah tersinggung dan sulit mengendalikan emosi. Bahkan selama hampir 12 tahun ia memutus hubungan dengan keluarganya.

“Saya pergi meninggalkan rumah dan hampir 12 tahun tidak berhubungan dengan keluarga,” ujarnya.

Luka yang Menurun Menjadi Karakter

Djie Tek Huat  menyadari bahwa kebenciannya kepada sang ayah ternyata memengaruhi kehidupannya jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan. Kenangan ketika melihat ayahnya merusak rumah, menghancurkan perabotan, hingga akhirnya dipenjara karena laporan ibunya, menjadi memori yang terus tersimpan.

Ia tidak pernah benar-benar memproses rasa sakit itu.

Akibatnya, karakter yang dahulu ia benci justru perlahan muncul dalam dirinya.

“Kalau ada orang menyakiti saya, saya akan balas lebih parah. Saya pernah berpikir, ‘Kalau kamu pukul saya sekali, saya bisa hancurkan hidup kamu.'”

Sikap keras itu terbawa hingga kehidupan rumah tangganya. Setelah menikah pada 2002, konflik demi konflik mulai muncul. Ego menjadi penguasa dalam keluarga mereka.

“Saya sudah melayani Tuhan waktu itu, tetapi sebenarnya saya melayani diri sendiri. Tuhan tidak benar-benar saya libatkan.”

Rumah tangganya nyaris berakhir dengan perceraian. Usaha yang dibangun pun mengalami kehancuran. Seluruh aset perlahan habis. Ia mengaku berada di titik terendah dalam hidupnya.

Sebuah Pertemuan yang Mengubah Segalanya

Di tengah keterpurukan itu, Tuhan memakai banyak cara untuk menjamah hidupnya. Salah satunya melalui seorang teman yang sedang menderita stroke. Temannya itulah yang mengajaknya bergabung dalam sebuah komunitas persekutuan orang percaya.

Di sana, Djie Tek Huat  mendengar banyak kesaksian tentang bagaimana Tuhan memulihkan kehidupan orang-orang yang hancur.

“Sebesar apa pun masalah kita, kalau Tuhan turun tangan, pasti ada pemulihan.”

Namun, titik balik terbesar justru terjadi ketika keluarganya berusaha mempertemukan kembali kedua orang tuanya.

Saat itu sang ibu telah lama terbaring sakit dan tidak lagi mampu berbicara ataupun bergerak dengan bebas. Mereka meyakini masih ada luka yang belum selesai di hati sang ibu terhadap ayah mereka.

Ketika sang ayah datang dan bersujud di hadapan istrinya untuk meminta maaf, Djie Tek Huat  menyaksikan air mata mengalir dari mata ibunya.

Peristiwa sederhana itu menjadi pengalaman yang mengubah cara pandangnya tentang pengampunan.

Tak lama kemudian, sang ayah meninggal dunia, disusul ibunya beberapa bulan setelahnya.

Peristiwa itu menjadi pelajaran bahwa pengampunan bukan sekadar kata-kata, melainkan keputusan hati untuk melepaskan beban yang selama ini mengikat kehidupan.

Pengampunan yang Memerdekakan

Djie Tek Huat  mengakui, mengampuni bukan berarti melupakan semua rasa sakit.

“Secara manusia kita tidak bisa menghapus ingatan itu. Yang bisa kita lakukan adalah membangun jalan baru dengan firman Tuhan.”

Menurutnya, luka mungkin tetap ada dalam ingatan, tetapi respons terhadap luka itulah yang berubah ketika seseorang menyerahkan hidup kepada Tuhan.

Sejak memilih mengampuni ayahnya, ia merasakan damai yang belum pernah ia alami sebelumnya.

“Beban di hati itu hilang. Hidup tetap punya masalah, tetapi respons kita terhadap masalah menjadi berbeda.”

Pemulihan pun mulai terjadi satu demi satu. Rumah tangganya dipulihkan. Hubungan dengan keluarga kembali baik. Usaha yang sempat hancur perlahan bangkit kembali.

Berawal dari modal pinjaman sebesar Rp10 juta dari kakaknya, ia membangun usaha hingga akhirnya memiliki perusahaan.

Baginya, semua itu bukan semata hasil kerja keras, melainkan anugerah Tuhan yang bekerja setelah ia belajar mengampuni.

Warisan Terbesar Bukan Harta

Meski kini harus hidup dengan berbagai penyakit kronis, mulai dari diabetes, gangguan ginjal, tekanan darah tinggi, hingga harus rutin mengonsumsi berbagai obat setiap hari, semangatnya tidak pernah padam.

Ia mengaku tidak ingin penyakit menjadi alasan untuk berhenti melayani ataupun berkarya.

“Bukan tubuh saya yang kuat, tetapi Tuhan yang memberi kekuatan.”

Di tengah segala keterbatasan fisiknya, ada satu hal yang kini menjadi prioritas utama dalam hidupnya: meninggalkan warisan iman bagi anak-anaknya.

Ia pernah menyadari bahwa anak-anak sangat mudah meniru orang tua. Bahkan ketika mengajari anaknya mengemudi, ia melihat bagaimana emosinya dahulu tercermin dalam cara sang anak bereaksi di jalan.

Sejak saat itu, ia memutuskan untuk berhenti mengeluarkan kata-kata negatif di depan anak-anaknya.

“Anak adalah perekam yang luar biasa. Apa yang dilakukan orang tua akan mereka tiru.”

Baginya, warisan terbaik bukanlah kekayaan ataupun jabatan, melainkan teladan hidup yang mengasihi Tuhan.

Bangkit Dimulai dari Melepaskan

Di penghujung wawancara, Djie Tek Huat  menyampaikan pesan sederhana bagi siapa pun yang masih menyimpan luka.

Menurutnya, seseorang tidak akan pernah benar-benar bangkit jika terus memelihara kebencian di dalam hati.

“Kalau kita mau bangkit dari keterpurukan, kita harus melepaskan beban masa lalu. Kita harus intim dengan Tuhan, karena hanya Tuhan yang mampu mengubah hidup kita.”

Perjalanan hidup Djie Tek Huat  menunjukkan bahwa pengampunan bukanlah pembenaran atas kesalahan orang lain. Pengampunan adalah keputusan untuk berhenti hidup sebagai tawanan masa lalu.

Luka mungkin tidak dapat dihapus dari ingatan, tetapi ketika diserahkan kepada Tuhan, luka itu dapat berubah menjadi kesaksian yang menguatkan banyak orang.

Sebab terkadang, jalan menuju pemulihan memang dimulai dari keberanian untuk mengampuni.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=aecUFQouosA

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: