Saat Harapan yang Tak Terucap Menjadi “Silent Killer” dalam Pernikahan
Radio Tangerang Heartline FM – Di balik senyum pasangan yang tampak baik-baik saja, terkadang tersimpan harapan-harapan kecil yang tak pernah diungkapkan. Harapan itu tidak terdengar, tidak terlihat, tetapi perlahan mengikis kehangatan sebuah hubungan. Tanpa disadari, inilah yang sering menjadi penyebab retaknya pernikahan.
Topik tersebut diangkat dalam program Keluarga Indonesia bersama narasumber Illyana Widodo, M.Pd.K., ACC. – Tim Parenting Yayasan Busur Emas. Ia menyebut fenomena ini sebagai “Unspoken Expectation: The Silent Killer in Marriage”—ekspektasi yang tidak pernah diucapkan, namun diam-diam merusak hubungan.
“Banyak pernikahan bukan hancur karena konflik besar, tetapi karena harapan-harapan kecil yang tidak pernah dikomunikasikan,” ujar Ily.
Menurutnya, setiap orang yang menikah pasti membawa harapan. Ingin dicintai, dihargai, didengar, hingga didukung pasangan adalah sesuatu yang wajar. Namun masalah muncul ketika harapan tersebut hanya disimpan dalam hati.
Harapan yang tidak pernah diungkapkan akan melahirkan kekecewaan. Kekecewaan yang terus dipendam berubah menjadi frustrasi, lalu berkembang menjadi luka batin. Jika luka itu terus dipelihara, keintiman pasangan perlahan memudar.
“Sering kali konflik yang terlihat hanyalah permukaan. Di balik persoalan komunikasi, keuangan, anak, atau mertua, sebenarnya ada ekspektasi yang tidak pernah diungkapkan,” jelasnya.
Ekspektasi Sehat dan Tidak Sehat
Ilymenegaskan bahwa memiliki ekspektasi bukanlah sebuah kesalahan. Justru harapan dapat menjadi pendorong pasangan untuk bertumbuh bersama. Yang perlu dibedakan adalah healthy expectation dan unhealthy expectation.
Ekspektasi yang sehat bersifat realistis, dapat dikomunikasikan, dan memberi ruang bagi suami maupun istri untuk belajar menjadi lebih baik. Misalnya berharap pasangan belajar lebih jujur, saling menghargai, memperbaiki komunikasi, atau bersama-sama membangun hubungan yang lebih sehat.
Sebaliknya, ekspektasi yang tidak sehat muncul ketika seseorang menuntut pasangan menjadi sempurna atau berharap pasangan mampu membaca isi hati tanpa perlu diberi tahu.
“Ibarat kontrak yang tidak pernah ditulis. Kita merasa pasangan sudah tahu isinya, padahal tidak pernah membicarakannya bersama,” katanya.
Kalimat seperti “Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu pasti tahu apa yang aku mau” atau “Kamu harus membuatku bahagia” menjadi contoh ekspektasi yang tidak realistis. Menurut Iana, tidak ada manusia yang mampu memikul tuntutan sebesar itu.
Bukan Mengubah Pasangan, Tetapi Memulai dari Diri Sendiri
Salah satu unspoken expectation yang paling sering muncul dalam rumah tangga adalah keyakinan bahwa pasanganlah yang harus berubah terlebih dahulu.
Ily mengatakan, banyak orang sebelum menikah mampu menerima pasangannya apa adanya. Namun setelah menikah, fokus perlahan bergeser menjadi keinginan mengubah pasangan sesuai harapan pribadi.
“Ketika dua-duanya sama-sama menunggu pasangannya berubah lebih dulu, konflik akan semakin meruncing.” Kata Ily.
Ia mengajak setiap pasangan melakukan refleksi diri setiap kali konflik terjadi. Daripada terus menunjuk kesalahan pasangan, lebih baik bertanya, “Apa yang perlu saya ubah dalam diri saya?”
Perubahan pribadi, menurutnya, jauh lebih berpengaruh daripada memaksakan perubahan pada orang lain. Dengan bertumbuh secara emosional dan spiritual, seseorang justru dapat memberikan pengaruh positif kepada pasangannya.
Berhenti Mengontrol, Mulai Mengomunikasikan
Dalam kehidupan rumah tangga, Ilymembedakan antara mengontrol pasangan dan menyampaikan harapan.
Mengontrol muncul ketika seseorang memaksakan standar pribadi melalui kalimat-kalimat “seharusnya”.
“Semakin sering kita menggunakan kata ‘harusnya’, sebenarnya kita sedang memaksakan standar kita kepada pasangan,” jelasnya.
Sebaliknya, komunikasi yang sehat menggunakan bahasa yang lebih asertif. Misalnya, daripada berkata, “Kamu selalu sibuk dan tidak pernah punya waktu untuk keluarga,” seseorang dapat mengatakan, “Aku merasa kesepian akhir-akhir ini. Boleh tidak kita menjadwalkan waktu berdua setiap dua minggu sekali? Aku akan merasa lebih diperhatikan.”
Pesannya sama, tetapi cara penyampaiannya berbeda. Yang satu memicu pertahanan diri pasangan, sementara yang lain membuka ruang dialog.
Konflik Bukan Musuh Pernikahan
Banyak orang menganggap rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga tanpa konflik. Namun Ilymemiliki pandangan berbeda.
Menurutnya, konflik adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari karena dua individu yang berbeda sedang belajar hidup bersama. Yang menentukan kualitas hubungan bukan ada atau tidaknya konflik, melainkan bagaimana pasangan menyikapinya.
“Konflik bukan tanda kegagalan pernikahan, tetapi kesempatan untuk bertumbuh,”ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa diam bukan berarti tidak sedang berkonflik. Konflik yang dipendam tetaplah konflik, hanya saja tidak terlihat.
Pasangan Bukan Sumber Kebahagiaan
Menjelang akhir perbincangan, Ily menyampaikan refleksi yang menjadi inti pembahasannya.
Banyak orang tanpa sadar berharap pasangan menjadi sumber utama kebahagiaan. Padahal, menurutnya, pasangan hanyalah kontributor kebahagiaan, bukan satu-satunya sumber.
“Kebahagiaan adalah hasil dari pertumbuhan pribadi,” katanya.
Ia mengajak pasangan meninggalkan fantasi tentang pernikahan yang selalu indah seperti di film. Tidak ada pasangan yang sempurna, tidak ada rumah tangga tanpa konflik.
Yang terpenting bukan menemukan pasangan yang sempurna, melainkan menjadi pribadi yang terus belajar, bertumbuh, dan mampu mengasihi dengan pengampunan.
Sebab pada akhirnya, hubungan yang sehat bukanlah hubungan tanpa ekspektasi. Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana dua orang berani mengungkapkan harapan, menyelaraskannya dengan kenyataan, lalu berjalan bersama untuk terus bertumbuh.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
