Saat Anak Mulai Dewasa, Orang Tua Harus Belajar Melepaskan
Radio Tangerang Heartline FM – Melepas anak yang mulai memasuki usia dewasa menjadi salah satu tantangan terbesar bagi banyak orang tua. Keinginan untuk terus melindungi dan mengarahkan sering kali membuat orang tua sulit memberikan kepercayaan kepada anak. Padahal, kemandirian hanya dapat tumbuh ketika anak diberi kesempatan untuk bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Hal tersebut disampaikan praktisi parenting Timothy Ivan dalam program Sketsa Keluarga Indonesia. Menurutnya, orang tua perlu memahami bahwa peran mereka akan berubah seiring bertambahnya usia anak, meski status sebagai orang tua tidak akan pernah berubah.
Timothy mengatakan, orang tua perlu membedakan antara status dan peran dalam mendidik anak. Status sebagai orang tua akan tetap melekat seumur hidup, tetapi cara mendampingi anak harus menyesuaikan dengan fase kehidupannya.
“Kalau secara status memang betul, anak tetap anak dan orang tua tetap orang tua. Tetapi peran itu bisa berubah sesuai dengan musim kehidupan anak,” ujar Timothy Ivan.
Ia mengibaratkan anak seperti anak panah yang harus dipersiapkan dengan baik sebelum dilepaskan menuju sasarannya. Menurutnya, tugas orang tua bukan sekadar melepas, tetapi terlebih dahulu membekali anak dengan karakter, disiplin, nilai-nilai kehidupan, serta kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Kedewasaan Tidak Ditentukan oleh Usia
Menurut Timothy, banyak orang tua masih menganggap seseorang dewasa karena faktor umur. Padahal, ukuran kedewasaan sesungguhnya adalah kemampuan seseorang dalam menerima dan menjalankan tanggung jawab.
“Kedewasaan itu tidak diukur dari banyaknya usia, tetapi diukur dari penerimaan akan tanggung jawab,” katanya.
Karena itu, ia mendorong orang tua mulai memberikan ruang kepada anak untuk mengambil keputusan sendiri sambil tetap memberikan arahan dan pendampingan yang sehat.
Timothy menilai, salah satu kesalahan yang kerap dilakukan orang tua adalah terlalu ikut campur dalam kehidupan anak. Kondisi tersebut dapat menghambat anak belajar mandiri.
“Kalau kita terlalu ikut campur dalam kehidupan anak, terlalu menentukan, anak kita tentu tidak bisa menjadi orang yang mandiri,” jelasnya.
Ia mengingatkan, orang tua tidak akan selalu berada di sisi anak. Oleh karena itu, kemampuan mengambil keputusan harus mulai dilatih sejak dini agar anak mampu menghadapi kehidupannya sendiri.
Kenali Potensi Unik Setiap Anak
Timothy juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki karakter, bakat, dan minat yang berbeda. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak memaksakan cita-cita berdasarkan pengalaman atau keinginannya sendiri.
“Setiap anak itu unik. Tugas kita sebagai orang tua adalah mengenali potensi yang Tuhan tanamkan dalam diri anak kita,” ujarnya.
Menurutnya, mengenali potensi anak dapat dilakukan dengan hadir dalam kehidupan mereka, meluangkan waktu bersama, berdiskusi, dan memperhatikan minat yang ditunjukkan sejak usia dini.
Dalam mendidik anak, Timothy menyarankan orang tua untuk membedakan persoalan yang berkaitan dengan nilai kehidupan dan yang hanya menyangkut selera pribadi.
“Untuk hal-hal yang berhubungan dengan nilai kita harus ketat, tetapi untuk hal-hal yang berhubungan dengan selera, fleksibel saja,” katanya.
Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan integritas perlu diajarkan secara konsisten. Sementara itu, pilihan yang hanya berkaitan dengan preferensi pribadi dapat didiskusikan bersama tanpa harus dipaksakan.
Tidak Ada Kata Terlambat Memperbaiki Hubungan
Bagi orang tua yang merasa gagal membangun kedekatan dengan anak, Timothy menegaskan bahwa perubahan selalu dimungkinkan.
“Tidak ada kata terlambat. Mulailah dengan meminta maaf dan membangun kembali hubungan yang lebih berkualitas dengan anak,” ungkapnya.
Menurutnya, keberanian orang tua untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf justru dapat menjadi awal terciptanya hubungan yang lebih sehat dan terbuka.
Timothy menekankan bahwa ketika anak telah dewasa, peran orang tua bukan lagi sebagai pengendali, melainkan sebagai pendamping dan sumber kebijaksanaan. Pengalaman hidup yang dimiliki orang tua menjadi bekal berharga yang dapat dibagikan kepada anak ketika mereka menghadapi berbagai tantangan.
“Support yang bisa kita berikan kepada anak adalah wisdom kita, pengalaman hidup yang bisa menjadi bekal bagi mereka,” tuturnya.
Ia berharap para orang tua dapat menjalani masa transisi tersebut dengan bijak. Melepaskan anak bukan berarti kehilangan peran, melainkan memberikan kepercayaan agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, sekaligus tetap menjadikan orang tua sebagai tempat pulang untuk meminta nasihat.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
