Memberi Ruang Anak untuk Bersuara, Bekal Penting Membentuk Pribadi Percaya Diri
Radio Tangerang Heartline FM – Memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapat bukan berarti membiarkan anak membangkang. Justru, kebiasaan mendengar suara anak menjadi salah satu cara terbaik untuk membangun kepercayaan diri, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan berkomunikasi sejak usia dini. Hal tersebut disampaikan oleh praktisi pendidikan keluarga, motivator, dan penulis Nyimas Diane W., dalam sebuah dialog di Heartline FM.
Menurut Nyimas, setiap anak memiliki hak untuk berpartisipasi dan menyampaikan pendapatnya sebagaimana diatur dalam prinsip perlindungan anak. Ia menjelaskan bahwa orang tua perlu membedakan antara anak yang sedang belajar mengemukakan pendapat dengan anak yang benar-benar membangkang.
“Kemampuan menyampaikan pendapat adalah bagian dari soft skill yang perlu dilatih sejak dini. Jangan langsung menganggap anak membantah hanya karena memiliki pandangan yang berbeda,” ujarnya.
Nyimas mengatakan pola asuh demokratis menjadi pendekatan yang paling dianjurkan karena memberi ruang bagi anak untuk berbicara sekaligus belajar mendengarkan. Sebaliknya, pola asuh yang terlalu otoriter sering kali membuat anak takut salah, enggan berbicara, dan kehilangan keberanian untuk mengemukakan ide. Menurutnya, orang tua juga perlu melatih kemampuan mendengarkan secara utuh atau mindful listening, yaitu hadir sepenuhnya ketika anak berbicara tanpa terdistraksi oleh gawai maupun pekerjaan. Selain mendengarkan, orang tua juga dianjurkan melibatkan anak dalam pengambilan keputusan sederhana, seperti memilih pakaian, menentukan aktivitas akhir pekan, atau berdiskusi mengenai isu-isu yang sedang ramai diperbincangkan sesuai usia anak. Dengan cara tersebut, anak belajar mempertimbangkan pilihan, menyampaikan alasan, serta bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua sebaiknya tidak langsung memarahi, melainkan menjadikan pengalaman tersebut sebagai proses belajar.
Nyimas juga mengingatkan pentingnya memberikan apresiasi terhadap setiap usaha anak, sekecil apa pun pencapaiannya. Kalimat-kalimat negatif seperti “kamu bodoh” atau “kamu tidak tahu apa-apa” sebaiknya dihindari karena dapat tertanam dalam memori anak dan memengaruhi rasa percaya dirinya hingga dewasa. Sebaliknya, afirmasi positif, kontak mata saat berbicara, serta meluangkan waktu berkualitas sekitar 15 menit setiap hari dinilai mampu memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.
Dalam kesempatan itu, Nyimas turut menyoroti penggunaan gawai pada anak. Ia mengingatkan bahwa anak berusia di bawah dua tahun sebaiknya tidak diberikan akses terhadap gawai. Untuk usia dua hingga lima tahun, penggunaan gawai perlu dibatasi, sedangkan anak usia sekolah tetap memerlukan pendampingan agar tidak kehilangan kesempatan berinteraksi dengan dunia nyata. Menurutnya, interaksi langsung dengan orang tua jauh lebih efektif dalam mengembangkan kemampuan bahasa, berpikir, dan keberanian anak dibandingkan hanya mengandalkan konten digital.
Di akhir perbincangan, Nyimas menegaskan bahwa anak yang terbiasa didengarkan akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berani mengemukakan pendapat secara santun, mampu menghargai pandangan orang lain, serta memiliki kemampuan berpikir kritis.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:“Anak perlu didengar, diapresiasi, lalu diarahkan. Bukan dihakimi atau dibungkam. Dari rumah, kita sedang membentuk generasi yang berani bersuara sekaligus bertanggung jawab,” tuturnya.
