17 September 2026
Hussain Shahz Diman saat menceritakan perjalanan hidupnya dalam program Bangkit dari Keterpurukan di studio Heartline FM

Dari Hidup di Pedalaman hingga Memimpin Sinode, Kisah Hussain Bangkit dari Keterpurukan

Radio Tangerang Heartline FM – Keterbatasan hidup sejak kecil tidak selalu menjadi akhir dari sebuah perjalanan. Kisah Hussain Shahz Diman. M.H., M. Ag., menunjukkan bagaimana pengalaman pahit, kehilangan, kemiskinan, hingga berbagai kegagalan dapat menjadi bagian dari proses kehidupan ketika dihadapi dengan keyakinan dan ketekunan.

Kisah tersebut dibagikan Hussain dalam program BDK (Bangkit dari Keterpurukan) di Heartline FM. Dalam program tersebut, Hussain yang kini dipercaya sebagai Ketua Umum Sinode GKII sekaligus berprofesi sebagai advokat dan konsultan hukum menceritakan perjalanan hidupnya sejak masa kanak-kanak hingga menemukan panggilan pelayanan.

Hussain mengaku lahir dari keluarga yang sangat sederhana di pedalaman Kalimantan. Orang tuanya bekerja sebagai peladang berpindah di kawasan hutan. Ia bahkan mengaku tidak memiliki kampung halaman dalam pengertian seperti yang umum dikenal karena sejak kecil hidup bersama keluarganya di kawasan hutan.

Kondisi tersebut semakin berat setelah Hussain kehilangan kedua orang tuanya. Ia dibesarkan oleh ayahnya hingga usia 15 tahun sebelum sang ayah meninggal dunia.

Belajar dari Kolong Sekolah

Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi Hussain untuk mendapatkan pendidikan. Saat berusia sekitar lima tahun, ia kerap dibawa kakak-kakaknya ke sekolah. Karena masih terlalu kecil untuk mengikuti pelajaran secara resmi, Hussain awalnya hanya berada di kolong bangunan sekolah.

Dari tempat tersebut, ia mendengarkan guru mengajar dan mencoba mengikuti pelajaran. Ketika guru memberikan pertanyaan sederhana kepada murid-murid di kelas, Hussain bahkan mampu menjawabnya.

Melihat kemampuan dan ketertarikannya belajar, guru kemudian meminta agar Hussain dibawa masuk ke dalam kelas. Ia akhirnya bersekolah meski harus menghadapi berbagai keterbatasan.

Hussain mengisahkan, selama enam tahun bersekolah di tingkat SD, dirinya tidak memiliki seragam merah putih sehingga tidak pernah mengikuti upacara bendera. Ia juga tidak mengenal kebiasaan sarapan atau membeli jajanan seperti anak-anak lainnya.

Untuk mengatasi rasa lapar saat sekolah, Hussain membawa singkong mentah dari ladang. Singkong tersebut kemudian dimakannya ketika merasa lapar.

Keterbatasan itu juga membuatnya mengalami perundungan dari teman-teman sekolah. Namun, dukungan sang ayah menjadi salah satu sumber kekuatan bagi Hussain untuk terus melanjutkan pendidikan.

Pesan Sang Ayah Menjadi Bekal Hidup

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Hussain terjadi ketika seorang gubernur datang mengunjungi daerah tempatnya bersekolah. Karena tidak memiliki seragam dan perlengkapan seperti teman-temannya, Hussain hanya dapat melihat kedatangan sang gubernur dari balik jendela.

Peristiwa tersebut justru memunculkan cita-cita dalam dirinya. Ketika menceritakan pengalaman itu kepada ayahnya, Hussain mengatakan ingin menjadi gubernur.

Sang ayah kemudian memberikan dorongan agar Hussain terus bersekolah. Menurut Hussain, meski ayahnya tidak memiliki pendidikan tinggi dan tidak mampu membawanya hidup seperti keluarga lain, sang ayah mampu memberikan motivasi yang sangat kuat.

Bahkan, ketika Hussain merasa tidak ingin lagi bersekolah karena mengalami perundungan, sang ayah memeluknya dan memberikan penguatan agar ia tetap melanjutkan pendidikan.

Pesan-pesan tersebut kemudian melekat dalam pikiran Hussain. Sang ayah kerap mengatakan bahwa seorang “gubernur” harus kuat dan tidak boleh mudah menyerah. Bagi Hussain, kalimat sederhana tersebut menjadi dorongan untuk terus berjuang.

Kehilangan Ayah Menjadi Titik Terberat

Setelah menyelesaikan pendidikan SD, Hussain harus berpisah dengan ayahnya karena di kampungnya tidak tersedia jenjang pendidikan berikutnya. Ia kemudian melanjutkan sekolah sambil bekerja.

Selama tiga tahun di tingkat SMP, Hussain bekerja di penggilingan padi. Dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas, ia bahkan harus mengumpulkan gabah yang terlempar dari penggilingan untuk kemudian dipisahkan dan diambil berasnya.

Beras tersebut menjadi sumber makanan sehari-hari. Hussain menceritakan bahwa satu genggam beras dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan selama satu hari.

Di tengah perjuangan tersebut, kabar mengenai kondisi ayahnya yang sakit keras datang. Hussain tetap menyelesaikan ujian sebelum pulang. Namun, ketika tiba di rumah, kondisi ayahnya sudah sangat kritis dan beberapa hari kemudian meninggal dunia.

Kehilangan sang ayah menjadi salah satu titik terberat dalam hidup Hussain. Ia mengaku mengalami masa yang sangat berat secara psikologis. Dalam kondisi tersebut, ia kemudian mengalami perjumpaan dengan Kristus.

Perjumpaan dengan Tuhan Mengubah Arah Hidup

Setelah ayahnya meninggal, Hussain menemukan catatan-catatan berisi doa dan harapan sang ayah untuk dirinya. Hal tersebut semakin membuatnya terpukul.

Dalam kondisi tersebut, Hussain kemudian dibawa bertemu seorang pendeta. Ia mendapatkan doa dan penguatan melalui ayat-ayat Alkitab. Setelah peristiwa tersebut, Hussain mulai membaca Alkitab secara rutin.

Kebiasaannya membaca sejak kecil kemudian semakin berkembang. Ia mengaku membaca Alkitab setiap hari dan merasakan bahwa Tuhan hadir serta berbicara melalui firman-Nya.

Perjumpaan tersebut kemudian membawa Hussain masuk ke sekolah teologi. Menariknya, ketika pertama kali melihat istilah “sekolah teologi”, ia mengaku sempat mengira bahwa sekolah tersebut berkaitan dengan teknologi.

Namun, perjalanan itu akhirnya justru menjadi bagian penting dalam kehidupannya sebagai pelayan Tuhan.

Kegagalan Bukan Akhir Perjalanan

Dalam perjalanan selanjutnya, Hussain tidak terlepas dari kegagalan dan berbagai persoalan. Ia bahkan pernah mengalami penahanan selama 12 hari setelah terlibat dalam pelayanan di tengah masyarakat.

Pengalaman tersebut justru memunculkan keinginannya untuk mempelajari hukum. Setelah keluar dari tahanan, ia kemudian kuliah hukum dan kelak menjalani profesi sebagai advokat.

Hussain mengatakan dirinya tidak melihat kegagalan sebagai sesuatu yang fatal. Baginya, jatuh dan bangun merupakan proses untuk mengetahui kesalahan sekaligus belajar menentukan langkah berikutnya.

Menurutnya, kemampuan seseorang untuk bangkit juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat seseorang bertumbuh. Motivasi dari orang tua maupun orang-orang terdekat dapat menjadi sumber kekuatan ketika seseorang menghadapi kesulitan.

Selain itu, Hussain menekankan pentingnya spiritualitas. Menurut dia, motivasi dan keyakinan saja dapat menjadi rapuh apabila tidak dilandasi hubungan dengan Tuhan dan firman-Nya.

Belajar Melihat Keterpurukan sebagai Proses

Hussain juga mengajak masyarakat untuk melihat keterpurukan bukan semata-mata sebagai akhir dari kehidupan. Menurutnya, rasa terpuruk berkaitan erat dengan bagaimana seseorang memandang pengalaman yang sedang dihadapinya.

Ia mengatakan, ketika harapan tidak tercapai, seseorang dapat merasa gagal dan kehilangan harapan. Namun, keyakinan dapat membantu seseorang mengubah cara pandang terhadap pengalaman tersebut menjadi bagian dari sebuah proses.

Dalam perjalanan hidupnya, Hussain juga belajar bahwa tidak semua hal yang diinginkan manusia akan terwujud sesuai dengan harapan. Ia mengaitkan hal tersebut dengan keyakinannya bahwa Tuhan memiliki rancangan yang lebih besar.

Karena itu, menurut Hussain, tujuan hidup manusia perlu diselaraskan dengan tujuan Tuhan. Ia menyebut sikap tersebut sebagai upaya untuk menerima dan menyambut rancangan Tuhan dengan ikhlas.

Dari Cita-Cita Menjadi Gubernur hingga Melayani Banyak Orang

Hussain sejak kecil memiliki cita-cita menjadi gubernur. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah yang berbeda.

Ia kemudian menjalani berbagai peran, mulai dari pelayan Tuhan, pengajar di sekolah Alkitab, advokat, hingga dipercaya memimpin organisasi gereja.

Menurut Hussain, perjalanan tersebut membuatnya semakin memahami bahwa berbagai pengalaman dalam hidup dapat memiliki makna ketika dilihat dalam perspektif iman.

Sebagai advokat dan pelayan, ia juga menemukan kesempatan untuk membantu masyarakat menghadapi berbagai persoalan, termasuk persoalan gereja dan pertanahan. Ia mengatakan bahwa pengalaman dan profesinya akhirnya dapat digunakan untuk memberikan pertolongan kepada orang lain.

“Jangan Ukur Kesuksesan dari Kehidupan Orang Lain”

Menutup perbincangan, Hussain menyampaikan pesan bagi mereka yang saat ini sedang berada dalam titik terendah kehidupan.

Menurutnya, kehidupan manusia berada dalam rancangan Tuhan. Ia mengakui bahwa apa yang dialami seseorang terkadang tidak sesuai dengan harapan atau kondisi ideal yang diinginkan.

Namun, ia mengajak setiap orang untuk tidak mengukur keberhasilan hidup berdasarkan kehidupan orang lain.

Kita tidak perlu mengukur hal baik atau hal sukses itu dari apa yang orang lain alami,” demikian pesan Hussain dalam perbincangan tersebut.

Kisah Hussain memperlihatkan perjalanan panjang dari kehidupan yang penuh keterbatasan, pengalaman kehilangan, perundungan, kemiskinan, hingga berbagai kegagalan. Baginya, pengalaman-pengalaman tersebut bukan alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses yang membentuk kehidupannya.

Pesan utama yang dibagikannya adalah pentingnya memiliki keyakinan, mendapatkan dukungan dari lingkungan, terus berjuang, serta menyelaraskan tujuan hidup dengan kehendak Tuhan.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=d1kYdBFyPvY

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: