Mendengarkan Bukan Sekadar Mendengar, Ini Tiga Syarat agar Komunikasi Lebih Berkualitas
Radio Tangerang Heartline FM — Mendengarkan sering dianggap sebagai aktivitas sederhana dalam komunikasi. Padahal, mendengarkan dengan sungguh-sungguh membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menangkap suara. Inner Journey Practioner Ruy Pamadiken mengatakan diperlukan kesiapan pikiran, kerendahan hati, serta kemauan untuk terus belajar agar seseorang benar-benar mampu memahami apa yang disampaikan orang lain.
Hal tersebut dijelaskanya dalam talkshow bersama radio Heartline Tangerang. Perbincangan tersebut merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya mengenai pentingnya kemampuan mendengarkan, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam lingkungan profesional.
Dalam dunia kerja, kemampuan mendengarkan dapat membantu seseorang memahami kebutuhan orang lain, termasuk kebutuhan klien, pelanggan, maupun rekan kerja. Dengan pemahaman tersebut, seseorang dapat memberikan pelayanan dan mengambil tindakan yang lebih tepat. Namun, mendengarkan ternyata memiliki sejumlah prasyarat yang tidak bersifat teknis.
Kepala Perlu Dikosongkan
Salah satu hal yang menjadi penghambat seseorang dalam mendengarkan adalah pikirannya sendiri. Menurut Ruy, seseorang perlu mengosongkan kepala terlebih dahulu agar dapat menerima sudut pandang dari orang lain.
Setiap orang memiliki pengalaman, pengetahuan, referensi, serta pola berpikir yang terbentuk sepanjang hidup. Semua hal tersebut kemudian menjadi semacam filter ketika seseorang menerima informasi baru.
“Kepala kita harus kosong,” menjadi salah satu penekanan dalam pembahasan tersebut. Pasalnya, ketika pikiran sudah terlalu penuh dengan referensi dan penilaian pribadi, informasi yang disampaikan orang lain berisiko langsung disaring berdasarkan pola yang sudah dimiliki.
Akibatnya, seseorang tidak lagi benar-benar mendengarkan pesan yang disampaikan, melainkan hanya mencocokkannya dengan apa yang sudah ia ketahui.
Kondisi tersebut dapat melahirkan prasangka, asumsi, bahkan penilaian sebelum seseorang memahami maksud pembicara secara utuh. Dalam komunikasi, kondisi semacam ini dapat membuat pesan yang sebenarnya ingin disampaikan menjadi tidak terserap dengan baik.
Kerendahan Hati Menjadi Kunci
Syarat kedua adalah kerendahan hati. Seseorang perlu menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui segala sesuatu dan selalu memiliki keterbatasan.
Kemudahan memperoleh informasi pada saat ini juga membuat pengetahuan tidak lagi menjadi milik segelintir orang. Siapa pun dapat memperoleh informasi dan mempelajari berbagai hal dengan mudah.
Karena itu, merasa paling tahu justru dapat menjadi penghalang dalam proses mendengarkan.
“Saya ini terbatas. Saya memerlukan sebuah sudut pandang lain dari pihak lain dari eksternal sehingga saya bisa melengkapi diri saya,” demikian gagasan yang disampaikan Ruy dalam perbincangan tersebut.
Kerendahan hati membuat seseorang bersedia menerima perspektif baru. Bahkan, semakin banyak seseorang belajar, semakin ia menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.
Sikap tersebut penting tidak hanya dalam hubungan antarpribadi, tetapi juga dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin yang merasa paling tahu berpotensi kehilangan kesempatan untuk memahami kondisi sebenarnya yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
Menjadi Manusia Pembelajar
Syarat ketiga adalah memiliki mentalitas pembelajar. Kemauan untuk terus belajar membuat seseorang tetap terbuka terhadap informasi, pengalaman, dan perspektif baru.
Menurut Ruy, pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan orang yang merasa telah selesai setelah mendapatkan ijazah atau gelar. Pendidikan idealnya juga membentuk manusia yang memiliki keinginan untuk belajar sepanjang hidup.
“Mentalitas pembelajar mau belajar itu sebenarnya harusnya menjadi hasil kurikulum pendidikan kita,” ujarnya.
Mentalitas pembelajar juga berkaitan erat dengan produktivitas. Ketika seseorang berhenti belajar, ia berisiko mengalami stagnasi. Sebaliknya, ketika seseorang terus membuka diri terhadap pengetahuan baru, ia memiliki peluang untuk menjadi lebih inovatif dan kreatif.
Bahkan, sesuatu yang didengar belum tentu merupakan informasi yang benar-benar baru. Bisa jadi informasinya sama, tetapi sudut pandang yang diperoleh berbeda.
Bahaya Selective Listening
Dalam komunikasi, seseorang juga dapat mengalami apa yang disebut sebagai selective listening, yaitu kecenderungan hanya mendengarkan hal-hal yang ingin didengar.
Kondisi tersebut dapat terjadi ketika seseorang sudah memiliki perasaan tertentu terhadap pembicara. Ego, emosi, maupun rasa tidak suka dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menerima pesan.
Ketika proses mendengarkan sudah disertai seleksi berdasarkan perasaan dan kepentingan pribadi, komunikasi menjadi tidak utuh. Seseorang mungkin hanya mengingat bagian yang menyenangkan atau sesuai dengan apa yang ingin ia dengar, sementara bagian lainnya diabaikan.
Karena itu, mendengarkan secara utuh membutuhkan kesiapan untuk menanggalkan sementara ego, penilaian, dan asumsi pribadi.
Penting bagi Pemimpin untuk Mau Mendengar
Kemampuan mendengarkan menjadi semakin penting ketika seseorang berada dalam posisi sebagai pemimpin. Pemimpin perlu mendengarkan karyawan, anggota organisasi, maupun masyarakat agar dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Ketika seorang pemimpin berhenti mendengarkan, keputusan yang diambil berisiko hanya didasarkan pada kerangka berpikirnya sendiri.
Dalam perbincangan tersebut ditekankan bahwa ketidakmampuan mendengar, terutama bagi seorang pemimpin atau pemegang tanggung jawab publik, dapat menimbulkan persoalan serius karena keputusan yang dibuat tidak lagi berangkat dari pemahaman terhadap kondisi nyata.
Mendengar untuk Memahami, Bukan Sekadar Menunggu Giliran Bicara
Pada akhirnya, mendengarkan bukan hanya tentang memasang telinga. Mendengarkan membutuhkan perhatian, keterbukaan, kerendahan hati, dan keinginan untuk memahami.
Ada tiga hal utama yang perlu dimiliki agar proses mendengarkan menjadi lebih berkualitas, yaitu mengosongkan pikiran, memiliki kerendahan hati, dan membangun mentalitas pembelajar.
Dengan ketiga sikap tersebut, seseorang tidak hanya mendengar suara orang lain, tetapi juga berusaha memahami cara berpikir, maksud, kebutuhan, dan perspektif yang berada di balik perkataan tersebut.
Kemampuan mendengarkan pun pada akhirnya dapat menjadi bagian penting dari proses pengembangan diri. Sebab, ketika seseorang bersedia mendengar dan terus belajar, ia akan memiliki kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus membangun kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai situasi.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
