26 August 2026
Psikolog klinis Robert O Rajagukguk PhD saat memaparkan materi pentingnya persiapan kedewasaan di masa kuliah dalam program Sketsa Keluarga Indonesia di Radio Heartline FM

Kuliah Bukan Sekadar Mengejar IPK, tetapi Mempersiapkan Diri Menjadi Dewasa

Radio Tangerang Heartline FM — Memasuki dunia perguruan tinggi sering kali dipandang sebagai langkah untuk mendapatkan gelar dan pekerjaan yang lebih baik. Namun, kuliah sejatinya tidak hanya berkaitan dengan nilai akademik atau prestise kampus. Masa perkuliahan juga menjadi fase penting bagi seseorang untuk berkembang menuju kedewasaan.

Hal tersebut disampaikan psikolog klinis, konselor, sekaligus founder Chi-Psy, Robert O Rajaguguk, PhD, dalam program Sketsa Keluarga Indonesia  pada Senin (24/08). Menurutnya, keputusan seseorang untuk kuliah perlu didasarkan pada tujuan yang jelas, bukan semata-mata karena sudah lulus SMA, dorongan orang tua, atau keinginan memperoleh penghasilan besar.

“Kuliah ini sebenarnya adalah persiapan menuju kedewasaan,” ujar Robert dalam perbincangan tersebut.

Robert menjelaskan, terdapat berbagai alasan seseorang memilih kuliah. Ada yang merasa kuliah merupakan tahap yang harus dijalani setelah SMA, ada yang berharap mendapatkan pekerjaan dan penghasilan lebih baik, serta ada pula yang menjalani kuliah karena harapan keluarga.

Namun, kuliah maupun kampus ternama tidak otomatis menjamin seseorang akan sukses. Menurutnya, yang lebih penting adalah apa yang diperoleh dan dikembangkan selama menjalani proses pendidikan.

Karena itu, mahasiswa tidak seharusnya hanya mengejar predikat lulusan terbaik, IPK tinggi, atau prestise kampus. Pengalaman selama kuliah harus dimanfaatkan untuk mengembangkan kualitas diri secara lebih menyeluruh.

Tujuh Area yang Perlu Dikembangkan

Robert menjelaskan bahwa masa kuliah memberikan kesempatan untuk mengembangkan setidaknya tujuh area dalam diri seseorang. Pengembangan tersebut meliputi kompetensi, kemampuan mengelola emosi, kemandirian atau interdependence, kematangan dalam hubungan interpersonal, pembentukan jati diri, pengembangan prinsip hidup, serta sense of purpose atau tujuan hidup.

Menurutnya, mahasiswa idealnya tidak hanya menjadi pintar secara akademik, tetapi juga mampu mengelola emosi, membangun relasi, memahami kekuatan dan keterbatasan diri, serta menentukan arah hidupnya.

“IPK tinggi mungkin menggambarkan sesuatu, tapi tidak menggambarkan semuanya,” kata Robert.

Ia menilai, masa kuliah, khususnya pada rentang usia sekitar 18 hingga 22 tahun, merupakan masa transisi dari remaja akhir menuju dewasa awal. Karena itu, mahasiswa memiliki ruang yang besar untuk menemukan identitas dan membangun kemandirian.

IPK Penting, tetapi Bukan Segalanya

IPK tetap memiliki peran sebagai gambaran hasil belajar mahasiswa. Namun, nilai akademik tidak selalu mencerminkan seluruh kemampuan yang dibutuhkan ketika seseorang memasuki dunia kerja.

Robert menyebut terdapat kemungkinan kesenjangan antara IPK dengan kemampuan kerja. Seseorang dapat memiliki pengetahuan akademik yang baik, tetapi belum tentu memiliki keterampilan kerja maupun soft skill yang memadai.

“Mahasiswa bukan hanya soal nilai mata kuliahnya yang penting. Dia harus mengembangkan tujuh area pengembangan diri,” jelasnya.

Karena itu, mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, mengelola emosi, menghadapi kegagalan, dan membangun hubungan dengan orang lain.

Belajar Mandiri dan Membangun Relasi

Bagi mahasiswa yang merantau, kehidupan kampus juga dapat menjadi kesempatan untuk belajar mandiri. Mereka mulai mengatur kebutuhan sehari-hari, mengelola waktu dan keuangan, serta mengambil keputusan tanpa selalu bergantung kepada orang tua.

Kemandirian, menurut Robert, bukan berarti menolak bantuan orang lain. Justru kematangan terlihat ketika seseorang mampu mengetahui kapan harus mengerjakan sesuatu sendiri dan kapan membutuhkan pertolongan.

Konsep tersebut disebut interdependence. Artinya, seseorang mampu bertanggung jawab terhadap tugasnya, tetapi juga tidak ragu meminta bantuan ketika memang membutuhkannya.

Selain kemandirian, lingkungan kampus juga menjadi ruang untuk membangun keterampilan sosial. Interaksi dengan teman, kegiatan kelompok, maupun organisasi dapat membantu mahasiswa belajar menerima pendapat orang lain dan menyampaikan pandangannya secara tepat.

Menemukan Jati Diri dan Tujuan Hidup

Masa kuliah juga menjadi periode penting untuk menemukan jati diri. Mahasiswa mulai mengenali siapa dirinya, apa kekuatannya, apa kelemahannya, serta bidang apa yang sesuai dengan dirinya.

Proses tersebut tidak selalu berlangsung cepat. Seseorang dapat mencoba berbagai pengalaman, mengalami keberhasilan maupun kegagalan, lalu melakukan evaluasi hingga semakin mengenal dirinya.

Robert menilai, setelah menyelesaikan kuliah, seseorang idealnya mulai memiliki gambaran mengenai arah hidupnya. Ia menyebutnya sebagai sense of purpose.

Mahasiswa yang memiliki tujuan hidup akan lebih mudah menentukan langkah setelah lulus, misalnya bekerja terlebih dahulu sebelum membangun bisnis atau memilih jalur karier tertentu.

Soft Skill dan Daya Tahan Juga Penting

Selain kecerdasan intelektual dan emosional, Robert menekankan pentingnya daya tahan dalam menghadapi kesulitan. Dunia kerja maupun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan sehingga seseorang perlu memiliki kemampuan untuk bangkit ketika menghadapi kegagalan.

Menurutnya, mahasiswa perlu belajar mengelola emosi dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi persoalan akademik maupun kehidupan.

Kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena masa perkuliahan merupakan fase ketika mahasiswa mulai menghadapi berbagai tuntutan dan perubahan secara lebih mandiri.

Orang Tua Perlu Memberi Ruang

Dalam proses transisi menuju kedewasaan, peran orang tua juga sangat penting. Robert mengingatkan agar orang tua tidak terus-menerus mengambil alih persoalan yang seharusnya dapat diselesaikan anak.

Orang tua perlu memahami bahwa anak yang memasuki perguruan tinggi sedang belajar menjadi dewasa. Karena itu, bantuan tetap diberikan ketika diperlukan, tetapi tanggung jawab utama perlu diberikan kepada anak.

“Hal-hal yang seharusnya dia kerjakan, biarkan dia yang belajar, dia yang mengerjakannya,” ujar Robert.

Dengan demikian, mahasiswa memiliki kesempatan untuk belajar mengambil keputusan, bertanggung jawab atas pilihannya, dan menghadapi konsekuensi dari keputusan tersebut.

Tentukan Tujuan Sebelum Memilih Jurusan

Bagi calon mahasiswa, Robert menyarankan agar keputusan kuliah dimulai dengan pertanyaan sederhana: “Untuk apa saya kuliah?”

Pertanyaan tersebut penting agar mahasiswa memahami tujuan, cita-cita, serta langkah yang ingin ditempuh. Pemilihan jurusan juga sebaiknya melibatkan keputusan mahasiswa itu sendiri, bukan sepenuhnya ditentukan oleh orang tua.

“Mahasiswa harus berani mengambil keputusan jalur mana yang mau diambil,” kata Robert.

Pada akhirnya, kuliah bukan hanya tentang duduk di ruang kelas, menyelesaikan tugas, mendapatkan IPK tinggi, lalu memperoleh ijazah. Perguruan tinggi merupakan kesempatan untuk membangun kompetensi sekaligus mengembangkan karakter, kemandirian, kemampuan sosial, integritas, daya tahan, dan tujuan hidup.

Karena itu, mahasiswa perlu memanfaatkan tiga hingga empat tahun masa perkuliahan untuk berkembang sebanyak mungkin. Jangan sampai pengalaman kuliah hanya menjadi rutinitas “kuliah-pulang” tanpa memberikan ruang untuk membangun kualitas diri.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=3SSOWkkQI3E

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: