Mengenali Bullying dalam Keluarga, Ancaman yang Kerap Tak Disadari
Radio Tangerang Heartline FM – Perundungan atau bullying tidak hanya terjadi di sekolah, tempat kerja, atau lingkungan pergaulan. Tanpa disadari, perilaku tersebut juga dapat muncul di dalam keluarga melalui perkataan, sikap, maupun tindakan yang dilakukan secara berulang hingga membuat anggota keluarga merasa terintimidasi, tidak nyaman, dan kehilangan rasa percaya diri.
Dalam dialog bersama KPSI yang disiarkan Radio Heartline di waktu pagi, psikiater dr. Erita Istriana, Sp.KJ menjelaskan bahwa bullying dalam keluarga sering kali luput dari perhatian karena dianggap sebagai bentuk candaan, pola asuh, atau cara memotivasi anak.
“Bullying adalah perilaku agresif yang bersifat intimidatif dan dilakukan berulang-ulang sehingga membuat orang lain merasa tidak nyaman, merasa dipojokkan, atau diintimidasi. Ternyata hal seperti ini juga sering terjadi di lingkungan keluarga,” kata dr. Erita.
Menurutnya, bentuk bullying di keluarga tidak selalu berupa kekerasan fisik. Perundungan verbal dan emosional justru lebih sering terjadi, misalnya membandingkan anak dengan saudara kandungnya, mengejek kondisi fisik, memberikan julukan yang merendahkan, hingga candaan yang terus diulang meski membuat seseorang tersinggung.
Ia menuturkan bahwa orang tua kerap tidak menyadari kebiasaan membandingkan anak dengan tujuan memotivasi dapat berubah menjadi bullying apabila dilakukan berulang kali dan membuat anak merasa tertekan.
“Kalau dilakukan terus-menerus, bukannya termotivasi, anak justru merasa tertekan, merasa tidak berguna, dan berpikir dirinya tidak sebaik saudaranya,” ujarnya.
Dr. Erita mengatakan dampak bullying dalam keluarga dapat berlangsung hingga dewasa. Korban berisiko mengalami penurunan rasa percaya diri, gangguan kecemasan, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD), terutama jika pengalaman tersebut berlangsung lama dan tidak pernah diselesaikan.
Ia mengungkapkan, banyak individu yang datang berkonsultasi masih membawa luka psikologis akibat perundungan yang dialami sejak kecil di rumah.
“Yang paling berbahaya adalah ketika seseorang akhirnya berpikir bahwa dirinya memang layak diperlakukan seperti itu,” katanya.
Selain berdampak pada korban, pelaku bullying juga dinilai memiliki persoalan yang perlu mendapat perhatian. Menurut dr. Erita, pelaku sering kali memiliki kesulitan mengekspresikan emosi, kurang memiliki empati, atau melampiaskan masalah yang dialaminya kepada anggota keluarga yang dianggap lebih lemah.
Ia menambahkan bahwa korban bullying dalam keluarga dapat berkembang menjadi pelaku bullying di lingkungan lain apabila tidak mendapatkan dukungan emosional yang memadai.
“Korban bisa menjadi pelaku karena tidak mendapatkan kasih sayang, tidak merasa diterima apa adanya, dan akhirnya melampiaskan emosinya kepada orang lain,” jelasnya.
Untuk mencegah bullying dalam keluarga, dr. Erita menekankan pentingnya membangun komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Orang tua perlu memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan perasaan, mendengarkan pendapat mereka, serta menghindari pola komunikasi yang bersifat menghakimi atau membanding-bandingkan.
“Yang paling penting adalah komunikasi. Anak harus dibiasakan berani bicara dan mengungkapkan apa yang dirasakan. Orang tua juga perlu mendengarkan, bukan hanya memberi perintah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak membawa tekanan atau masalah pekerjaan ke rumah karena hal tersebut dapat memicu pelampiasan emosi kepada anak. Menurutnya, setiap anggota keluarga perlu merasa nyaman dengan dirinya sendiri agar mampu membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Bagi anak maupun remaja yang menjadi korban bullying di rumah, dr. Erita menyarankan untuk berani berbicara kepada orang yang dipercaya dan tidak memendam perasaan sendirian.
“Yang paling penting adalah berani bicara. Apa yang dirasakan harus diungkapkan, karena komunikasi menjadi kunci untuk mencegah dampak yang lebih berat terhadap kesehatan mental,” pungkasnya.
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=QroPJzxci8k
