04 November 2026
Iren Indri Alvina dan Nyi Mas Diane W. menjadi narasumber Sketsa Keluarga Indonesia di Radio Tangerang Heartline FM

Sinergi Perempuan dan Pemuda Dinilai Penting untuk Mendorong Perubahan Sosial yang Berdampak

Radio Tangerang Heartline FM – Perempuan dan generasi muda memiliki peran strategis dalam mendorong perubahan sosial yang berdampak bagi masyarakat. Sinergi keduanya dinilai dapat dimulai dari lingkungan keluarga melalui pendidikan karakter, penguatan nilai moral, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Sketsa Keluarga Indonesia Heartline Radio 100.6 FM dengan topik “Sinergi Perempuan dan Pemuda untuk Perubahan Sosial yang Berdampak: Empower Her, Inspire Youth”. Program ini menghadirkan Iren Indri Alvina, S.I.Kom., The Empowerment Speaker, serta Nyi Mas Diane W., S.Psi., M.A, Co-founder Dianesia, Family and Parenting Expert, dan Motivational Speaker.

Dalam perbincangan tersebut, Iren menyampaikan bahwa perempuan tidak hanya memiliki peran sebagai ibu, tetapi juga sebagai agen perubahan yang dapat memberikan inspirasi, wawasan, dan kepercayaan kepada generasi muda untuk berkembang.

Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Pembentukan karakter yang dimulai dari rumah menjadi fondasi penting bagi perkembangan anak dalam kehidupan bermasyarakat.

“yang paling sempurna, yang paling pertama ditemukan oleh anak adalah di rumah,” ujar Iren.

Senada dengan hal tersebut, Mba Dee menjelaskan bahwa perubahan sosial tidak harus dimulai dari lembaga pemerintahan maupun organisasi besar. Perubahan justru dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana dalam keluarga.

Ia menilai seorang ibu memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai moral, empati, kedisiplinan, kejujuran, serta kepedulian sosial kepada anak. Kebiasaan menghargai perbedaan, menjaga lingkungan, dan memilah sampah juga menjadi bentuk pendidikan yang dapat memberikan dampak bagi masyarakat.

Mba Dee menambahkan bahwa ketika seorang perempuan mendidik anak dengan nilai-nilai positif, ia sebenarnya sedang mempersiapkan generasi yang mampu membawa perubahan bagi lingkungan sekitarnya.

Ibu Bahagia Menjadi Fondasi Keluarga yang Tangguh

Selain peran pendidikan, kebahagiaan dan kesehatan mental seorang ibu juga menjadi perhatian dalam pembahasan tersebut.

Iren mengatakan bahwa anak tidak membutuhkan sosok ibu yang sempurna secara penampilan maupun materi, melainkan ibu yang bahagia dan memiliki kondisi fisik serta mental yang baik.

Menurutnya, ibu yang memiliki kondisi emosional stabil akan lebih mampu menciptakan suasana rumah yang nyaman dan penuh kasih sayang.

Sementara itu, Mba Dee mengingatkan bahwa ibu bukanlah sosok yang harus selalu kuat, sabar, dan mengalah. Seorang ibu juga membutuhkan waktu untuk beristirahat, melakukan aktivitas yang disukai, serta meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan.

Ia menyarankan para ibu untuk melakukan perawatan diri, mengelola emosi sebelum bereaksi, menjaga pola tidur dan makan, serta melibatkan pasangan dan anak dalam tanggung jawab rumah tangga.

Mba Dee menegaskan bahwa ibu yang bahagia bukan berarti tidak memiliki masalah, melainkan ibu yang mendapatkan kesempatan untuk menjaga kesehatan fisik dan mentalnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu fondasi dalam membangun keluarga yang tangguh.

Pola Pengasuhan Harus Bertumbuh Mengikuti Usia Anak

Pembahasan juga menyoroti tantangan orang tua ketika anak mulai memasuki masa remaja dan memiliki pendapat, pilihan, serta prinsip hidup sendiri.

Mba Dee menjelaskan bahwa seiring bertambahnya usia anak, pola pengasuhan orang tua perlu mengalami perubahan. Orang tua yang sebelumnya berperan sebagai pengendali perlu mulai menjadi pendamping.

“Pesan pentingnya, anak bertumbuh, maka pola pengasuhan ibu juga harus bertumbuh. Kita harus bisa mendidik anak sesuai zamannya,” ungkap Mba Dee.

Ia menjelaskan bahwa orang tua perlu memberikan ruang kepada anak untuk belajar mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Komunikasi terbuka juga penting agar anak merasa nyaman menyampaikan pendapat dan menceritakan persoalan yang dihadapinya.

Dalam menentukan pilihan pendidikan, misalnya, orang tua sebaiknya tidak langsung memaksakan jurusan tertentu. Sebaliknya, anak perlu diajak berdiskusi mengenai minat, kemampuan, peluang, serta risiko dari keputusan yang akan diambil.

Mba Dee juga menjelaskan bahwa peran orang tua dalam pengambilan keputusan perlu disesuaikan dengan usia dan kematangan anak. Pada usia dini, orang tua masih lebih dominan menentukan pilihan. Ketika anak memasuki usia sekolah dan remaja, orang tua mulai berperan sebagai pengarah, mentor, dan teman diskusi. Sementara ketika anak dewasa, orang tua lebih banyak menjadi penasihat dan sistem pendukung.

Menurutnya, terdapat tiga peran penting orang tua dalam mendampingi anak, yaitu memberikan arahan dan nilai kehidupan (guide), membantu anak berpikir kritis sebagai seorang pelatih (coach), serta membangun kepercayaan (trust).

Iren turut menekankan pentingnya memberikan kepercayaan kepada anak untuk mengemukakan pendapat dan mengembangkan kemampuannya. Ia mengingatkan bahwa pola pengasuhan yang terlalu keras dapat membuat anak takut mengambil keputusan dan kurang percaya diri.

Orang Tua Perlu Tenang dan Mendampingi Anak Korban Bullying

Dalam sesi tanya jawab bersama pendengar, muncul pertanyaan mengenai cara orang tua menyikapi anak yang mengalami perundungan atau bullying di sekolah.

Menanggapi hal tersebut, Mba Dee mengingatkan agar orang tua tidak langsung bereaksi secara emosional ketika anak menceritakan pengalaman buruknya. Orang tua perlu mendengarkan cerita anak, memahami perasaannya, serta mencari tahu fakta mengenai kejadian yang dialami.

Ia memperkenalkan langkah penanganan bullying melalui prinsip TEGAR, yaitu Tenang, Empati, Gali fakta, Advokasi dan lindungi, serta Pulihkan dan kuatkan. Orang tua perlu mendengarkan anak tanpa menghakimi, memvalidasi

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=1OX917wkWpM