05 August 2026
Ev. Elsar Hayer S.Th saat menyampaikan pemaparan materi mengenai pengharapan dan Kitab Hakim-Hakim 4 dalam program Let Us Reason Together

Pengharapan Menjadi Pesan Utama dalam Program Let Us Reason Together: “Esok Masih Ada”

Radio Tangerang Heartline FM – Pengharapan menjadi tema utama yang diangkat dalam program Let Us Reason Together persembahan Yayasan Pengembangan Apologetika Indonesia. Dalam episode bertajuk “Esok Masih Ada”, Ev. Elsar Hayer, S.Th mengajak pendengar untuk tetap memiliki harapan di tengah berbagai persoalan hidup dengan berlandaskan firman Tuhan.

Mengawali pemaparannya, Elsar menjelaskan bahwa kalimat “Esok Masih Ada” bukan sekadar ungkapan motivasi, melainkan pesan tentang harapan bagi setiap orang yang sedang menghadapi pergumulan. Menurutnya, selama manusia masih memiliki pengharapan kepada Tuhan, masih ada kesempatan untuk bangkit dan mengalami pertolongan.

Sebagai landasan, Elsar mengulas kisah bangsa Israel dalam Kitab Hakim-Hakim pasal 4. Ia menjelaskan bahwa setelah kematian Ehud, bangsa Israel kembali melakukan kejahatan di hadapan Tuhan sehingga mereka mengalami penindasan selama 20 tahun di bawah Raja Yabin dari Kanaan dengan panglima perang Sisera yang memiliki 900 kereta besi. Dalam kondisi yang tampak tanpa harapan itu, bangsa Israel akhirnya berseru kepada Tuhan, dan Tuhan membangkitkan Debora, Barak, serta Yael sebagai alat pembebasan bagi umat-Nya.

Menurut Elsar, kisah tersebut menunjukkan bahwa titik balik kehidupan bangsa Israel terjadi ketika mereka berseru kepada Tuhan. Ia menegaskan bahwa pertolongan Tuhan sering kali telah dipersiapkan, bahkan sebelum manusia menyadari jalan keluarnya. Karena itu, setiap kesulitan, baik penyakit, masalah ekonomi, konflik keluarga, maupun kegagalan hidup, tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan harapan.

Dalam sesi diskusi bersama pembawa acara Timar, pembahasan kemudian mengarah pada fenomena meningkatnya depresi dan keinginan bunuh diri, khususnya di kalangan remaja. Elsar mengungkapkan bahwa banyak remaja mengalami tekanan akibat perundungan, penolakan dari lingkungan pertemanan, hingga putus hubungan. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat sebagian remaja kehilangan tempat untuk berbagi cerita sehingga merasa hidupnya tidak lagi memiliki harapan.

Ia juga membagikan pengalamannya mendampingi lebih dari seratus pelajar yang menunjukkan perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm). Dalam pendampingan tersebut, pendekatan yang dilakukan bukan menghakimi, melainkan mendengarkan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membangun, serta membantu mereka menemukan kembali nilai dirinya di hadapan Tuhan.

Elsar menekankan bahwa dalam pelayanan konseling Kristen, setiap orang harus diperlakukan sebagai pribadi yang unik. Ia mengingatkan agar orang-orang yang sedang bergumul tidak dihakimi atau dianggap memiliki masalah yang sepele, melainkan didampingi dengan kasih dan diarahkan kepada Kristus sebagai sumber pengharapan.

Lebih lanjut, ia membedakan antara optimisme dan pengharapan Kristen. Menurutnya, optimisme hanya bertumpu pada kemungkinan-kemungkinan yang terlihat, sedangkan pengharapan Kristen berakar pada pribadi Yesus Kristus. Karena itu, setiap proses pendampingan maupun konseling hendaknya membawa seseorang semakin mengenal Kristus sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi persoalan hidup.

Menutup perbincangan, Elsar mengajak para pendengar untuk tetap percaya bahwa selalu ada hari esok bagi siapa pun yang berseru kepada Tuhan. Ia mengingatkan bahwa setiap pertanyaan tentang masa depan, kesembuhan, pekerjaan, maupun keluarga akan menemukan jawabannya ketika manusia menyerahkan kekhawatirannya kepada Tuhan. Program kemudian ditutup dengan doa bersama agar setiap pendengar memperoleh kekuatan, penghiburan, dan pengharapan baru dalam menjalani kehidupan.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=kW79EVw4MYk

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: