04 November 2026
Dr. Andi Hukom memaparkan tantangan gereja dalam menjaga kemurnian Injil di program Let Us Reason Together Radio Tangerang Heartline FM

Waspadai “Injil yang Lain”, Tantangan Gereja dalam Menjaga Kemurnian Iman

Radio Tangerang Heartline FM – Gereja sepanjang masa menghadapi tantangan dalam mempertahankan kemurnian Injil Yesus Kristus. Salah satu tantangan tersebut muncul melalui berbagai pengajaran yang mengubah atau menambahkan makna Injil, sehingga berpotensi menggeser inti iman Kristen dari karya penebusan dan pengampunan dosa melalui Yesus Kristus.

Dalam program Let Us Reason Together di Heartline Radio 100,6 FM dengan tema “Injil yang Lain: Tantangan Gereja Sepanjang Masa” dengan narasumber Dr. Andi Hukom menjelaskan bahwa peringatan Rasul Paulus mengenai Injil yang lain dalam Galatia 1:6-7 dan 2 Korintus 11:4 tetap relevan bagi gereja hingga saat ini.

Menurut Dr. Andi, Injil pada dasarnya berarti kabar baik. Dalam iman Kristen, kabar baik tersebut berpusat pada Yesus Kristus, khususnya karya penebusan dan pengampunan dosa yang dilakukan Allah melalui-Nya.

Ia menilai, gereja tidak hanya berperan sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga mencakup setiap orang percaya yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memberitakan Injil yang benar.

“Gereja perlu mempelajari bagaimana kita mempertahankan berita baik itu. Ini tugas gereja, bukan gereja semata-mata sebagai satu organisasi keagamaan, tapi gereja sebagai kita,” jelasnya.

Enam Pengajaran yang Berpotensi Menggeser Makna Injil

Dalam pemaparannya, Dr. Andi menguraikan sejumlah pandangan yang dinilainya dapat menggoyahkan pemahaman mengenai keselamatan melalui Yesus Kristus.

Pertama, pandangan yang menolak keberadaan dan kedaulatan Allah. Kedua, pandangan yang mengakui karya penebusan Kristus, tetapi menolak konsep Allah Tritunggal, yakni Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Ketiga, pandangan yang mengakui Yesus sebagai manusia yang baik, tetapi tidak mengakui keilahian-Nya sebagai Firman Allah yang menjadi manusia.

Keempat, pengajaran yang menambahkan ritual atau tradisi tertentu sebagai syarat keselamatan. Dr. Andi mencontohkan persoalan yang dihadapi jemaat Galatia ketika sebagian orang mengajarkan bahwa percaya kepada Yesus harus disertai kewajiban menjalankan tradisi Yahudi, seperti sunat dan aturan-aturan lainnya.

Menurutnya, Rasul Paulus menegaskan bahwa keselamatan tidak diperoleh dengan menambahkan adat istiadat atau ritual sebagai syarat penebusan.

Kelima, pemahaman yang menganggap keselamatan sebagai alasan untuk mengabaikan kekudusan hidup. Ia mengingatkan bahwa iman kepada Yesus tidak seharusnya menjadi pembenaran untuk terus hidup dalam perilaku yang bertentangan dengan ajaran-Nya.

Keenam, pengajaran yang menempatkan Yesus seolah-olah hanya sebagai pemenuh seluruh keinginan manusia, terutama terkait kekayaan, kesuksesan, kebutuhan finansial, dan kemakmuran.

Dr. Andi menilai, pemahaman semacam ini dapat menggeser fokus iman dari karya penebusan Kristus menuju pemenuhan keinginan pribadi.

Gereja Perlu Membedakan Ajaran Prinsip dan Tradisi

Selain mengingatkan tentang pengajaran yang menyimpang, Dr. Andi juga menyoroti pentingnya gereja membedakan persoalan yang bersifat prinsip dengan hal-hal yang berkaitan dengan tradisi atau tata cara ibadah.

Ia menjelaskan, keyakinan terhadap Yesus Kristus sebagai jalan pengampunan dan penebusan dosa, iman kepada Allah Tritunggal, serta komitmen menjaga kekudusan hidup merupakan prinsip yang tidak dapat ditawar.

Sementara itu, perbedaan tata cara ibadah, tradisi gereja, maupun kebiasaan dalam komunitas keagamaan tidak seharusnya selalu menjadi alasan untuk mempertajam perbedaan.

“Kalau tidak prinsip, jangan kita pertajam menjadi sesuatu yang prinsip. Gereja pecah di mana-mana karena mempertahankan hal-hal yang menurut saya bukan prinsip,” ujarnya.

Ia mencontohkan perbedaan antara gereja dengan tradisi Presbiterian dan gereja Karismatik. Keduanya dapat memiliki tata cara ibadah yang berbeda, tetapi perbedaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa salah satunya tidak memiliki Roh Kudus.

Menurutnya, hal yang lebih utama adalah memastikan bahwa pengajaran mengenai Yesus Kristus dan Allah Tritunggal tetap sesuai dengan dasar iman Kristen.

Jangan Mengubah Doa Menjadi Sekadar Permintaan

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Andi juga mengingatkan agar umat Kristen memahami kembali esensi doa. Menurutnya, doa tidak semata-mata menjadi sarana untuk meminta berbagai hal kepada Tuhan, tetapi merupakan bagian dari hubungan pribadi manusia dengan Allah.

Ia menekankan bahwa kehidupan doa seharusnya mendorong perubahan dalam diri orang percaya, termasuk kemampuan mengendalikan keinginan dan meninggalkan perilaku yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

“Doa yang pertama-tama menurut saya adalah jalinan hubungan pribadi saya dengan Tuhan,” katanya.

Ia juga mengajak umat untuk terus memperdalam pengenalan terhadap Yesus Kristus melalui pembelajaran Alkitab dan kehidupan doa. Dengan demikian, iman tidak berhenti pada pengakuan percaya, tetapi terus bertumbuh melalui pemahaman yang semakin mendalam.

Gereja Harus Konsisten Memberitakan Injil yang Benar

Menutup perbincangan, Dr. Andi mengingatkan bahwa orang percaya perlu memiliki kepekaan terhadap berbagai pengajaran yang berpotensi menjauhkan mereka dari Injil Yesus Kristus.

Ia mengajak gereja untuk terus mengajarkan dan memberitakan Injil yang benar, serta mempersiapkan jemaat agar memiliki pemahaman iman yang kuat, termasuk ketika menghadapi penderitaan atau tekanan karena keyakinannya.

“Gereja-gereja terus mendengungkan Injil yang benar ini, Injil Yesus Kristus, dengan cara dan tekniknya masing-masing,” pesannya.

Menurutnya, pengenalan yang benar terhadap Yesus Kristus menjadi pegangan penting agar umat tidak mudah digoyahkan oleh ajaran yang berbeda dari dasar iman Kristen.

Melalui pembahasan ini, program Let Us Reason Together mengajak pendengar untuk tidak hanya menerima setiap pengajaran secara langsung, tetapi juga mempelajarinya secara kritis berdasarkan Alkitab. Dengan demikian, gereja dapat tetap menjaga inti pemberitaan Injil, yakni karya penebusan dan pengampunan dosa melalui Yesus Kristus.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=lShdrS3SkdE