15 September 2026
Ilustrasi orang tua yang memberikan pelukan hangat dan penerimaan tulus tanpa syarat kepada anak di rumah

Efek Penerimaan dalam Pengasuhan: Anak Tak Harus Berprestasi untuk Merasa Dicintai

Radio Tangerang Heartline FM — Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anak. Namun, tanpa disadari, harapan orang tua terhadap prestasi, perilaku, maupun masa depan anak terkadang justru membuat anak merasa bahwa dirinya harus memenuhi standar tertentu agar dapat diterima dan dicintai.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam program Parenting with Heart yang mengangkat tema “The Acceptance Effect in Parenting” pada sabtu (12/9) . Dalam program tersebut, Ellyana Widodo dari tim parenting Yayasan Busur Emas, mengajak orang tua untuk melihat kembali cara mereka memperlakukan dan menerima anak.

Menurut Ellyana, persoalan penerimaan terhadap anak sering kali berkaitan dengan kemampuan orang tua menerima dirinya sendiri. Orang tua yang masih memiliki luka, kegagalan, atau pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan dapat tanpa sadar membawa pengalaman tersebut ke dalam pola pengasuhan.

Ketika Prestasi Anak Menjadi Ukuran Keberhasilan Orang Tua

Salah satu bentuk yang sering terjadi adalah ketika prestasi anak dijadikan ukuran keberhasilan orang tua. Anak yang memperoleh nilai tinggi atau memenangkan perlombaan dapat membuat orang tua merasa berhasil. Sebaliknya, ketika anak gagal atau tidak memenuhi harapan, orang tua dapat merasa kecewa bahkan menganggap dirinya sebagai orang tua yang gagal.

Padahal, kegagalan merupakan bagian dari proses belajar anak. Ellyana menjelaskan, orang tua perlu membedakan antara pribadi anak dan perilaku anak. Ketika anak melakukan kesalahan, perilakunya memang perlu diarahkan dan diperbaiki. Namun, kesalahan tersebut tidak seharusnya membuat anak mendapatkan label negatif terhadap dirinya.

Misalnya, ketika seorang anak belum menyelesaikan pekerjaan rumah, orang tua sebaiknya tidak langsung mengatakan bahwa anak tersebut malas. Sebaliknya, orang tua dapat mencari tahu penyebabnya dan mengajak anak mencari solusi bersama.

Anak Perlu Merasa Diterima, Bukan Hanya Dicintai

Menurut Ellyana, ada perbedaan antara orang tua merasa dirinya mencintai anak dan anak benar-benar merasakan bahwa dirinya dicintai dan diterima. Penerimaan bukan berarti membiarkan anak melakukan apa saja. Orang tua tetap dapat memberikan aturan, disiplin, teguran, dan konsekuensi ketika anak melakukan kesalahan.

Namun, penerapan disiplin tetap dapat dilakukan dengan menunjukkan bahwa kasih sayang orang tua tidak berubah. Dengan demikian, anak belajar bahwa dirinya tetap berharga meskipun mengalami kegagalan, melakukan kesalahan, atau belum mampu memenuhi harapan orang tua.

Penerimaan juga bukan berarti memanjakan anak. Ketika anak menginginkan sesuatu yang belum dapat diberikan, orang tua dapat mengakui perasaan kecewa anak tanpa harus selalu memenuhi keinginannya.

Begitu pula ketika anak melakukan pelanggaran. Orang tua tetap dapat memberikan konsekuensi sesuai kesepakatan, tetapi sekaligus membuka ruang komunikasi agar anak memahami alasan di balik konsekuensi tersebut.

Jangan Bandingkan Anak dengan Orang Lain

Kebiasaan membandingkan anak dengan saudara maupun teman juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Ketika anak terus dibandingkan berdasarkan nilai, prestasi, perilaku, atau pencapaian orang lain, anak dapat menangkap pesan bahwa dirinya belum cukup baik.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi cara anak melihat dirinya sendiri. Anak bisa menjadi terlalu kritis terhadap diri sendiri, sulit mengelola emosi, minder, menarik diri, atau justru menunjukkan perilaku agresif demi mendapatkan penerimaan dari lingkungan.

Anak yang merasa harus berprestasi agar dihargai juga berpotensi terus mencari pengakuan dari luar dirinya.

Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa setiap anak memiliki keunikan dan potensi yang berbeda. Prestasi tidak selalu harus diukur berdasarkan nilai akademik atau posisi juara.

Seorang anak mungkin memiliki kemampuan di bidang olahraga, seni, kreativitas, kepemimpinan, atau bidang lainnya yang tidak selalu terlihat dari pencapaian akademik.

Orang Tua Perlu Berdamai dengan Masa Lalu

Salah satu langkah penting dalam membangun pola asuh yang penuh penerimaan adalah melakukan refleksi diri.

Orang tua perlu bertanya kepada dirinya sendiri: pengalaman apa yang dahulu membuat saya merasa ditolak? Dalam kondisi seperti apa saya merasa diterima? Apakah ada perkataan atau perlakuan dari orang tua saya dahulu yang ternyata tanpa sadar saya ulangi kepada anak?

Kesadaran tersebut penting karena pola pengasuhan dapat menjadi cerminan kondisi emosional orang tua.

Ketika orang tua mampu mengenali luka dan pengalaman masa lalu, mereka memiliki kesempatan untuk merespons anak dengan cara yang berbeda. Orang tua tidak lagi harus bereaksi secara berlebihan setiap kali anak mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan.

Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah berhenti sejenak sebelum bereaksi.

Ketika emosi mulai meningkat, orang tua dapat mengambil waktu untuk memahami perasaannya sendiri sebelum berbicara kepada anak. Dengan begitu, respons yang diberikan tidak sekadar lahir dari kemarahan, kecemasan, atau kekecewaan.

Validasi Emosi Anak

Penerimaan juga dapat diterapkan melalui kemampuan orang tua memvalidasi emosi anak. Ketika anak sedih, marah, kecewa, atau menangis, orang tua tidak perlu buru-buru meminta anak menghentikan emosinya. Orang tua dapat terlebih dahulu menanyakan apa yang dirasakan anak dan menunjukkan bahwa perasaan tersebut dipahami.

Setelah emosi anak diterima dan komunikasi terbangun, barulah orang tua dapat memberikan arahan mengenai perilaku yang perlu diperbaiki. Pendekatan ini membantu anak belajar bahwa emosi dapat dikenali dan dikelola, sementara perilaku tetap memiliki batas dan konsekuensi.

Sudah Terlanjur Salah? Tidak Ada Kata Terlambat

Bagi orang tua yang merasa selama ini telah menerapkan pola pengasuhan yang kurang tepat, Ellyana menegaskan bahwa perubahan tetap dapat dilakukan. Orang tua dapat mengakui kesalahan kepada anak dan meminta maaf. Permintaan maaf tidak mengurangi kewibawaan orang tua. Sebaliknya, hal tersebut dapat menjadi contoh bahwa orang dewasa pun dapat melakukan kesalahan dan memiliki keberanian untuk memperbaikinya.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang bersedia belajar, mengakui kesalahan, dan berusaha membangun hubungan yang lebih sehat. Pada akhirnya, penerimaan terhadap anak dimulai dari penerimaan terhadap diri sendiri.

Cara orang tua memperlakukan dirinya akan ikut membentuk suasana emosional tempat anak bertumbuh. Karena itu, sebelum bertanya bagaimana cara menerima anak, orang tua perlu terlebih dahulu bertanya kepada dirinya sendiri: “Sudahkah saya menerima diri saya sendiri apa adanya?”

Sebab, kasih, penerimaan, dan rasa aman yang dirasakan anak dapat menjadi modal penting bagi mereka untuk bertumbuh, belajar dari kegagalan, dan mengembangkan potensi tanpa harus hidup dalam ketakutan bahwa kasih sayang orang tua akan hilang ketika mereka tidak memenuhi harapan.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=EL0DgaGNW_c

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: