07 August 2026
Ibu Gerna Situmeang MA dari Yayasan Busur Emas saat membagikan pemaparan materi mendidik anak mandiri atau penurut di program Parenting with Heart Radio Heartline

Mendidik Anak Mandiri atau Penurut? Orang Tua Perlu Menemukan Keseimbangannya

Radio Tangerang Heartline FM — Setiap orang tua tentu menginginkan anak yang mandiri, percaya diri, dan mampu mengambil keputusan dengan baik. Namun, dalam proses mendidik anak, sering muncul pertanyaan: apakah lebih penting membentuk anak menjadi mandiri atau menjadi anak yang penurut?

Dalam program Parenting with Heart di Heartline FM, narasumber Ibu Gerna Situmeang, MA(Counseling), ACC. Dari tim parenting Yayasan Busur Emas membahas pentingnya memahami bahwa anak mandiri dan anak penurut bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya dapat berjalan bersama apabila dibangun dengan pola asuh yang tepat.

Menurut Ibu Gerna, tujuan utama orang tua bukan hanya membuat anak mengikuti perintah, tetapi membantu anak memahami alasan di balik setiap tindakan yang dilakukan. Anak yang hanya menurut karena takut dimarahi atau dihukum belum tentu memiliki pemahaman yang kuat. Sebaliknya, anak yang memiliki kemandirian positif akan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai dan prinsip yang diyakininya.

Kemandirian bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba, melainkan sebuah proses yang perlu dilatih sejak kecil. Salah satu tahap penting terjadi pada usia 18 bulan hingga 3 tahun, ketika anak mulai menunjukkan keinginan untuk melakukan sesuatu sendiri. Pada masa ini, anak mulai ingin mencoba berjalan sendiri, makan sendiri, memilih sesuatu, hingga mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.

Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk belajar dan mencoba, tentunya tetap dengan pendampingan. Terlalu banyak melarang atau mengambil alih semua aktivitas anak dapat membuat anak merasa tidak mampu dan kehilangan kepercayaan diri.

Misalnya, ketika anak mencoba makan sendiri dan membuat makanan berantakan, orang tua dapat membimbing dengan sabar daripada langsung memarahi. Kesempatan untuk mencoba, gagal, dan memperbaiki diri merupakan bagian penting dalam membangun rasa percaya diri anak.

Tahapan berikutnya terjadi pada usia 6 hingga 12 tahun, yaitu masa anak mulai mengembangkan kemampuan, keterampilan, dan rasa tanggung jawab. Pada tahap ini, anak perlu belajar menyelesaikan tugas, mengatur perlengkapan sekolah, serta menemukan kemampuan yang dimilikinya.

Namun, apabila anak terlalu sering dibandingkan dengan orang lain, anak dapat mengalami rasa rendah diri (inferiority). Orang tua perlu membantu anak mengenali kekuatannya sendiri, bukan hanya melihat pencapaian orang lain.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=Fp8XP0q-R_4

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: