01 October 2026
Ilustrasi teknik relaksasi dan pernapasan untuk meredakan kecemasan berlebihan dan menjaga kesehatan mental

Mengenali dan Mengatasi Kecemasan Berlebihan

Radio Tangerang Heartline FM – Rasa cemas merupakan bagian dari kehidupan manusia. Namun, kecemasan yang muncul secara berlebihan dan terus-menerus dapat mengganggu kondisi fisik, mental, perilaku, hingga hubungan sosial seseorang.

Psikolog Sulastri Pardede menjelaskan, kecemasan pada dasarnya merupakan hal yang normal. Rasa cemas bahkan dapat membantu seseorang lebih waspada dan mempersiapkan diri menghadapi situasi tertentu.

Menurutnya, kecemasan yang masih dalam batas normal dapat mendorong seseorang melakukan persiapan dengan lebih baik. Misalnya, seseorang yang merasa cemas menghadapi ujian akan terdorong untuk belajar, mempersiapkan perlengkapan, serta mengatur waktu agar dapat hadir tepat waktu.

Namun, kecemasan perlu mendapat perhatian ketika sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.

“Ketika tingkat kewaspadaan ini lebih besar, itu yang menyebabkan orang mengalami hambatan,” ujar Sulastri.

Ia mengatakan, kecemasan berlebihan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah panic attack, yaitu episode kecemasan yang muncul secara tiba-tiba dengan intensitas yang kuat. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa jantung berdebar, sesak napas, bahkan merasa seperti akan meninggal.

Selain itu, terdapat kecemasan menyeluruh atau generalized anxiety, ketika seseorang terus-menerus memikirkan berbagai persoalan, seperti pekerjaan, keluarga, pasangan, maupun persoalan lainnya.

Kecemasan juga dapat muncul dalam bentuk fobia terhadap objek atau situasi tertentu, kecemasan sosial, gangguan obsesif-kompulsif (OCD), hingga gangguan stres pascatrauma atau PTSD setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis.

Sulastri menjelaskan, kecemasan berlebihan dapat menimbulkan sejumlah gejala fisik. Di antaranya sakit kepala, pusing, jantung berdebar, tangan berkeringat, sulit bernapas, otot tegang, sakit perut, mual, hingga gangguan tidur.

Dari sisi perilaku, seseorang yang mengalami kecemasan juga dapat cenderung menghindari orang, tempat, atau situasi tertentu yang dianggap memicu rasa takut. Kondisi tersebut, jika berlangsung terus-menerus, dapat mengganggu pekerjaan dan hubungan dengan orang lain.

Sementara dari sisi kognitif, kecemasan dapat membuat seseorang terlalu banyak memikirkan kemungkinan buruk yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Karena itu, Sulastri mengingatkan pentingnya kemampuan untuk kembali memusatkan perhatian pada kondisi saat ini.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memvalidasi perasaan. Menurutnya, seseorang tidak perlu merasa malu untuk mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja atau sedang mengalami kecemasan.

Langkah berikutnya adalah melakukan ventilasi, yakni mengungkapkan apa yang dirasakan kepada orang yang dipercaya. Bercerita dan mendapatkan perhatian dari orang lain dapat membantu seseorang merasa tidak menghadapi masalah seorang diri.

Selain bercerita, seseorang juga dapat mencatat situasi yang memicu kecemasan. Dengan mencatat kapan dan dalam kondisi seperti apa kecemasan muncul, seseorang dapat lebih memahami pola kecemasannya.

Sulastri juga memperkenalkan teknik grounding 5-4-3-2-1 untuk membantu seseorang kembali menyadari kondisi saat ini. Teknik tersebut dilakukan dengan memperhatikan benda yang ada di sekitar menggunakan pancaindra.

Selain itu, latihan pernapasan juga dapat digunakan untuk membantu menenangkan diri ketika kecemasan muncul.

“Yang paling penting adalah waktu kita cemas, kita terima dan jangan malu untuk mengakui bahwa kita tidak sedang baik-baik saja,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan penggunaan media sosial. Paparan informasi yang berlebihan, perbandingan kehidupan dengan orang lain, maupun kebutuhan mendapatkan pengakuan melalui media sosial dapat menjadi pemicu kecemasan bagi sebagian orang.

Karena itu, membatasi konsumsi berita atau media sosial yang memicu kecemasan serta membuat batasan terhadap lingkungan yang memberikan pengaruh negatif dapat menjadi salah satu langkah untuk menjaga kondisi psikologis.

Dalam konteks keluarga, Sulastri juga menekankan pentingnya orang tua melatih anak untuk mandiri dan mengambil keputusan. Anak yang terlalu dilindungi dan selalu bergantung pada orang tua dapat mengalami kesulitan ketika harus menentukan pilihan sendiri.

Orang tua, menurutnya, perlu memberikan ruang kepada anak untuk belajar menghadapi tantangan, sembari tetap memberikan pendampingan dan rasa aman.

“Situasi yang memang harus dihadapi, tapi kamu tidak sendirian,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan orang tua agar memberikan ruang bagi anak untuk bercerita tanpa langsung memberikan penilaian negatif. Ketika anak mulai terbuka, orang tua sebaiknya mendengarkan terlebih dahulu, memberikan perhatian, dan memahami persoalan dari sudut pandang anak.

Jika kecemasan atau trauma sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan profesional juga perlu dipertimbangkan.

Sulastri menegaskan, kecemasan bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Mengenali kondisi diri, berbicara dengan orang yang dipercaya, mengatur pola hidup, membatasi pemicu kecemasan, serta mencari bantuan profesional ketika diperlukan merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan mental.

Pada akhirnya, ia mengingatkan bahwa setiap orang dapat mengalami kecemasan. Yang penting adalah tidak membiarkan kecemasan mengendalikan kehidupan dan berani mencari dukungan ketika membutuhkannya.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=oE4wF8CLh8s

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: