Pengadopsian dalam Kristus: Dari Anak Adam Menjadi Anak Allah
Radio Tangerang Heartline FM – Pengadopsian dalam Kristus menjadi bagian penting dalam pembelajaran mengenai aplikasi karya pemilihan dan penebusan Allah bagi orang percaya. Melalui pengadopsian, orang yang telah berada di dalam Kristus menerima status baru sebagai anak-anak Allah serta memperoleh hak sebagai ahli waris kerajaan Allah.
Hal tersebut disampaikan Pendeta Dr. Christian J. Lasut dalam program Let Us Reason Together yang disiarkan Heartline Radio 100,6 FM. Pembahasan mengenai pengadopsian dalam Kristus merupakan bagian ketujuh dari rangkaian pembelajaran tentang aplikasi karya pemilihan dan penebusan Allah dalam Kristus.
Christian menjelaskan, sejumlah aspek keselamatan seperti pemilihan, penebusan, kelahiran baru, panggilan, pertobatan, iman, pembenaran, pengudusan, dan pengadopsian dibahas secara berurutan untuk memudahkan pemahaman. Namun, secara teologis, pengalaman tersebut terjadi dalam karya keselamatan Allah yang saling berkaitan ketika seseorang berada di dalam Kristus.
Menurutnya, pengadopsian secara harfiah berarti pengangkatan sebagai anak. Dalam konteks iman Kristen, pengadopsian merupakan tindakan kasih karunia Allah yang mengubah status orang percaya dari manusia yang berada dalam dosa menjadi anak-anak Allah.
“Adopsi adalah tindakan kasih karunia Allah yang mengubah status orang percaya dari hamba dosa dan musuh Allah menjadi anak-anak Allah,” jelas Christian.
Ia menjelaskan bahwa status sebagai anak Allah bukan diperoleh karena perbuatan, kekayaan, penampilan, maupun kemampuan manusia. Status tersebut diberikan berdasarkan kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus.
Berbeda dengan Pembenaran dan Pengudusan
Christian juga membedakan pengadopsian dari pembenaran dan pengudusan. Pembenaran berkaitan dengan perubahan status seseorang dari bersalah menjadi benar di hadapan Allah, sedangkan pengudusan berkaitan dengan kehidupan yang semakin dipisahkan dari dosa.
Sementara itu, pengadopsian memberikan status baru sebagai anak Allah. Orang yang telah berada di dalam Kristus bukan hanya dinyatakan benar dan dikuduskan, tetapi juga diterima sebagai bagian dari keluarga Allah.
Ia menyebut pengadopsian sebagai tindakan Allah yang definitif, terjadi satu kali dan memiliki konsekuensi kekal. Karena itu, status sebagai anak Allah berakar pada kesetiaan Allah, bukan pada kemampuan manusia mempertahankan status tersebut.
Dalam penjelasannya, Christian merujuk antara lain pada Roma 8, Galatia 4, Efesus 1, dan Yohanes 1 sebagai dasar Alkitab mengenai status orang percaya sebagai anak-anak Allah.
Yohanes 1:12, misalnya, menjadi salah satu dasar yang menunjukkan bahwa mereka yang menerima Kristus dan percaya kepada-Nya diberikan hak untuk menjadi anak-anak Allah.
Dari Anak Adam kepada Anak Allah
Dalam sesi dialog bersama penyiar, Christian menjelaskan bahwa istilah “diadopsi” bukan berarti orang percaya merupakan “anak pungut” dalam pengertian yang merendahkan.
Ia menerangkan bahwa manusia pada awalnya berada dalam status keturunan Adam yang telah jatuh ke dalam dosa. Namun, ketika seseorang dipersatukan dengan Kristus melalui iman, status tersebut berubah.
“Semua orang yang ada dalam Kristus terhisab menjadi anak-anak Allah atau teradopsi, dinyatakan sah juga sebagai anak-anak Allah,” katanya.
Menurut Christian, dasar pengadopsian tersebut adalah karya Kristus yang telah menyelesaikan persoalan dosa dan upah dosa. Karena itu, status baru orang percaya tidak didasarkan pada kelayakan dirinya sendiri, melainkan pada karya Kristus.
Ia menegaskan bahwa manusia hanya berada dalam dua posisi, yakni di dalam Adam atau di dalam Kristus. Di dalam Adam, manusia berada dalam dosa dan kematian. Sedangkan di dalam Kristus, manusia memperoleh status baru sebagai orang yang benar, kudus, dan anak-anak Allah.
Memiliki Identitas Baru
Pengadopsian dalam Kristus juga memberikan identitas baru bagi orang percaya. Christian mengatakan bahwa identitas tersebut tidak ditentukan oleh penilaian dunia, melainkan oleh status sebagai anak Allah.
Sebagai anak Allah, orang percaya memiliki hubungan yang bersifat pribadi dengan Allah dan dapat memanggil-Nya sebagai Bapa. Hubungan tersebut juga memberikan kepastian bahwa orang percaya berada dalam pemeliharaan dan kasih Bapa.
Untuk itu, Christian mengingatkan agar orang percaya tidak hidup dalam ketakutan, termasuk ketakutan menghadapi kematian. Menurutnya, bagi orang yang berada di dalam Kristus, kematian dipandang sebagai pintu untuk bertemu dengan Bapa.
Selain memiliki hak sebagai anak, orang percaya juga memiliki tanggung jawab. Christian menyebut beberapa di antaranya adalah hidup menyerupai Kristus, saling mengasihi, melayani, menanggung beban bersama, taat beribadah, serta menjadi saksi Kristus bagi dunia.
Hidup Semakin Menyerupai Bapa
Status sebagai anak Allah, lanjut Christian, seharusnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak Allah dipanggil untuk menunjukkan karakter yang mencerminkan Bapa, seperti kasih, pengampunan, keadilan, kemurahan, dan kehidupan yang kudus.
Ia menggambarkan hal tersebut seperti hubungan orang tua dan anak. Seorang anak bukan hanya diharapkan memiliki kemiripan secara fisik dengan orang tuanya, tetapi juga semakin menunjukkan karakter yang mencerminkan keluarganya.
Karena itu, pengadopsian dalam Kristus tidak berhenti pada perubahan status. Status tersebut seharusnya menghasilkan kehidupan yang semakin menyerupai Kristus dan mencerminkan karakter Allah.
Christian juga mengingatkan bahwa tantangan kehidupan tidak akan pernah sepenuhnya hilang. Namun, orang percaya dipanggil untuk tetap beriman dan mempercayakan diri kepada Allah.
Ia menekankan pentingnya menyangkal diri dan memikul salib sebagai bagian dari kehidupan mengikut Kristus. Alkitab juga disebut sebagai “manual book” bagi orang percaya untuk menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak Allah.
Pengharapan Menuju Pemuliaan
Pengadopsian dalam Kristus merupakan salah satu bagian dari rangkaian karya keselamatan Allah. Christian menjelaskan bahwa setelah pembenaran, pengudusan, dan pengangkatan sebagai anak, orang percaya juga menantikan pemuliaan.
Menurutnya, Allah tidak meninggalkan orang percaya sendirian. Roh Kudus hadir untuk menyertai dan menolong, sementara Alkitab diberikan sebagai standar kehidupan.
Christian mengajak umat percaya untuk menjalani identitasnya sebagai anak-anak Allah dengan terus bergantung kepada Roh Kudus dan hidup berdasarkan firman Tuhan.
“Waktu kita berada dalam Kristus, kita menjadi ciptaan baru,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa orang percaya dipanggil untuk menjadi terang di tengah kehidupan masyarakat. Semakin banyak orang yang sungguh-sungguh hidup dalam Kristus, semakin besar pula dampak kesaksian iman yang dapat diberikan bagi lingkungan dan bangsa.
Pembelajaran mengenai aplikasi karya pemilihan dan penebusan dalam Kristus tersebut masih akan berlanjut. Sesi berikutnya akan membahas aspek pemuliaan dalam Kristus sebagai bagian akhir dari rangkaian pembelajaran tersebut.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
